Berikan Sambutan Hangat

Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.

Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik.

Read moreBerikan Sambutan Hangat

Kecopetan Sholat

Kecopetan adalah salah satu kejadian tidak mengenakkan yang barangkali pernah kita alami. Akibatnya kita bisa sedih berhari-hari. Apalagi bila benda yang dicopet adalah sesuatu yang berharga, semisal perhiasan atau HP. Kesedihan itu wajar dan manusiawi.

Namun yang tidak wajar adalah manakala kita kecopetan sesuatu yang lebih berharga dibanding perhiasan, lalu perasaan kita biasa-biasa saja. Seakan tidak ada kejadian apa-apa. Sesuatu yang amat berharga itu adalah shalat.

Mari kita menyimak hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ الاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ، فَقَالَ: “هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ”.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tolah-toleh saat shalat”. Beliau menjawab, “Itu adalah sesuatu yang dicopet setan dari shalat seorang hamba”. HR. Bukhari.

Tengak-tengok saat shalat itu terbagi menjadi dua jenis:

Read moreKecopetan Sholat

Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 8)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketujuh: Patuh

Maksudnya adalah tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat mulia tersebut. Allah ta’ala berfirman,

“وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ”

Artinya: “Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong”. QS. Az-Zumar (39): 54.

Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk dan patuh terhadap kandungan maknanya dan tidak mengabaikan maksud kalimat syahadat tersebut. Sikap membangkang dan tidak mau tunduk terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya menjadikan ikrar tersebut tidak bermakna. Sesungguhnya makna Islam itu sendiri ketundukan, di mana seseorang yang masuk Islam diharapkan memiliki sikap tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang ada di dalamnya. Allah ta’ala berfirman,

“وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ”

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia adalah orang yang mengerjakan kebajikan”. QS. An-Nisa’(4): 125.

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan konsekuensi keimanan, yang berupa ketundukan sikap tanpa keberatan.

“فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”

Artinya: “Maka demi Rabbmu, pada hakikatnya mereka itu tidak beriman sebelum menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya.” QS. An-Nisa’ (4): 65.

Maka seorang muslim sejati saat mengucapkan kalimat la ilaha illallah, ia akan dengan sepenuh hati patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, terutama yang hukumnya wajib. Sebab manusia merupakan hamba bagi
Rabbnya, sehingga apapun yang diperintahkan oleh-Nya harus dipatuhi, apalagi bila perintah itu bersifat wajib.
Jika itu tidak ditaati maka bersiaplah untuk ditimpa azab yang pedih.

“فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ”

Artinya: Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. QS. An-Nur (24): 63.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulqa’dah 1434 / 9 September 2013

[Disusun oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. ]

Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 7)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keenam: Menerima segala konsekwensi La ilaha illallah
Penerimaan ini akan menggerakkan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh untuk menjalankan ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala.

Di dalam al-Qur’an telah diceritakan akibat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang enggan menerima konsekwensi dari kalimat mulia ini dan menolak ajaran agama:

“وَكَذَلكَ مَا أَرْسَلنَا مِنْ قَبْلكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَال مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا على أُمَّةٍ وَإِنَّا على آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ . قَال أَوَلوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَي مِمَّا وَجَدْتُمْ عَليْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلتُمْ بِهِ كَافِرُونَ . فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُكَذِّبِينَ”.

Artinya: “Demikian juga ketika kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelummu (wahai Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (keyakinan) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata, “Apakah (kalian akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa untukmu (keyakinan) yang lebih baik daripada apa yang kalian peroleh dari (keyakinan) yang dianut nenek moyangmu?”. Mereka menjawab, “Sungguh kami mengingkari (keyakinan) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya”. Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran)”. QS. Az-Zukhruf (43): 23-25.

Penerimaan secara total terhadap kalimat ini menuntut kita untuk senantiasa merasa ridha dengan Allah ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai nabi kita.

Segala bentuk keridhaan tersebut di atas tentu bukan hanya terucap di lisan belaka, namun harus diiringi dengan pembuktian yang nyata.

Keridhaan kita dengan Allah sebagai Rabb kita dibuktikan dengan kelapangan dada kita dalam menerima setiap apa yang ditakdirkan oleh-Nya berupa ujian dan cobaan, serta mensyukuri setiap nikmat yang dikaruniakan-Nya.

Adapun keridhaan kita dengan Islam sebagai agama, maka pembuktiannya adalah dengan tunduk terhadap setiap perintah agama, serta membenci apapun yang dibenci aturan agama. Juga menjadikan ajaran Islam ini sebagai pedoman hidup kita.

