32 Faidah dalam Bulan Syaban

oleh : Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid hafizahullah

Faidah 1 :
Bulan Sya’ban adalah bulan ke delapan dari bulan-bulan Hijriyah, antara bulan Rajab dan Ramadhan.
Dikatakan demikian, karena orang Arab mereka berpencar-pencar dalam bulan tersebut untuk mencari air.
Dan dikatakan sya’ban : karena suku/kabilah berpencar dalam menghadapi serangan/peperangan.
Dan dikatakan sya’ban : karena percabangan, atau bulan yang muncul antara bulan Rajab dan Ramadhan.
(Fathul Bari:4/213)

Faidah 2 :
Bulan Sya’ban adalah bulan yang diberkahi, manusia kebanyakan melalaikannya, antara rojab dan romadhon, dan di sunnahkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya.

Dari Usamah bin Zaid rodhiyallahu anhu berkata :
“Aku berkata : Wahai Rasulullah! Tidaklah aku melihat engkau berpuasa dalam sebulan (banyak berpuasa) dari bulan2 lain seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?!
Nabi bersabda : Itulah bulan yg kebanyakan manusia lalai yaitu antara Rajab dan Ramadhan, dan dia adalah bulan diangkatnya amal kepada Allah azza wa jalla, dan aku suka ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa”.
(HR. Nasai dan di shahihkan Al-Albani)

Faidah 3 :
Adalah Nabi berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban dan tidaklah berpuasa seperti pada bulan itu (Sya’ban) dibanding bulan-bulan yang lainnya.

Ummul Mukminin Aisyah berkata : Tidaklah aku melihat Rasululah menyempurnakan puasanya kecuali bulan Ramadhan, dan tidaklah aku melihat beliau pada satu bulan banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.

(HR. Bukhari:1969 dan Muslim no.1156, dan lafadznya Muslim)

Dan dalam riwayat lainnya : Adalah beliau berpuasa Sya’ban seluruh (harinya), adalah beliau berpuasa pada (seluruh hari) bulan Sya’ban kecuali sedikit. (HR. Bukhari no.1970 dan Muslim no.1156)

Faidah 4 :
Tidaklah Nabi berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali pada Sya’ban dan Ramadhan, dan adalah Nabi banyak berpuasa pada bulan Sya’ban dan menyusulnya dengan bulan Ramadhan.
Sebagaimana perkataan Ummul Mukminin Ummu Salamah : Tidaklah aku melihat Nabi berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali Sya’ban dan Romadhon.
(HR. Tirmidzi no.736 dan Nasai no.2352, dan di shahihkan oleh Al-Albani)

Faidah 5 :
Manusia kebanyakan lalai dari puasa bulan Sya’ban, karena sebelumnya didahului dengan bulan haram yaitu bulan Rojab, dan puasa pada bulan-bulan haram disunnahkan, tanpa ada keyakinan/keutamaan yang khusus untuk bulan Rajab dan di ikuti dengan bulan Ramadhan, maka manusia lalai dari Sya’ban dengan keduanya (Rajab dan Ramadhan), padahal di sunnahkan diperintahkan untuk puasa pada bulan Sya’ban.

Faidah 6 :
Sabda Nabi : “Itu bulan yang manusia melalaikannya yaitu antara Rojab dan Romadhon”.
Di dalam hadits tersebut terdapat isyarat yang halus pada sesungguhnya seyogyanya memanfaatkan waktu lalai manusia tersebut dengan ketaatan, dan dari apa yang di cintai dan di ridhoi oleh Allah. Oleh karena itu, para salaf menyukai melakukan amalan sunnah antara Maghrib dan Isya, dan mereka mengatakan : bahwa itu waktu-waktu yang dilalaikan, melakukan sholat malam pada sepertiga malam yang kebanyakan manusia melalaikannya dari mengingat kepada-Nya. (HR. Tirmidzi dan Nasai)

Nabi bersabda : “Sedekatnya Rabb dengan seorang hamba adalah pada pertengahan malam yang akhir, maka jika engkau bisa mengingat-Nya pada waktu itu maka lakukan”.

