47 Faidah Idul Fitri

oleh : Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid hafizahullah

1. Hari raya Ied merupakan perayaan Islam, pada hari itu menampakkan di dalamnya bentuk ibadah secara nyata/dhohir, dan nampak di dalamnya dengan berkumpul banyak jiwa.

2. Dinamakan Ied karena kembali dan berulang, karena kembali pada setiap tahun dengan kegembiraan. Dan dikatakan : optimis untuk kembali atas siapa yang menemuinya. Dan nama yang kembali pada kegiatan yang berkumpul setiap tahun.

3. Hari raya Ied merupakan syiar yang terjadi pada setiap umat dan terjadinya dengan menghubungkan naluri/hati umat manusia yang alami, mengumpulkan mereka dan menampakkan kebahagiaan serta kegembiaraan.

4. Kaum muslimin mempunyai tiga jenis hari raya :
– Ied yang berulang setiap minggunya, yaitu pada hari Jumat.
– Dua Ied yang terjadi dua kali setiap tahunnya yaitu idul fitri dan idul adha.
Dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu berkata : Nabi datang ke Madinah, penduduk Madinah mempunyai dua hari raya untuk bersenang-senang (bermain-main) didalamnya. Maka beliau berkata : Apa dua hari raya ini?, maka mereka menjawab : Kami bermain-main didalamnya pada masa jahiliyah.
Maka Nabi berkata : Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik yaitu hari raya Idul Adha dan idul Fitri.
(HR. Abu Dawud no.959)

5. Hari raya Ied kaum muslimin merupakan syiar dari Allah, yang seharusnya kita menghidupkannya, mengetahui maksudnya dan menyebarkan maknanya. Dan menunjukkan akan hal ini adalah sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam yang berbunyi : “Setiap kaum mempunyai hari raya Ied dan ini adalah Ied kita”.
Maka kaum muslimin mengkhususkan dengan dua hari raya ini, tidak hari raya selainnya.
Dan tidak seharusnya bagi kaum muslimin menyerupai orang-orang kafir dan musyrikin kepada sesuatu yang khusus pada hari-hari raya mereka.

6. Hari raya kaum muslimin merupakan bentuk atau cara untuk mendekat kepada Allah azza wa jalla, di dalamnya mengagungkan Allah, menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan atas nikmat ini, dan dia merupakan bentuk ibadah yang agung.

7. Idul Fitri datang setelah puncak dari bulan puasa dan sholat, sedangkan idul adha berada ditengah syiar haji besar dan sebelumnya hari arafah sebagai seutama hari. Maka keduanya berkaitan dengan rukun dari rukun2 islam (yaitu puasa dan haji), maka keduanya dilakukan setelah melakukan ketaatan kepada Allah rabbul alamin.

8. Perkara utama pada hari Ied : mengeluarkan zakat fitrah sebelum sholat Ied, dan itu sebagai pembersih/menyucikan orang yang berpuasa dan memberikan makan untuk orang miskin.
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada penduduk Mesir dan mengatakan agar mengakhiri Ramadhan dengan sodaqoh fitri (zakat fitri) dan istighfar, karena zakat fitri akan mensucikan orang yang berpuasa dan istighfar akan menutup/menambal segala apa yang kurang dari ibadah puasa.

9. Diharamkan puasa pada hari raya Ied.
Hadits dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi melarang dari berpuasa pada dua hari raya yaitu idul fitri dan idul adha. (HR. Muslim)

10. Termasuk sunnah yang utama ketika hari Ied adalah : mengucap takbir sebagaimana firman Allah dalam surat Al- Baqarah : 185, yg artinya : “Dan sempurnakan kalian pada hari Ied, bertakbir kepada Allah atas apa yang ada pada kalian agar kalian termasuk orang yang bersyukur”.

11. Termasuk yg di syariatkan adalah takbir mutlak di mulai dari terbenam matahari pada malam idul fitri sampai imam keluar untuk sholat.

12. Termasuk sifat dari takbir sebagaimana dari para salaf : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa illaha illah Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahi hamd.
Dan ada riwayat, kalimat Allahu Akbar dibaca tiga kali, dan sebagian salaf dengan tambahan : ‘ala ma hada.

Dan riwayat lain dgn lafadz : Allahu Akbar kabirau, Allahu akbar kabirau, Allahu Akbar wa ajjala, Allahu Akbar walillahi hamd.