Sedangkan rasa ridha terhadap Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai Nabi kita, pembuktiaannya adalah dengan tidak membuat amalan-amalan yang menyelisihi tuntunan beliau. Juga menjalankan perintah beliau serta menjauhi larangannya.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Syawal 1434 / 26 Agustus 2013

[Diringkas dan terjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari makalah di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=269917. ]

Ikhtiar Kesehatan Yang Terlupakan


Hampir tidak ada orang yang ingin menderita sakit. Semua berharap selalu sehat. Walaupun realitanya setiap manusia pasti mengalami dua kondisi tersebut; sehat dan sakit. Namun kita tetap berusaha untuk menggapai kesehatan. Segala upaya dikerahkan untuk hal itu. Rajin berolahraga, mengonsumsi buah dan sayur, juga rutin memeriksakan kesehatan.

Tidak ada yang keliru dengan berbagai ikhtiar tersebut di atas. Namun sayangnya ada ikhtiar lain yang sangat urgen, justru malah kerap dilupakan. Yakni berdzikir.

Kesehatan Sempurna

Islam memberikan sebuah pemahaman yang lebih holistik mengenai kesehatan. Sehat itu mencakup kesehatan tubuh, kesehatan otak dan kesehatan hati. Itulah konsep kesehatan yang sempurna.

Banyak orang gila sehat tubuhnya, tapi sakit otaknya.

Sebaliknya tidak sedikit orang sehat otaknya, namun sakit tubuhnya.

Yang lebih parah adalah orang yang sehat tubuh dan otaknya, tapi sakit hatinya. Alias tidak patuh beribadah kepada Allah ta’ala. Sejatinya kesehatan tubuh dan otak adalah sarana untuk mencapai tujuan mulia. Yaitu mengabdi sebaik mungkin kepada Allah ‘azza wa jalla.

Kekuatan Dzikir

Setiap pagi dan petang kita diajarkan untuk meminta kesehatan kepada Allah. Redaksi doa yang dicontohkan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sangat istimewa. Mari kita renungi susunan kalimatnya berikut kandungan maknanya.

“اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ”

Allohumma ‘âfinî fî badanî. Allôhumma ‘âfinî fî sam’î. Allôhumma ‘âfinî fî bashorî. Lâ ilâha illa Anta.

“Ya Allah afiatkanlah tubuhku. Ya Allah afiatkanlah pendengaranku. Ya Allah afiatkanlah penglihatanku. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau”.

Doa ini dibaca tiga kali di pagi dan sore hari. (HR. Abu Dawud dan sanad_nya dinilai _hasan oleh al-Albaniy).

Dalam doa di atas kita diajari untuk minta afiat. Dalam bahasa Arab, afiat itu berarti kesehatan yang sempurna. Bukan sehat ala kadarnya. Sehingga para ulama kita menjelaskan bahwa makna yang dikandung doa ini adalah permohonan agar tubuh kita dihindarkan dari segala jenis penyakit. Bukan hanya penyakit fisik dan psikis, namun juga penyakit rohani. Sehingga tubuh bisa digunakan untuk beribadah dengan baik kepada Allah.

Setelah memohon afiat untuk tubuh, kita juga diperintahkan untuk memohon afiat bagi pendengaran telinga dan penglihatan mata. Mengapa kedua panca indra itu disebutkan secara khusus? Padahal sebenarnya telinga dan badan adalah bagian dari tubuh.

Sebab keduanya sangat spesial. Dengan telinga kita bisa mendengarkan ayat-ayat Allah yang tertulis dalam al-Qur’an. Adapun mata, dengannya kita bisa melihat ayat-ayat Allah dalam makhluk ciptaan-Nya di alam semesta.

Lalu doa tersebut ditutup dengan mengucapkan tahlil. Kalimat thayyibah yang mengandung penegasan bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah ta’ala. Seakan mengingatkan kembali pada kita bahwa kesehatan itu hanya sarana bukan tujuan. Sarana untuk mencapai tujuan mulia. Yaitu beribadah dengan baik hanya kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ayo rutinkan doa dan dzikir di atas! InsyaAllah kita dikaruniai kesehatan jasmani dan rohani.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 9 Dzulqa’dah 1440 / 12 Juli 2019
Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA hafizahullah

Bahagia dengan mengembirakan orang lain

🍀💦🍀💦🍀💦

Prof. Dr. Abdul Hamid As Suhaibani seorang dosen di Riyadh bercerita saat saya berkunjung ke rumahnya bahwasanya Syaikh Ali Thanthawi pernah berkunjung ke Indonesia. Syaikh merasa galau dan kesepian, maka pergilah Syaikh ke suatu taman di kota Jakarta. Ia melihat ada anak kecil yang sedang makan coklat bersama orang tuanya. Tidak jauh darinya ada anak kecil lain yang menangis dengan menyebut kata cokelat kepada orang tuanya. Segera ia membeli cokelat dan memberikannya kepada anak kecil yang menangis. Anak tersebut bergembira mendapatkan cokelat dan orang tuanya berterima kasih. Beliau berkata, “Subhanallah, setelah itu saya merasakan kelapangan dan kebahagiaan.”