Oleh karena itu di sunnahkan mengingat Allah pada tempat-tempat yang kebanyakan manusia lalai, seperti di pasar dan majelis sia-sia. (Lathoiful Maarif, Ibnu rajab)

Faidah 7 :
Faidah beramal pada waktu yang lalai : sesungguhnya seorang muslim ketika menghidupkan waktu yang kebanyakan manusia lalai darinya maka dapat menyembunyikan amalnya, menyembunyikan amalan ketaatan sunnah lebih dekat kepada ikhlas, karena seorang muslim tidak aman dari dirinya terhadap riya ketika men-jaharkan/menampakkan amal sholihnya.

Faidah 8 :
Puasa pada bulan syaban lebih utama dari puasa bulan-bulan haram, karena bulan sya’ban bersama Ramadhan kedudukannya seperti amalan sunnah rawatib ketika bersama amalan wajib. Sebagaimana sunnah rawatib lebih utama dari amalan sunnah mutlak dalam sholat wajib, maka puasa sebelum ramadhan dan sesudahnya lebih utama di bandingkan puasa yg jauh dari bulan tersebut (jauh dari bulan ramdahan)

Faidah 9 :
Adapun sabda Nabi : “Puasa yang lebih utama setelah ramadhan adalah pada bulan-bulan Allah haram, dan sholat yg utama setelah wajib adalah sholat malam”.
Maka ini adalah tathowu mutlak, maka tathowu mutlak pada ibadah puasa, yg utamanya adalah pada bulan Muharam kemudian pada bulan-bulan haram, sebagaimana ibadah tathowu mutlak dalam sholat adalah sholat malam.
Adapun puasa syaban maka di ikuti puasa ramadhan dan di ikuti dengannya sebagaimana puasa enam hari pada bulan Syawal, maka ini lebih utama daripada amalam tathowwu mutlak.

Sebagaimana sholat rawatib setelah sholat wajib maka lebih utama dibandingkan dengan sholat malam, demikian seperti pendapat jumhur ulama, karena menyertai/mengikuti amalan wajib.
(Lathoiful Ma’arif hal.34, 129)

Faidah 10 :
Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal dalam setahun kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits : Dan dia adalah bulan diangkatnya amal kepada Rabbul alamin, dan aku suka ketika diangkat amalku dan aku dalam keadaan berpuasa.
Nabi suka ketika diangkat amalnya dan beliau dalam keadaan berpuasa, karena dapat dikabulkan/terima amal dan diangkat derajat, maka hendaknya kaum muslimin mendasarkan/mengikuti Nabi mereka sholallahu alaihi wassalam dalam hal ini, dan memperbanyak puasa dalam bulan Sya’ban.

Faidah 11:
Diangkatnya amal dan dipalingkan/disetorkan amal kepada Allah ada tiga jenis, sebagaimana menunjukkan atas hal ini pada nash syar’i : (Tahdzibub Sunan Abu Dawud:3/199, Ibnul Qoyyim), (Thoriqul Hijrotain hal.75) dan (Lathoiful Maarif hal.126)
Jenis pertama :
Diangkatnya harian, sebanyak dua kali, pertama pada malam hari dan kedua siang hari. Sebagaimana dalam hadits : Diangkatnya amal malam sebelum amal siang dan amal siang sebelum amal malam. (HR. Muslim no.179)
Diangkatnya amal harian pada waktu akhirnya, amal malam hari pada akhirnya; maka para malaikat meletakkan/menyerahkan amal malam pada akhirnya yaitu awal siang, dan meletakkan amal siang setelah mengantinya pada awal malam, sebagaimana disebutkan dalam hadits :
“Para malaikat bergantian dengan malaikat malam dan siang, mereka berkumpul pada sholat subuh dan ashar”. (HR. Bukhari no.555 dan Muslim no.632)

Maka siapa yang berada dalam ketaatan diberikan berkah baginya dalam rizki dan amalnya. (Fathul Bari:2/37, Ibnu Hajar Al-Asqolani)

Oleh karena itu Adh-Dhohak : dia menangis pada akhir siang dan mengatakan : “Aku tidak tahu, apa yang diangkat dari amalku”. (Lathoiful Maarif hal.127)

