Bagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan ? (1)

Bulan Ramadhan merupakan nikmat yang besar, yang Allah berikan kepada kaum muslimin. Karena waktu itu adalah waktu yang penuh berkah, yang kebanyakan umumnya kaum muslimin kembali kepada ketaatan kepada-Nya setelah sebelumnya melakukan maksiat, kembali berdzikir mengingat Allah setelah sebelumnya dalam kelalaian. (Majelis Syahri Ramadhan hal 13, Syaikh Utsaimin rahimahullah)

Allah mengkhususkan bulan Ramadhan di bandingkan dengan bulan lainnya dengan banyak keutamaan, antara lain :

  1. Allah mewajibkan berpuasa, yang tidak diperintahkan pada bulan-bulan yang lainnya.
  2. Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari minyak kasturi.
  3. Para malaikat mendoakan bagi orang yang berpuasa sampai dia berbuka.
  4. Para syaitan di belenggu.
  5. Di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka.
  6. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Qodar.
  7. Di ampuninya orang-orang yang berpuasa sampai akhir malam pada setiap hari dibulan Ramadhan.
  8. Allah membebaskan dari api neraka, dan itu terjadi pada setiap malam di hari Ramadhan.

Sebegitu banyaknya kekhususan yang ada di bulan Ramadhan, apakah akan kita lewatkan begitu saja? Para salafuna sholeh, orang yang senantiasa bersemangat dalam meraih dan mendapatkan kebaikan, merupakan golongan yang patut kita bercermin pada mereka, bagaimana mereka melewatkan waktu-waktu mulia di bulan Ramadhan, untuk meraup banyak pahala di dalamnya.

Dengan kekhususan yang begitu banyak, sampai para salafus sholeh berdoa agar mereka disampaikan pada bulan Ramadhan.

Berkata Mualla bin Fadhal rahimahullah : ”Adalah para salafush sholeh mereka berdoa kepada Allah 6 bulan sebelumnya untuk dapat bertemu dengan bulan Ramadhan, dan 6 bulan setelahnya meminta kepada Allah agar diterima amalnya”. (Lathoiful Maarif hal.129)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata : Dan doa dari mereka (para salaf) adalah : Ya Allah, sampaikan aku ke Ramadhan, dan sampaikan padaku Ramadhan dan terimalah dariku amal ibadahku”. (Lathoiful Maarif hal 129)

Berikut ini beberapa amalan serta kegiatan yang hendaknya kita lakukan dalam bulan Ramadhan, antara lain :

1. Puasa

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa”.

Syaikh Abdurahman As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan terkait ayat ini : “Dalam ayat ini, Allah mengabarkan tentang bentuk ibadah yang diwajibkan yaitu puasa, sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelumnya. Selain itu, dalam ayat ini Allah juga menjelaskan hikmah dari ibadah puasa yaitu agar menjadi orang yang bertakwa. Puasa menjadikan seorang meninggalkan perkara yang diharamkan dari makan, minum, berhubungan suami istri dan yang semisalnya (yang pada hari biasa diperbolehkan). Puasa mengajarkan jiwa untuk mengekang hawa nafsu dari terbit fajar shodiq sampai terbenamnya matahari. Puasa juga mengekang pergerakan syaithan dalam tubuh manusia karena syaithan bergerak pada darah manusia dan puasa mempersempit pergerakan syaithan sehingga memperkecil kemungkinan manusia dalam berbuat maksiat. Puasa juga mengajari orang yang kaya/berkecukupan, merasakan bagaimana penderitaan dari orang fakir/miskin”.

Dalam hadits yang di riwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Semua amal perbuatan anak Adam untuk dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.’Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji  dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’ Demi Allâh yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allâh daripada aroma minyak kesturi. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, Nabi bersabda : “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka tidak diragukan lagi adanya pahala yang besar, bagi orang yang berpuasa ikhlas mengharap pahala dari Allah.

Hadits-hadits diatas juga menunjukkan agar kita menjaga dari perkara-perkara yang menjadikan pahala puasa kita hilang.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Nabi bersabda : “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Dari sahabat Abu Hurairah : “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Rofats adalah kiasan untuk berhubungn badan dan perkataan keji. (Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Maka ketika engkau berpuasa, hendaknya ikut berpuasa juga dari matamu, pendengaranmu, lisanmu serta seluruh anggota badanmu.

 

2. Sholat

Nabi bersabda : “Barangsiapa yang berdiri melaksanakan sholat pada malam bulan Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا.

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا.

Allah berfirman dalam surat Al-Furqon ayat 63 dan 64, yang artinya :

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka”.

 

Dan Nabi adalah manusia yang paling tekun dalam melaksanakan sholat, sebagaimana hal ini di ceritakan oleh istri beliau, yaitu Aisyah rodhiyallahu anha : “Hendaknya kalian jangan meninggalkan sholat malam karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah meninggalkannya, jika beliau sakit atau malas maka beliau sholat dengan duduk”. (HR. Abu Dawud, Ahmad)

Umar bin Khotob rodhiyallahu anhu sholat pada malam hari sampai pada pertengahan malam, maka beliau membangunkan keluarganya untuk sholat, dan berkata sholat, sholat..kemudian beliau membaca ayat : “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thoha ayat 132)

Dan adalah Ibnu Umar membaca ayat : “ (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? ” (QS. Az-Zumar ayat 9)

Hendaknya seorang muslim menyempurnakan sholat tarawih bersama imam sehingga akan mendapatkan pahala seperti orang yang sholat semalam. Sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan dari Ahlu Sunan yang artinya : “Siapa yang berdiri sholat bersama imam sampai selesai dicatat baginya sholat seperti semalam suntuk”.

 

3. Sedekah

Sedekah pada bulan Ramadhan, sangat dianjurkan. Sebagaimana sabda Nabi dari sahabat Anas bin Malik : “Seutama sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan..” (HR. Tirmidzi)

Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya berkata, aku mendengar Umar bin Khotob berkata : Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah dari harta yang kita miliki, maka aku berkata : aku akan megungguli Abu Bakar pada hari ini, maka aku membawa setengah hartaku untuk disedekahkan, mak Nabi berkata kepadaku : Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Aku menjawab : Yang semisal dengannya (sebesar apa yang telah aku sedekahkan). Kemudian datanglah Abu Bakar membawa seluruh hartanya maka berkata Nabi : Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Maka Abu Bakar menjawab : Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasulnya, Maka aku berkata : Aku tidak dapat mendahului Abu Bakar selamanya.

Wahai saudaraku, sedekah pada bulan Ramadhan mempunyai keuntungan dan kekhususan maka hendaknya bersegera dalam melakukannya, dalam segala kondisi baik lapang maupun sempit.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 261, Allah berfirman :

ثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

yang artinya :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

 

(Bersambung…)

Bagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan ? (2)

Leave a Comment