Syaikh Ali Thanthawi menyimpulkan atas kejadian tadi,
“Saya telah mengambil pelajaran bahwa kebahagiaan bukanlah karena harta, istana, para pelayan yang banyak tapi kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan hati. Jalan yang paling dekat dengan kebahagiaan hati dengan cara menggembirakan hati orang lain. Sebesar-besar kenikmatan dunia adalah berbuat Ihsan (kebaikan) kepada orang lain.” (Dari kitab, “Shuwarun Musyriqotun fii Induniisia”)

🍀💦🍀💦🍀💦
oleh : Ustadz Fariq Gasim Anuz hafizahullah

Puasa Ramadhan : Keutamaan, adab, hukum dan sholat tarawih

 

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah (pengajar di Darul Hadits Al-Khoiriyah, Makkah Al-Mukaromah)

 

Segala puji bagi Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan meminta ampun hanya kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami, dan dari kejelekan amal-amal kami.

Siapa yang Allah berikan petunjuk maka Allah tidak akan menyesatkannya dan siapa yang Allah sesatkan untuknya maka tidak mendapat petunjuk kepadanya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, baginya semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

Selanjutnya, sesungguhnya puasa merupakan salah satu rukun dari rukun Islam, yang butuh didalamnya keikhlasan, kebaikan amal, dan sifat amanah. Oleh karenanya, tidaklah mencegah orang yang berpuasa dari makan, minum dan segala perkara yang membatalkan puasa, tidak mencegahnya dari hal itu, kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk dapat melihat kepada-Nya.

Aku membahas dalam kitab ini tentang keutamaan puasa, adab-adabnya, hukum-hukum, perkara yang membatalkan puasa, sholat (tarawih) didalamnya, juga tentang i’tikaf, zakat fitri, sholat Ied dan selainnya dari perkara-perkara yang penting.

Aku memohon kepada Allah agar hal ini bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadikan hal ini (kitab ini) ikhlas mengharapkan wajah-Nya yang mulia.

Muhammad bin Jamil Zainu

*********

Ayat Puasa

Firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 183-185, yang artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

“(Yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu berapada pada bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”.

*********

Faidah Ayat Puasa

  1. Allah mewajibkan puasa bagi kaum mukminin sebagaimana Allah wajibkan hal itu kepada kaum sebelumnya, yang didalamnya terdapat manfaat untuk dunia dan akhirat.
  2. Puasa ramadhan akan menghasilkan kedudukan takwa kepada Allah.
  3. Puasa Ramadhan dilakukan pada hari-hari tertentu, dan tidak lebih dari 30 hari (bisa 29 atau 30 hari, dan tidak akan lebih dari 30 hari). 
  4. Orang yang sakit, orang yang sedang perjalanan, keduanya boleh berbuka pada bulan ramadhan dan bagi keduanya qadha (mengganti pada hari lain diluar ramadhan).
  5. Terdapat pilihan antara berbuka atau dengan membayar fidyah atau berpuasa, kemudian hal tersebut dihapus, dan ditetapkan/diwajibkan untuk berpuasa.
  6. Keutamaan ramadhan yaitu bulan diturunkan Al-Quran, dan keutamaan Al-Quran yang Allah turunkan didalamnya. Karena turun dari atas ke bawah, menunjukkan ketinggian Allah diatas Arsy, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits yang shahih
  7. Wajibnya berpuasa Ramadhan bagi siapa yang menyaksikan hilal bulan Ramadhan.
  8. Syariat Allah adalah mudah dan jauh dari hal yang berat/sulit.
  9. Mengagungkan Allah (diakhir Ramadhan) dengan mengucapkan takbir pada hari Ied, dan bersyukur atas hidayah dari Allah.