Jenis kedua : diangkat pada mingguan.
Diangkatnya amal secara mingguan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada hari senin dan kamis. Sebagaimana dalam hadits Nabi :
“Diangkatnya amal-amal manusia pada setiap minggunya sebanyak dua kali : pada hari senin dan kamis , maka diampuni pada setiap hamba mukmin, kecuali seorang yang antara dia dan saudaranya bermusuhan/berseteru maka dikatakan : tinggalkan mereka berdua sampai mereka kembali/berdamai”. (HR. Muslim no.36)

Ibrahim An-Nakhai menangis kepada istrinya pada hari kamis dan istrinya juga menangis, dia mengatakan : “Hari ini di berikan/diangkat amal-amal kita kepada Allah azza wa jalla“. (Lathoiful ma’arif hal.127)

Jenis ketiga :
Daingkatnya amal pada setahun sekali, dan diangkatnya amal setahun tersebut pada jumlah keterangan yg banyak yang menunjukkan pada bulan Sya’ban, sebagaimana hadits Nabi diatas. Kemudian diangkatnya amal seluruh umur manusia setelah kematian, maka ketika tiba ajal, diangkatnya amal seluruhnya kepada Allah dan terlipat dalam satu lembar amal, dan ini di angkat yang terakhir kalinya.

Faidah 12 :
Pada setiap diangkatnya amal terdapat hikmah yang Rabb kita mengetahuinya, dan dari Allah risalah tersebut, dan dari Rasulullah menyampaikan dan bagi kita menerimanya.

Faidah 13 :
Disunnahkan bagi seorang muslim menambah amal ketaatan pada waktu-waktu diangkatnya amal kepada Allah; maka puasa pada senin kamis-sebagaimana petunjuk Nabi, dan memperbanyak puasa sya’ban, dan menambah amal sholeh pada malam dan siangnya dan amalan yg mendekatkan diri kepada Allah dari amal yang dicintai dan di ridhoi-Nya.

Faidah 14:
Hendaknya seorang muslim mengingat bahwa amalannya diangkat kepada Allah pada bulan ini – yang baiknya dan jeleknya, maka hendaknya mengingatkan pada dirinya diangkatnya amal pada Rabb-nya, dan (amalan) apa menjadi sebab di tambahnya pahala ataupun jeleknya hukuman, dan (amalan) apa yang bisa menjadi sebab di terimanya amal dan di tolaknya amal – semoga Allah melindungi!-.

Faidah 15 :
Sya’ban seperti mukadimah untuk Ramadhan, dan seperti latihan untuk berpuasa di dalam Ramadhan. Maka di syariatkan didalamnya apa yang di syariatkan di dalam Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Quran; Untuk bersiap-siap menghadapi ramadhan dan memperkirakan diri untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Maka bersegera melakukan ketaatan pada bulan Sya’ban dan seorang muslim/muslimah hendaknya menghitung/mempersiapkan bekal untuk ramadhan, sehingga ketika masuk ramadhan menjadi berat, akan tetapi dengan puasa Sya’ban sebelumnya, menjadikan seorang muslim merasakan kelezatan puasa, maka ketika masuk puasa Ramadhan dengan kuat dan rajin.
(Lathoiful Ma’arif hal.134)

Faidah 16:
Sebagian manusia mengeluh/mengadu kesulitan puasa dan sholat serta menyelesaikan bacaan Al-Quran di Ramadhan, karena mereka tidak berpuasa dan tidak sholat kecuali pada romadhon, maka dimana latihan dan persediaan (apa yg telah kita siapkan) untuk Ramadhan pada bulan Sya’ban?

Dan umumnya jiwa manusia ketika istirahat dan tidur, kesulitan baginya untuk bangun dan terganggu tanpa ada latihan atau persiapan (sebelumnya) !