13. Disunnahkan untuk meninggikan suara ketika takbir, untuk menampakkan syiar islam, dan di sunnahkan menampakkan takbir ketika pada hari Ied, di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan, baik bagi orang yg musafir atau mukim.
Diriwayatkan dari Al-Faryabi dengan sanad yang shohih dari Abu Abdirahman As-Sulami berkata : “Adalah mereka (para sahabat) dengan lebih pada idul fitri dibanding idul adha, maksudnya adalah pada takbir”.

14. Tidak di syariatkan takbir dengan bersama-sama dengan satu suara, ini merupakan perkara yang baru yang menyelisihi salafuna sholih, namun yang di inginkan : bertakbir dengan satu suara sendiri-sendiri.

15. Termasuk petunjuk Nabi dalam sholat Ied : berhias, memakai wangi-wangian/harum, memakai yang indah, menggunakan baju baru, dan seharusnya seorang memakai pakaian yang bagus yang dia punya.

16. Hendaknya seorang wanita bersegera keluar dengan hijab syar’i, dan tidak menggunakan baju bagus ketika keluar menuju tempat sholat ied. Atau dia memakai baju yang secara adat/kebiasaan bukan tabarruj, dan haram baginya keluar dengan menggunakan wangi-wanginya, dan seorang laki-laki akan ditanya tentang keluarganya.

17. Termasuk adab ketika Ied : memberikan ucapan selamat yang baik kepada diantar manusia yang saling bertemu, dan ini termasuk akhlak yang mulia dan perkara yang baik yang nampak diantara kaum muslimin, misal seperti perkataan sebagian sahabat kepada sahabat yang lain : Taqoballahu minna wa minkum, atau Ied Mubarak, atau yang serupa yang hal itu dari lafadz-lafadz selamat yang mubah.
Adalah para sahabat Nabi ketika bertemu pada hari ied mereka berkata kepada sebagian yang lain :
“Taqoballahu minna waminkum”. Dihasankan Ibnu Hajar.

18. Sholat Ied termasuk syiar agama yang agung, dan ini adalah wajib berdasar pendapat yang kuat, Nabi sholallahu alaihi wassalam memerintahkan hal ini, dan beliau dengan tekun melakukannya sampai berpisah dari dunia/sampai beliau wafat, dan dilakukan dengan tekun juga oleh khulafaur rasyidin setelah beliau.

19. Waktu sholat Ied : naiknya matahari sampai setinggi tombak/lembing sampai pertengahan hari, dan yang utama mengakhirkannya pada idul fitri sampai manusia keluar semua.

20. Sunnah untuk mandi terlebih dahulu untuk sholat Ied, sebagaimana perkataan Said bin Musayyib : “Sunnah idul fitri ada tiga yaitu : berjalan menuju mushola/tempat sholat, makan sebelum keluar, dan mandi”.

21. Termasuk sunnah yang banyak ditinggalkan : makan terlebih dahulu sebelum keluar menuju tempat sholat pada hari raya idul fitri.
Dari Anas rodhiyallahu anhu berkata : “Adalah Rasulullah tidak keluar pada hari raya idul fitri sampai beliau makan tamr/kurma, dan beliau makan dalam jumlah witir/ganjil”. (HR. Bukhari)

22. Disunnahkan untuk bertakbir ketika menuju tempat sholat, dan ini merupakan amalan para sahabat. Sungguh Nabi keluar menuju sholat setelah matahari naik dan mendapatkan manusia mereka telah hadir.

23. Disunnahkan menaikkan suara ketika bertakbir ketika pergi ke tempat sholat, sungguh ada riwayat dari Nabi “sesungguhnya beliau keluar pada hari raya idul fitri maka beliau bertakbir sampai datang ke tempat sholat, dan sampai di tegakkan sholat ied”.
Dan shohih dari Ibnu Umar, sesungguhnya beliau memperkeras dengan takbir pada hari raya idul fitri dan idul adha, ketika keluar ke tempat sholat sampai imam keluar dan bertakbir dengan takbirnya”.

24. Keluarnya dengan berjalan dan hendaknya tenang. Dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu berkata : Adalah Nabi keluar menuju hari raya ied dengan berjalan dan kembali dengan berjalan pula. (HR. Ibnu Majah dan di hasankan Al-Albani).