*********

Puasa termasuk dari rukun Islam

Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara yaitu :

  1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah [Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah], dan saya bersaksi bahwa Muhammad Rasul-Nya [bahwa Allah mengutus Muhammad untuk menyampaikan agama-Nya, dan wajib mentaati apa yang disampaikan Muhammad dari Allah]
  2. Mendirikan shalat : yaitu mengerjakan dengan rukun-rukunnya, yang wajib-wajib dengan tuma’ninah dan khusyu’ pada waktunya (sesuai pada waktunya).
  3. Menunaikan zakat : yaitu ketika seorang muslim memiliki 25 gram emas atau uang yang setara dengan itu, maka menyisakan 2,5 bagian darinya setelah lewat setahun.
  4. Puasa pada bulan Ramadhan : menahan/mencegah diri dari makan dan minum serta jima’ dan segala perkara yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai tenggelam matahari dengan niat untuk beribadah kepada Allah.
  5. Haji ke Baitullah : bagi yang mampu [yaitu bagi yang mempunyai biaya perjalanan pergi-pulang]

(HR. Bukhari dan Muslim)

*********

Puasa Ramadhan dan hukumnya

  1. Pengertian puasa, secara bahasa artinya adalah menahan, dan secara syar’i adalah menahan dari makan, minum dan jima’ dan segala perkara yang membatalkan puasa dengan niat untuk beribadah kepada Allah dari terbit matahari sampai tenggelam matahari.
  2. Hukumnya : puasa ramadhan hukumnya wajib atas setiap muslim yang baligh, berakal, mukim, dan juga wajib bagi wanita yang telah suci dari haid dan nifas.
  3. Wajib melaksanakan puasa ramadhan dengan melihat hilal atau menggenapkan bulan sya’ban 30 hari, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam :

“Berpuasalah dengan melihat hilal, dan berbukalah ketika melihat hilal, dan jika mendung/tidak terlihat maka sempurnakan hitungan bulan sya’ban menjadi 30 hari.”. (HR. Bukhari Muslim)

  • Hukum niat : wajib berniat pada puasa Ramadhan, dan cukup bagi yang akan berpuasa untuk berniat dalam hatinya, dan tidak ada dasar melafadzkan niat dalam puasa maupun dalam sholat.

Dan siapa yang melakukan sahur sebelum fajar maka sungguh dia telah berniat, dan siapa yang menahan diri dari makan, minum dan segala perkara yang membatalkan puasa ditengah siang hari, ikhlas untuk Allah dengan niat/tujuan berpuasa maka telah cukup baginya walaupun dia tidak sahur. (Fiqh Sunnah)

*********

Keutamaan ramadhan dan puasa

Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda :

  1. Ketika masuk bulan Ramadhan maka dibuka pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu jahanam dan di ikat para syaithan. Dan pada riwayat lain : Ketika datang bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu surga. Dan juga pada riwayat lain : Dibuka pintu-pintu rahmat. (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Dalam riwayat Tirmidzi : Dan menyerulah penyeru : wahai orang-orang yang menghendaki kebaikan sambutlah dan yang mengharap kejelekan berhentilah, dan Allah memberikan pembebasan dari api neraka dan itu terjadi pada setiap malam, sampai Ramadhan berlalu”.   (dihasankan Syaikh Albani)
  • Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : Setiap amalan anak Adam dilipat gandakan  : satu kebaikan pahalanya di lipatkan sepuluh kali yang serupa, sampai 700 kali lipat sampai dilipatkan pada apa yang Allah kehendaki : Allah berfirman : kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, karena sesungguhnya dia meninggalkan syahwatnya dan makan minumnya karena Aku, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya, dan bau mulut orang berpuasa lebih wangi dibandingkan dengan harum minyak misk. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “Ar-Royyaan”. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Shalat yang lima waktu, Jumat yang satu ke Jumat lainnya, Ramadhan yang satu ke Ramadhan lainnya, itu bisa menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar”. (HR. Muslim)

  • Dari Abu Umamah rodiyallahu anhu berkata : Aku datang kepada Rasulullah sholallahu alaihi wassalam maka aku berkata (kepada beliau) : Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga? Maka beliau menjawab : Atasmu berpuasa, tidak ada  amalan yang semisal dengan itu, kemudian pada kedua kalinya aku datang kepada beliau, maka beliau menjawab : Atasmu hendaknya berpuasa.