Sebagaimana perkataan Abu Bakar Al-Balkhi rahimahullah : “Bulan Rajab adalah bulan menanam, dan bulan Sya’ban adalah bulan mengairi tanaman, dan bulan ramadhan adalah bulan panen”.
Dan perkataan beliau : “Permisalan bulan Rajab seperti angin, bulan Sya’ban adalah seperti awan, dan ramadhan seperti hujan”. (Lathoiful Maarif hal 121)
Maka siapa yang tidak menanam pada bulan Rajab dan mengairi pada bulan Sya’ban maka bagaimana mendapatkan hasil panen pada Ramadhan?!
Dan bagaimana dia tamak serta mendapatkan kelezatan taat dan ibadah dalam ramadhan, dan dia tidak mendahului dirinya (dengan berbuat ketaatan) sebelum Ramadhan ?!
Maka hendaknya kita bersegera sebelum berlalunya waktu, berkata Yahya bin Muadz rahimahullah : Tidaklah aku menangisi diriku ketika akan meninggal (ketika sakaratul maut), sesungguhnya aku menangisi atas hidupku yang telah berlalu”.
(Hilyatul Auliya (10/51), Siyar Alamin Nubala(13/15))

Faidah 17 :
Adalah para salaf mendedikasikan/mengkosongkan waktunya, digunakan untuk membaca Al-Quran pada bulan Sya’ban. Dan mereka mengatakan : “Bulan Sya’ban adalah bulan membaca Al-Quran”. (Lathoiful Ma’arif hal.135)

Faidah 18 :
Sya’ban memberikan peluang memberikan bantuan/pertolongan kepada orang fakir dan miskin dan memberikan sedekah kepada mereka, untuk memperkuat hal tersebut untuk puasa ramadhan dan sholat malamnya.

Faidah 19 :
Dari perkara yang salah adalah kebanyakan manusia memberikan zakat mereka pada rajab atau syaban dan mengakhirkannya pada bulan ramadhan. Mereka menyangka hal itu lebih utama dan memiliki pahala yg banyak!
Maka mengakhirkan zakat (mal) tidak boleh, ketika telah sampai hal dan nishabnya, karena hal ini kedhaliman kepada org fakir dengan mengakhirkan hak mereka, hal ini termasuk bentuk maksiat kepada Rabbul alamin.
Akan tetapi tidak boleh bergegas-gegas menyampaikan zakat sebelum waktunya karena dgn alasan membantu kaum fakir.

Faidah 20 :
Siapa yang masih mempunyai qadha puasa ramadhan tahun kemarin, wajib baginya qadha di bulan Sya’ban sebelum masuk ke Ramadhan, dan tidak boleh baginya mengakhirkan qadha-nya setelah Ramadhan tanpa ada udzur/halangan.
Berkata Ummul Mukmimin Aisyah rodhiyallahu anha : “Adalah aku berpuasa pada bulan Ramadhan, maka ketika tidak mampu maka aku meng-qadha nya pada bulan Sya’ban”. Berkata rawi : di karenakan sibuk bersama Nabi
(HR Bukhari no.1950 dan Muslim no.1950)

Berkata Al-hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : Dan bersegera dalam hal ini di Syaban : sesungguhnya tidak boleh mengakhirkan qadha sampai masuk ramadhan berikutnya.

Faidah 21 :
Siapa yang mendapatkan sesuatu dari qadha ramadhan, dan tidak bisa meng-qadhanya sampai masuk padanya ramadhan berikutnya :
1. Jika terdapat udzur yang terus menerus maka baginya qadha setelah ramadhan yang kedua, hal ini seperti orang yang sakit terus-menerus sampai masuk ramadhan berikutnya maka tidak ada dosa baginya karena mendapatkan udzur, dan tidak ada baginya kecuali qadha saja. Maka dia meng-qadha jumlah hari yang dia tinggalkan/jumlah hari yg dia berbuka.
2. Jika dia tidak mempunyai udzur maka berdosa baginya ketika mengakhirkan qadha puasa. Sepakat para ulama bahwa dia harus meng-qadha. Namun berbeda pendapat ulama : apakah baginya juga kafarah karena mengakhirkannya atau tidak ?
Maka dijawab : meng-qadha, dan memberi makanan pada hari dia berbuka pada setiap harinya kepada orang miskin. Hal ini pendapat Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad, juga atsar dari sebagian para sahabat.
Pendapat lainya : qadha, namun tidak perlu memberi makan kepada orang miskin, ini adalah pendapat Abu Hanifah dan juga yg dipilih Syaikh Utsaimin rahimahullah (Al-Mughni (4/400), Ibnu Qudamah (6/366), Majmu An Nawawi, Lathoiful Maarif hal.134, Syarhul Mumti’ (6/445))