25. Disunnahkan keluar menuju tempat sholat Ied dari jalan yang berbeda dengan pulang/kembalinya. Ini seperti perbuatan Nabi atas hal itu. Dan untuk dapat menyaksikan dengan dua jalan berbeda tersebut warga/penduduk dari kalangan jin dan manusia, dan untuk memperlihatkan syiar Islam dan optimis dengan segala keadaan, kepada ampunan dan ridho dari-Nya.

26. Termasuk sunnah hari raya Ied : sholatnya di luar/tanah lapang, maka bukan sholat di dalam masjid kecuali jika darurat atau karena ada kebutuhan tertentu. Nabi sholallahu alaihi wassalam dengan tekun melakukan sholat hari raya di padang pasir, dan tidak sholat pada masjid nabawi padahal sholat didalamnya lebih utama setelah masjidil haram.
Kecuali ulama yang sholat selain pada mushola adalah penduduk makkah, sesungguhnya mereka sholat Ied di masjidil haram.

27. Keluarnya pemuda, wanita dan wanita yang sedang haid ke tempat sholat eid, agar mereka dapat melihat kebaikan dan dakwah kaum muslimin.
Dari Ummu Athiyah berkata : “Kami diperintahkan keluar pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), baik awatiq (wanita yang baru baligh), wanita haid untuk melihat kebaikan dan dakwah kepada kaum muslimin, dan wanita yang haid memisahkan diri dari tempat melakukan sholat (mushola)”. (HR. Bukhari Muslim)

28. Jumlah rakaat sholat Ied adalah dua rakaat, imam mengeraskan dengan bacaan, takbir pada awal rakaat takbiratul ihram, kemudian takbir setelahnya tujuh kali kemudian membaca al-fatihah dan membaca surat.
Pada rakaat yang kedua, berdiri dan bertakbir sebanyak lima kali, kemudian membaca al-fatihah dan surat, dan disukai mengangkat tangan pada setiap takbir.

29. Dari Ibnu Masud, bahwa beliau memuji Allah diantara takbir dan sholawat kepada Nabi.

30. Adalah Nabi sholallahu alaihi wassalam membaca pada 2 rakaat sholat ied, Al-A’la dan Al-Ghasiyah (HR. Muslim no.878)
Juga riwayat dari Nabi sholallahu alaihi wassalam, bahwa beliau pada rakaat pertama membaca surat Qaf, dan pada rakat kedua membaca surat Al-Qomar. (HR. Muslim no.891)

31. Jika engkau mendapatkan imam pada takbir tambahan, maka hendaknya takbir dan ikuti imam, dan tidak perlu mengganti takbir yang ketinggalan.

32. Pada sholat Ied tidak ada adzan dan iqomah. Berkata Jabir bin Samurah : “Aku sholat Ied bersama Nabi selain satu dan tidak dua kali, tanpa adzan dan iqomah”. (HR. Muslim no.887)

33. Imam mulai dengan sholat kemudian khutbah, adalah Nabi memulai semua khutbah dengan hamdalah/memuji Allah (Innal hamdalillah…), dan tidaklah beliau memulai khutbah ied-nya (idul fitri dan idul adha) dengan takbir.

34. Khutbah hukumnya sunnah, maka tidak wajib bagi yang hadir untuk mendengarkannya.
Karena Nabi sholat pada hari raya Ied, dan berkata : “Siapa yang suka untuk pergi/meninggalkan tempat maka hendaknya dia pergi, dan siapa yang suka untuk tetap untuk mendengarkan khutbah maka hendaknya dia tetap” (HR. Nasai no.1571 dan di shohihkan Al-Albani), akan tetapi hadir dan mendengarkan lebih utama.

35. Siapa yang terlewat sholat Ied, maka yang rajih/kuat di sunnahkan untuk menggantinya maka dia sholat sesuai dengan sifat sholat Ied, dengan tanpa khutbah setelahnya.

36. Siapa yang hadir pada hari ied dan imam sedang khutbah maka hendaknya dia mendengarkan khutbah kemudian mengganti sholat setelah itu.

37. Tidak ada sholat sunnah sebelum dan sesudah sholat Ied.
Nabi bersabda : “Beliau keluar pada hari raya Ied maka beliau sholat dua rakaat, tidak ada sholat sebelum dan sesudahnya”. (HR. Bukhari no:964 dan Muslim no.884)
Adapun jika dilakukan di masjid, maka hendaknya sholat tahiyatul masjid.