(Shahih riwayat Ahmad)

  • Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan darinya (akibat dari puasa tersebut) neraka sejauh tujuh puluh musim”. (HR. Muslim)

*********

Perkara yang dicintai dalam bulan Ramadhan

Ketahuilah saudaraku muslim, sesungguhnya Allah mewajibkan bagi kita puasa pada bulan Ramadhan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Akan tetapi agar puasa engkau sempurna dan berfaedah maka lakukan amalan-amalan berikut ini :

  1. Menjaga sholat, ada orang yang berpuasa namun meremehkan sholatnya, padahal sholat merupakan tiang agama dan yang meninggalkan sholat termasuk perbuatan kufur.
  • Menjaga puasa pada bulan Ramadhan, dan biasakan/latihlah anak-anakmu untuk berpuasa sampai mereka sanggup melaksanakannya, dan berhatilah dari berbuka puasa tanpa ada udzur, siapa yang berbuka puasa sehari dengan sengaja maka baginya qodho’ (mengganti di hari yang lain) dan taubat (kepada Allah).
  • Jagalah akhlak yang baik : dan berhati-hatilah dari mencaci maki, berinteraksi dengan manusia dengan jelek, karena hal tersebut dapat mengurangi pahala puasamu maka hendaklah engkau berpuasa dengan jiwa yang bersih, dan jangan berakhlak yang buruk, dan tidak mencaci maki serta marah, yang Nabi memperingatkan dari perkara-perkara ini, seperti sabda beliau :
  • “Ketika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah kalian berkata kotor dan bertindak bodoh. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. (HR. Bukhari)
  • “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan”. (HR. Bukhari)
  • Hendaknya kalian membaca risalah tentang puasa, dan yang selainnya untuk mempelajari hukumnya, sehingga engkau mengetahui bahwa makan dan minum ketika lupa tidak membatalkan puasa, dan junub tidak membatalkan puasa namun wajib untuk menghilangkannya untuk bersuci dan ketika akan sholat.
  • Perhatikan wahai saudaraku muslimin dari berbuka (dengan sengaja) pada bulan Ramadhan, dan perhatikan dengan nyata hal tersebut dihadapan manusia. Maka berbuka merupakan bentuk keberanian (berbuat dosa) kepada Allah, meremehkan Islam, tidak tahu malu dihadapan manusia. Ketahuilah siapa yang tidak berpuasa maka tidak ada hari raya baginya, sedangkan hari raya merupakan kegembiraan yang besar dengan kesempurnaan puasa dan terkabulnya amal ibadah.

*********

Adab puasa

  1. Sahur dan berbuka.

Nabi bersabda : Sahurlah karena didalam sahur terdapat barokah. (Muttafaq ‘alaihi).

Nabi bersabda : Tidaklah manusia dalam kebaikan kecuali ketika mereka menyegerakan berbuka. (Muttafaq ‘alaihi)

Nabi bersabda : Ketika salah seorang kalian berbuka maka berbukalah dengan kurma karena sesungguhnya terdapat berkah, dan jika tidak ada maka dapat dnegan air, sesungguhnya air itu suci. (Shahih riwayat Tirmidzi)

Ketika berbuka maka Nabi berdoa : “Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan semoga pahala ditetapkan jika Allah mengehendaki”.

(Hasan riwayat Abu Dawud)

  • Jangan terlalu banyak serta berlebih ketika sahur sehingga luput dari sholat subuh dan aktivitas pada pagi hari. Dan hendaknya bersegera beraktivitas pada pagi hari , sebagaimana sabda Nabi : “Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi harinya”.

(Shahih riwayat Ahmad)

  • Memperbanyak dzikir kepada Allah, membaca Al-Quran dan mendengarkannya, mentadaburi maknanya, mengamalkannya, dan pergi ke masjid untuk mendengarkan pelajaran-pelajaran yang bermanfaat.
  • Hendaknya tidak menonton film, melihat televisi agar tidak merusak akhlak dan merusak puasa.
  • Hendaknya tidak berlebihan ketika makan dan minum saat berbuka, sehingga menghilangkan faidah dari puasa yang dilakukan dan dapat merusak kesehatan-mu.
  • Banyak bersedekah kepada kerabat dekat atau orang yang membutuhkan, bersilaturahmi dan perbaiki/lerai pertengkaran dan jadilah orang yang dermawan/murah hati maka sesungguhnya Nabi menjadi manusia yang sangat dermawan ketika bulan Ramadhan.

