Ketika Tidak Ada Yang Terbaik

Tidak selamanya seseorang mengambil yang semuanya baik, kadang ia harus menaruh pilihan pada yang terbaik di antara dua pilihan. Suatu waktu bisa pula dihadapkan dengan dua mudarat sehingga ia harus mengambil yang mudaratnya lebih ringan.

Jika seseorang bisa mengambil yang terbaik di antara dua pilihan dan bisa mengambil yang lebih ringan dari dua pilihan, itulah seseorang yang disebut cerdas.

Demikianlah kesimpulan dari Ibnu Taimiyah di mana beliau pernah berkata,
“Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan.

Ia pun bersyair,
“Orang yang cerdas ketika terkena dua penyakit yang berbeda, ia pun akan mengobati yang lebih berbahaya.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 54).

Jika ada maslahat yang lebih besar namun ada mafsadat ketika itu, maka tetap ketika itu memilih maslahat walau dengan menerjang mafsadat.

Di antara contoh kaedah:

Ada orang sakit yang tidak mampu berwudhu atau tidak mendapati air, begitu pula debu. Mafsadat yang akan diperoleh adalah shalat tanpa thoharoh atau bersuci. Namun ada maslahat yaitu mengerjakan shalat. Manakah yang didahulukan? Apakah ia meninggalkan shalat atau meninggalkan bersuci? Jawabannya, tetap ia shalat walau tidak dalam keadaan thoharoh (bersuci).

Taat pada pemerintah yang zholim. Taat kepada pemimpin yang zholim tentu suatu mafsadat. Namun ada maslahat yang lebih besar yaitu bersatunya umat. Maslahat ini lebih besar dari mafsadat, maka didahulukanlah maslahat tersebut. Maka pemerintah yang zholim tetap ditaati karena maslahat yang lebih besar di balik itu dan mafsadat yang ada itu ringan. (Disarikan dari penjelasan Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri; Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah).

Referensi: https://t.me/tausiyahbimbinganislam/2581

Menerima Kebaikan Dari Orang Lain

Salah cara untuk mensyukuri nikmat Allah adalah dengan berterima kasih kepada manusia yang menjadi perantara sampainya nikmat Allah kepada kita.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Andai anda tidak mampu membalas jasa dan uluran tangan saudara anda dengan yang lebih baik, paling kurang anda mendoakan kebaikan untuknya.

Beliau juga bersabda,
“Barangsiapa yang telah berbuat suatu kebaikan padamu, maka balaslah dengan yang serupa. Jika engkau tidak bisa membalasnya dengan yang serupa maka doakanlah ia hingga engkau mengira doamu tersebut bisa sudah membalas dengan serupa atas kebaikan ia” (HR. Abu Daud no. 1672, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Oleh karena itu, mengucapkan terima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Islam.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan, ‘Jazaakallahu khair’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya” (HR. Tirmidzi no.2167, ia berkata: “Hadits ini hasan jayyid gharib”, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Referensi: https://t.me/tausiyahbimbinganislam/2592

Belum Bisa Menasehati Karena Belum Mengamalkan

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita agar memberi nasehat ketika diminta, dan nasehat itu artinya menyampaikan apa-apa yang bermanfaat. Adapun mengamalkan apa yang dinasehatkan itu sendiri, bukanlah syarat yang harus terpenuhi sebelum memberi nasehat. Karena sekedar menyuruh seseorang berbuat baik dan mencegahnya dari kemunkaran, adalah sesuatu yang baik.

Allah berfirman yg artinya, “Tidak ada kebaikan pada sebagian besar pembicaraan rahasia mereka, kecuali pada orang yang mengajak bersedekah, atau memerintahkan yang ma’ruf, atau mendamaikan orang-orang yang berselisih. Dan barangsiapa melakukan hal tersebut karena mengharap ridha Allah, maka Kami akan memberikan pahala yg besar kepadanya” (An Nisa’ 114).