Faidah 22 :
Tidak boleh memperingati malam nisfu sya’ban, atau mengkhususkan malam itu dengan sholat atau mengkhususkan hari itu dengan puasa atau dengan ziarah kubur atau bersedekah kepada orang yang telah meninggal, atau dengan jenis ibadah tertentu, akan tetapi hal itu adalah perkara baru dalam agama.
Dan tidak ada kekhususan keutamaan pada malam nisfu sya’ban, yg ada dalam hadits shahih, akan tetapi hadits yang menjelaskannya, termasuk apakah dhoif atau maudhu’.
Dan hadits yang datang tentang sholat pada malam harinya, termasuk apakah dhoif atau maudhu, dan tidakada riwayat yang pasti dari Nabi dan para sahabat rodhiyallahu anhum.

Faidah 23 :
Siapa yang mempunyai kebiasaan sholat malam, maka hendaknya dia berdiri untuk sholat pada malam nisfu sya’ban seperti pada malam-malam sebelumnya yang dia biasa sholat malam, tanpa ada keyakinan keutamaan/kekhususun didalamnya, dan dia menambah dan bersungguh-sungguh didalamnya, maka hal ini tidak mengapa.

Faidah 24 :
Tidak disyariatkan menyendirikan puasa pada hari nisfu sya’ban, kecuali hari itu bertepatan dengan kebiasaan dia yang berpuasa, seperti hari senin atau kamis, tanpa ada keyakinan keutamaan atau kekhususan di dalamnya. Dan hadits yang menjelaskan tentang anjuran untuk berpuasa pada hari nisfu sya’ban adalah dhoif dan tidak shahih.

Faidah 25 :
Adapun hari nisfu sya’ban bertepatan dengan jumlah hari yang ada pada ayamul bidh, yang disunahkan berpuasa setiap bulan (13,14,15), maka siapa yang berpuasa pada hari 13 dan 14, maka sesuai dengan sunnah, tanpa ada keyakinan ada keutamaan pada hari nisfu syaban.
Adapun siapa yang bersendiri berpuasa, maka tidak/janganlah dikatakan : sesungguhnya berpuasa pada nisfu syaban dari ayamul bidh, akan tetapi tidaklah dia menyendirikannya kecuali dengan berkeyakinan keutamaan puasa pada hari nisfu syaban selain hari tersebut, dan ini terlarang.
(Iqtidha Sirathal Mustaqim:2/138, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah; Lathoiful Maarif hal.136; Fatawa Syaikh Ibnu Baz:1/186; Fatwa Syaikh Ibnu Jibrin)

Faidah 26 :
Adapun hadits : “Ketika sampai pertengahan Syaban maka jangan kalian berpuasa”.
Maka ini di dhaifkan oleh para ulama, dan berkata para imam : hadits munkar.
Dan dari mereka antara lain : Abdurrahman bin Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah Ar-Rozi dan selain mereka. (Lathoiful Ma’arif hal.135)
Maka atas hal ini, tidaklah dilarang berpuasa setelah pertengahan syaban, kecuali sebelum Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, maka itu terlarang.

Faidah 27 :
Atas perkataan yang membenarkan hadits dan melarang berpuasa setelah pertengahan syaban, maka itu madzab syafi’iyah – maka dikecualikan dari pelarangan ini : Siapa yang biasa dalam berpuasa, seperti seorang yang biasa berpuasa pada senin dan kamis, maka bisa berpuasa keduanya walaupun setelah pertengahan syaban.
Dan siapa yang memulai puasa sebelum pertengahan syaban, dan bersambung dgn sesudahnya maka hal ini tidak termasuk pelarangan ini. Karena Nabi : “Adalah beliau berpuasa Sya’ban seluruhnya, adalah beliau berpuasa kecuali sedikit (berbuka)”.  (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no.1152) dan lafadz bagi Imam Muslim.