*********

Faidah puasa

Ketahuilah wahai saudaraku muslim, sesungguhnya Allah mewajibkan bagi kita puasa sebagai bentuk ibadah kepada Allah, yang didalamnya ada beberapa faidah :

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    Firman Allah, yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah:185)
  2. [Yaitu menjadikan kalian semua mendapat tingkatan/derajat takwa kepada Allah dengan adanya ibadah puasa]
  3. Sabda Nabi : “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim)  (yaitu mencegah seorang dari perkataan kotor, dari dosa dan perisai dari api neraka).
  4. “Siapa yang memberi makan orang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tersebut tidak berkurang sedikitpun pahala dari orang yang berpuasa” (HR. Tirmidzi).
  5. “Umrah pada bulan Ramadhan (pahalanya) seperti pahala haji”. (HR. Bukhari dan Muslim)
  6. Manfaatkan puasa Ramadhan dari meninggalkan merokok yang dapat menyebabkan kanker dan batuk. Dan tinggalkan merokok pada saat berbuka (sore/malam hari), sebagaimana engkau telah berhasil meninggalkannya pada saat pagi hari (ketika berpuasa).
  7. Puasa mengistirahatkan alat pencernaan dan lambung, dari lelah/capek kerja keduanya, dan mencerna kotoran-kotoran dalam diri kita, menguatakan diri kita, dan puasa dapat mengobati banyak penyakit. Dan dengan puasa orang yang suka merokok akan dapat berhenti merokok, dan secara dalil syar’i diharamkan dan (puasa dapat) membantu untuk meninggalkannya.
  8. Puasa dapat mensucikan jiwa, terbiasa melakukan kebaikan, melatih disiplin, melakukan ketaatan kepada Allah, melatih kesabaran, melatih ikhlas, melatih keinginan untuk beribadah kepada Allah.
  9. Orang yg berpuasa merasakan sama dengan orang lain yg berpuasa (kaya dan miskin sama melakukan ibadah puasa), orang berpuasa dan berbuka sama dengan yang lain, dan hal itu menjadikan baik kerukunan dalam menjalankan agama Allah.
  10. Akan membantu saudaranya yang kelaparan, dengan puasa menggugah hatinya pada orang yang membutuhkan, dan bersedekah pada orang yang fakir dan miskin.
  11. Ketika orang yang berpuasa dapat meninggalkan perkara yang halal karena mencari ridho Allah maka lebih utama pada dirinya untuk meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah
  12. Dengan puasa melatih melaksanakan amanah dan merasa diawasi oleh Allah : ketika orang yang berpuasa meninggalkan perkara yang membatalkan puasa, dia mengetahui bahwa Allah mengawasi, sehingga melatih amanah untuk bermuamalah dengan manusia.

*********

Hari-hari yang diharamkan berpuasa

  1. Dua hari Ied yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, sebagaimana sabda Nabi dalam hadits dari Umar bin Khottob rodhiyallahu anhu : “Sesungguhnya dua hari ini Nabi melarang berpuasa yaitu hari berbuka dari puasa kalian, dan hari kalian makan sembelihan-sembelihan kalian (yaitu Idul Adha)”. (HR. Muslim)
  • Hari ketika wanita sedang haid dan nifas. Sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Bukankan salah satu diantara kamu semua, ketika haid tidak shalat dan tidak puasa? Itu adalah diantara kekurangan agamanya”. (HR. Bukhari)
  • Berpuasa terus menerus selama dua hari berturutan atau lebih banyak dengan maksud dengan tidak berbuka, yang disebut dengan wishol.  Sabda Nabi : “Hendaknya kalian berhati-hati dari puasa wishol”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sabda Nabi : “Janganlah melakukan wishal. Jika salah seorang di antara kalian ingin melakukan wishal, maka lakukanlah hingga sahur (menjelang Shubuh)“.

  • Puasa pada hari syak (hari ragu-ragu) yaitu pada hari ketiga puluh dari bulan Sya’ban, sebagaimana sabda Nabi dari sahabat Amr bin Yasir :  “Siapa yang berpuasa pada hari syak maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim”. (HR. Abu Dawud)

*********

Hari-hari yang dibenci berpuasa

  1. Puasa hari arafah bagi orang yang berhaji dan wukuf disana.

“Ummu Fadhl mengirimkan susu kepada Nabi dalam keadaan beliau berada diatas unta beliau (pada hari arafah). Maka beliau meminum susu tersebut”. (HR. Muslim)

  • Puasa pada hari Jumat sendirian (atau pada hari Jumat saja)

Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : Janganlah kalian berpuasa pada hari  Jumat kecuali bersama dengan hari sebelumnya atau hari sesudahnya. (HR. Ahmad)

  • Puasa pada hari sabtu sendirian (atau pada hari Sabtu saja), sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam :

“Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali pada puasa yang Allah wajibkan bagi kalian. Jika kalian tidak mempunyai makanan kecuali kulit anggur atau batang kayu maka hendaknya dia mengunyahnya”. (HR. Ahmad)