 قال السعدي رحمه الله: “فهذه الأشياء حيثما فعلت فهي خير، كما دل على ذلك الاستثناء. ولكن كمال الأجر وتمامه بحسب النية والإخلاص، ولهذا قال: {وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا}

Syaikh As’ Si’di dalam Tafsirnya mengatakan, “Kesemua hal tadi senantiasa dianggap baik, bagaimana pun ia dilakukan, sebagaimana makna yang difahami dari pengecualian tersebut. Akan tetapi, pahala dan balasannya yang sempurna tergantung niat dan keikhlasan. Oleh karenanya, Allah mengatakan setelah itu, “Dan barangsiapa melakukan hal tersebut karena mengharap ridha Allah, maka Kami akan memberikan pahala yang besar kepadanya”.

Jadi, tetaplah memberi nasehat walaupun belum mengamalkan.

Wallaahu a’lam.

Ustadz Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA

Referensi: https://bimbinganislam.com/belum-bisa-menasehati-karena-belum-mengamalkan-2/

Manajemen Waktu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

Waktu adalah diantara nikmat besar yang Allah anugrahkan bagi kita. Dan kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban atas waktu yang telah kita habiskan di dunia. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نعمتان مغبونٌ فيهما كثيرٌ من الناس: الصحة والفراغ

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya ; nikmat sehat dan waktu luang”.(HR. Bukhari : 6412).

Allah ta’ala berfirman :

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kelak kalian pasti akan ditanya di hari itu akan nikmat (yang telah kalian dapatkan)”. (QS. At-Takatsur : 8).

Dan Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala ketika menafsirkan ayat tersebut ;

وَمَعْنَى هَذَا: أَنَّهُمْ مُقَصِّرُونَ فِي شُكْرِ هَاتَيْنِ النِّعْمَتَيْنِ، لَا يَقُومُونَ بِوَاجِبِهِمَا، وَمَنْ لَا يَقُومُ بِحَقِّ مَا وَجَبَ عَلَيْهِ، فَهُوَ مَغْبُونٌ.

Read moreManajemen Waktu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

Bertahan Sholat Saat Gempa

Bertahan Shalat Saat Gempa

Di medsos ada perdebatan, boleh tidaknya membatalkan sholat wajib ketika ada gempa.

Mohon penjelasannya ustadz. Jawaban lengkapnya, mohon bisa ditampilkan di konsultasisyariah.com…Agar faedahnya bisa lebih meluas.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat kaidah umum yang disampaikan para ulama fiqh. Kaidah itu menyatakan,

دَرْءُ المَفَاسِد أَولَى مِن جَلبِ المَصَالِح

Menghindari mafsadah (potensi bahaya) lebih didahulukan dari pada mengambil maslahat (kebaikan).

Dalam banyak literatur yang membahas qawaid fiqh, kaidah ini sering disebutkan.

Diantara dalil yang mendukung kaidah ini adalah firman Allah,

Read moreBertahan Sholat Saat Gempa

Hukum Anak Kecil Di Tengah Shaf Sholat

Pertanyaan :

Anakku masih kecil, dia belum bisa bersuci dengan baik, apakah dapat memutuskan -shaf- sholat?

الجواب: نعم يقطع صفوف الصلاة ويدخل تحت عموم ما ثبت في سنن أبي داود عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال «من وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله».

Jawab:

Iya, dia dapat memutuskan shaf sholat. Hal ini masuk dalam keumuman hadist valid di kitab Sunan Abu Dawud dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Siapa yang menyambung shaf, Allah akan menyambungnya. Siapa yang memutus shaf, Allah akan memutuskannya.”

Read moreHukum Anak Kecil Di Tengah Shaf Sholat

Meminta Do’a Ibu Melalui Air, Adakah Tuntunannya?

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, apakah boleh meminta doa kepada ibu melalui air untuk kemudian diminum dengan tujuan mengurangi rasa sakit yang sedang diderita anaknya?

 

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Doa apa yang dimaksud? Apakah ruqyah?

Read moreMeminta Do’a Ibu Melalui Air, Adakah Tuntunannya?