Dan dikecualikan juga : siapa yang berpuasa setelah nisfu syaban untuk qadha ramadhan.
(lihat Majmu Nawawi:2/399; Riyadhus Shalihin hal:354 dan Tahdzib Sunan Abi Dawud:2/20, Ibnul Qoyyim) dan Lathoiful Maarif hal.136.

Faidah 28 :
Diharamkan mendahului sebelum Ramadhan dengan puasa tathowwu dengan sehari atau dua hari, kecuali siapa yang sudah biasa berpuasa, atau qadha nadzar atau qadha dari ramadhan sebelumnya atau menyambung dengan apa sebelumnya.
Hadits : “Janganlah kalian mendahului romadhon dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seorang yang biasa berpuasa maka berpuasalah”.  (HR. Bukhari no.1914 dan Muslim no:1082)

Faidah 29 :
Puasa pada akhir bulan sya’ban ada tiga keadaan :
Pertama : berpuasa dengan niat untuk waspada/hati-hati terhadap ramadhan, maka ini terlarang.
Kedua : berpuasa dengan niat nadzar atau qadha ramadhan atau kafarah dan semisalnya maka hal ini boleh.
Ketiga : berpuasa dengan niat tathowwu mutlak, maka ini terlarang, kecuali seorang yang bertepatan dengan kebiasaaannya berpuasa, atau mendahului baginya berpuasa syaban sebelum akhir dua hari dan menyambungnya dengan ramadhan.
(Syarah Nawawi lil Shahih Muslim dan Lathoiful Maarif)

Faidah 30 :
Hikmah dilarangnya berpuasa sebelum ramadhan, sehari atau dua hari : karena (seperti) menambah ramadhan yang bukan termasuk di dalamnya, peringatan dari apa yg ahlu kitab melakukan puasa mereka, mereka menambah dengan pemikiran dan hawa nafsu mereka.
Dan juga, karena sebagai pemisah antara puasa wajib dan sunnah, dan sesungguhnya jenis pemisah antara wajib dan sunnah di syariatkan, oleh karena itu Nabi melarang memisah antara sholat wajib dan sholat sunnah sampai memisahkan diantaranya dengan perkataan atau berpindah tempat. (Shahih Muslim no.883)

Faidah 31 :
Hari syak adalah tgl 30 syaban, ketika mendung dan manusia tidak melihat hilal, dikatakan demikian karena ragu dalam hal ini : apakah hari akhir bulan syaban atau awal ramadhan?
Maka diharamkan puasa kecuali siapa yang kebiasaan puasa, atau bertepatan dgn hari senin dan kamis dan biasa berpuasa dalam dua hari tsb; karena ada hadits Nabi : “Siapa yg puasa pada hari syak, maka dia telah bermaksiat pada Abul Qosim”.
(HR. Bukhari muallaq dgn shighoh jazm, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah dan dishahihkan Al-Albani)

Faidah 32 :
Pada bulan Syaban terjadi beberapa peristiwa penting, antara lain :
1. diwajibkan puasa ramadhan pada tahun 2 H.
2. perpindahan kiblat dari baitul maqdis kemasjidil haram tahun 2 H (dan dikatakan : akan tetapi itu terjadi pada rajab dan dikatakan : terjadi di jumadil akhir).
3. pernikahan Nabi dengan hafshoh pada 3 H.
4. perang bani mustahaliq pada tahun 5 H.
5. perang tabuk pada 9 H, dan dikatakan di rajab, dan kembalinya Nabi ke madinah pada bulan Ramadhan, ada yg mengatakan : pada bulan syaban.
Dan selain dari itu.

Semoga Allah memberikan kita taufik, menyampaikan kita pada segala hal yang dicintai dan di ridhoi-Nya, dan menghantarkan kita pada bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiyat dan penuh keimanan. Segala puji hanyalah milik Allah semata.

Sumber : https://www.almunajjid.com/11102

Leave a Comment