  • Puasa sepanjang waktu selama setahun tanpa ada berbuka, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Janganlah kalian berpuasa selamanya”. (HR. Nasai)
  • Puasanya seorang wanita yang suaminya berada dirumah kecuali atas ijin suaminya. Sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Jangalah kalian para wanita berpuasa dan suaminya berada dengannya kecuali atas ijinnya kecuali puasa Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Tiga hari tasyrik yaitu 11,12,13 bulan Dzulhijah. Sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Hari-hari tasyrik adalah hari makan minum dan mengingat kepada Allah”. (HR. Muslim)

*********

Golongan yang diperbolehkan berbuka

  1. Orang yang sakit dan sedang dalam perjalanan, namun bagi keduanya qodho’ (mengganti pada hari yang lain). Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 184, yg artinya : “Maka siapa diantara kalian yang sakit atau sedang safar/perjalanan maka baginya mengganti pada hari yang lain”.

Adapun orang yang sakit dan tidak diharapkan obatnya/tidak mungkin kesembuhannya maka baginya memberikan makan kepada orang miskin setiap hari.

  • Wanita yang haid dan nifas. Sebagaimana dari riwayat Aisyah : “Adalah kami diperintahkan men-qodho puasa dan tidak diperintahkan untuk qodho’ sholat”. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Orang tua renta (baik laki atau peremuan) yang keduanya tidak kuat berpuasa, maka baginya memberikan makanan setiap hari pada orang miskin.
  • Wanita hamil dan menyusui, ketika dia khawatir pada dirinya sendiri atau pada anaknya, baginya memberikan makanan setiap hari pada orang miskin.

*********

Perkara yang membatalkan puasa

Apa-apa yang membatalkan puasa dan baginya perlu qodho’ :

  1. Makan, minum serta merokok dengan sengaja (baginya juga perlu bertaubat).
  2. Muntah dengan sengaja, sebagaimana sabda Nabi : “Dan siapa yang muntah maka baginya perlu qodho’”. (Shohih riwayat Hakim dan selainnya)
  3. Haid atau nifas walaupun sekilas/beberapa saat pada akhir sebelum tenggelamnya matahari.

Apa-apa yang membatalkan puasa dan baginya perlu qodho’ dan kafarah (denda) :

Jima’ (berhubungan suami istri pada siang hari), maka kafarah baginya : membebaskan budak, berpuasa dua bulan secara berturut-turut atau memberikan makan orang miskin selama 60 hari.

*********

Perkara yang tidak merusak puasa

  1. Makan dan minum secara tidak sengaja, tidak ada qodho dan kafarah baginya. Sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Siapa yang lupa sedang dia dalam keadaan berpuasa, lalu dia makan dan minum maka hendaknya dia sempurnakan puasanya karena ketika itu Allah memberikan makan dan minum kepadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan (yang tanpa disengaja) dan kesalahan (karena lupa) dari umatku dan kesalahan yang terpaksa dilakukan”. (shahih riwayat Thabrani)

  • Muntah tanpa disengaja.

Sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Siapa yang muntah tanpa disengaja maka tidak wajib qodho’ (mengganti) baginya”. (HR. Hakim)

  • Mencium istri.

Dari Aisyah rodhiyallahu anha berkata : “Adalah Rasul menciumku dan beliau dalam keadaan berpuasa, beliau mencumbui aku dan beliau dalam keadaan berpuasa, dan siapa diantara kalian yang mampu mengontrol dirinya/mengendalikan dirinya seperti Nabi”.  (HR.Muslim)

  • Mimpi basah di siang hari walaupun keluar mani.
  • Keluar mani tanpa disengaja atau karena fikiran tertentu kemudian keluar tanpa disengaja.
  • Mengakhirkan mandi janabah atau mandi haid atau nifas dari malam hari sampai terbitnya fajar, akan tetapi hendaknya disegerakan karena untuk sholat.
  • Mahmadhoh (berkumur-kumur) dan istinsyaq (menghirup air ke hidung) dengan tidak berlebihan.

Sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Sempurnakan wudhu, bersihkan diantara sela jari jemari, dan berlebihanlah dalam melakukan istinsyaq kecuali apabila engkau dalam keadaan berpuasa”. (shohih riwayat ahlu sunan)