38. Termasuk adab dalam hari raya Ied : silaturahmi dan berkunjung ke kerabat, memberikan hadiah, menyambung tali kekerabatan untuk menunjukkan rasa kasih sayang.

39. Ied termasuk musim ketaatan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan amal sholeh, dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sempurna, bukanlah musim munkar dan berselisih, dan janganlah kaum muslimin mengganti Ied kepada musim kemungkaran, dengan membuat semacam upacara, menari-nari, dan nyanyian dan meminum khamr/minuman keras !

40. Tidak di syariatkan ziarah kubur pada hari Ied, karena hari itu adalah hari gembira dan senang, dan masuk dalam keumuman perkataan Nabi yang melarang meratap, menjadikan kubur sebagai hari raya.

41. Tidak di syariatkan mengkhususkan malam Ied dengan sholat diantara malam-malam yang di perintahkan, namun jika sudah kebiasaan sholat malam maka tidak berdosa dengan melakukan sholat malam, dan hadits-hadits yang menerangkan tentang keutamaan menghidupkan malam Ied tidak shahih.

42. Termasuk kemungkaran : Bercampurnya wanita dengan laki-laki di tempat sholat dan di tempat selainnya. Dan ini termasuk fitnah, dan hendaknya para pemuda tidak keluar/berpindah dari tempat sholat sampai para wanita keluar dari tempat sholat (sehingga tidak saling bercampur).

43. Menampakkan kesenangan dan kebahagiaan pada hari raya idul fitri. Boleh dengan pertunjukkan yang memperbaiki jiwa dan keluarga, anak2 serta teman dari perkara yang di senangi/kehendaki.
Dari Aisyah berkata : “Adalah pada hari raya Ied ada dua budak Sudan memperlihatkan kebolehan bermain tombak. Maka aku bertanya kepada Nabi, maka Nabi bertanya kepadaku : “Apakah engkau mau melihatnya?”
Maka aku (Aisyah) menjawab : Iya.
Maka aku berdiri di belakang Nabi, dan pipiku bertemu dengan pipi beliau, sambil beliau berkata : “Teruskan wahai Bani Arfadah”.

44. Diperbolehkan bagi anak-anak untuk bergembira dan bermain yang mubah pada hari raya Ied dengan permainan yang tidak melanggar syariat, akan tetapi permainan dalam ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena didalamnya memasukkan kebahagiaan kepada mereka, seperti hadits :
“Agar orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kami terdapat kelapangan, sesungguhnya aku di utus dengan ajara yang penuh toleran”.
(HR. Ahmad dan di hasankan Syaikh Albani)

45. Ied berhubungan dengan kegembiraan, maka seharusnya didalamnya ditampakkan kegembiraan untuk menampakkan syariat yang agung.
Dari Aisyah rodhiyallahu anha : Abu Bakar masuk dan ketika itu ada bersamaku dua anak kecil perempuan dari kalangan Anshor bersenandung syair kaum Anshor pada perang Bu’ats, maka Abu Bakar melarang mereka. Maka Nabi muncul kepada mereka dan berkata : “”Biarkanlah keduanya wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini ada hari raya Ied”.

46. Dan ini menunjukkan bolehnya wanita memukul duff/rebanan pada hari raya Ied dan bolehnya nyanyian yang mubah dari perkataan dan syair, akan tetapi ini tidak menunjukkan bolehnya untuk selamanya untuk musik dan nyanyian karena yang di perbolehkan hanyalah duff/rebana.

47. Hendaknya tidak menyebarkan/melakukan permainan-permainan yang berbahaya, yang membahayakan bagi orang lain, baik itu di jalan atau dirumah-rumah seperti petasan, karena permainan petasan dapat membahayakan dari sisi harta/boros, badan (bisa terkena pada badan) serta memberikan kekhawatiran manusia atas rumah-rumah mereka (khawatir terbakar).

Kita memohon kepada Allah azza wa jalla agar membaguskan hari-hari kita dengan ketaatan, dan mengisi rumah-rumah kita serta hati-hati kita dengan kesenangan dan kebahagiaan dengan nikmat-Nya dan menerima amal-amal dari kita dan kaum muslimin. Aamiin, walhamdulillahi robbil alamin.

Leave a Comment