  • Bersiwak pada setiap waktu, dan menggunakan sikat gigi dari kayu dan menggunakan odol, dengan syarat tidak masuk ke dalam kerongkongan.
  • Mencicipi makanan dengan syarat tidak masuk sesuatupun ke dalam kerongkongan.
  1. Obat tetes baik pada mata atau telinga dan tidak sampai ke tenggorokan.
  1. Injeksi atau suntikan yang tidak mengandung gizi/sari makanan dan yang semacamnya.
  1. Menelan air ludah, dan sesuatu tidak mungkin untuk menghindarinya seperti debu dan sejenisnya.
  1. Menggunakan obat yang tidak masuk ke dalam kerongkongan seperti semprotan atau yang menderita asma.
  1. Gigi yang tanggal atau keluarnya darah dari hidung atau mulut atau dari bagian tubuh yang lainnya.
  1. Mandi agar dingin karena kehausan dan cuaca yang panas atau karena selainnya.
  1. Memakai wewangian pada siang bulan Ramadhan baik berupa bentuk asap/uap atau cairan wewangian.
  1. Ketika adzan subuh/terbit fajar dan gelas masih ditangan, maka hendaknya dia tidak meletakkannya sampai memenuhi kebutuhannya, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam :

“Jika salah seorang diantara kalian mendengar adzan sedangkan gelas masih ditangannya maka jangan meletakkannya sampai memenuhi kebutuhan/hajatnya atau dihabiskan isinya”. (HR. Abu Dawud)

  1. Hijamah/bekam, “Sesungguhnya Nabi bekam dan beliau sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun hadits yang berbunyi : “Batal puasa orang yang bekam dan dibekam”, riwayat Ahmad. Maka ini dimansukh/hapus dengan hadits yang sebelumnya.

*********

Puasa-puasa sunnah dan keutamaannya

  1. Puasa 6 hari pada bulan Syawal.

Sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan 6 hari bulan Syawal, seperti puasa setahun penuh”. (HR. Muslim)

“Puasa pada bulan Ramadhan setara dengan puasa 10 bulan, sedangkan puasa 6 hari bulan Syawal setara dengan puasa 2 bulan, oleh karenanya seperti puasa selama setahun”. (Shahih riwayat Ahmad).

Maka ketika berulang-ulang puasa tersebut setiap tahun maka seperti berpuasa sepanjang waktu/sepanjang masa.

  • Puasa pada hari Arafah bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji.

Sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Puasa satu hari Arafah (yaitu 9 Dzhulhijah), saya berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan  dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya”. (HR. Muslim)

  • Puasa pada hari Asyura dan hari sebelumnya atau sesudahnya.

Sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam : “Puasa hari asyura (yaitu 10 Muharam), saya berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya”. (HR. Muslim)

“Jika aku bertemu dengannya, aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharam”. (HR.Muslim)

  • Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban.

“Adalah Nabi memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Puasa Senin Kamis.

Sabda Nabi  sholallahu alaihi wassalam : “Di hadapkan/disetorkan amal-amal pada hari Senin dan Kamis, dan aku suka ketika disetorkan sedangkan aku sedang berpuasa”. (Shahih riwayat Nasai)

Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, maka beliau menjawab : hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkan wahyu untukku”.  (HR. Muslim) (atau turun wahyu kepadaku/kepada Rasulullah).

  • Puasa Ayyamul bidh.

Perkataan salah seorang sahabat rodhiyallahu anhu : Nabi memerintahkan kami berpuasa setiap bulan pada ayyamul bidh yaitu 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah. (Hasan riwayat Nasai dan selainnya)

  • Puasa sehari dan berbuka sehari.

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bahwa Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : “Puasa yang paling dicintai di sisi Allah adalah puasa Daud dan sholat yang paling dicintai Allah adalah sholat Daud. Beliau biasa tidur dipertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam dan tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari”. (HR. Bukhari dan Muslim)

*********

Peringatan Umum

Terkait dengan puasa Sunnah, maka :

  1. Seorang wanita hendaknya tidak berpuasa kecuali dengan ijin suaminya, maka ketika dia berpuasa kemudian suaminya memerintahkan berbuka maka hendaknya dia berbuka.
  • Puasa sunnah, perkaranya pada dirinya sendiri, ketika dia ingin berpuasa maka berpuasa, jika berbuka maka berbuka dan tidak mewajibkan biat sebelumnya.

Sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wassalam :

Dari Aisyah, suatu hari Nabi masuk menemui kami dan bertanya : Apakah ada makanan?

Maka kami menjawab : Tidak. Kemudian beliau bersabda : Kalau begitu, saya akan berpuasa.

Pada hari yang lain, beliau menemui kami. Kemudian Aisyah berkata : Wahai Rasulullah, kita mendapat hadiah, haisun.

Maka Nabi berkata : sesungguhnya pagi ini aku berpuasa, maka Nabi memakan hadiah tersebut. (HR. Muslim)

[haisun yaitu kue gandum dengan lemak dan susu yang kering]

*********

Sholat tarawih

  1. Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda :

“Siapa yang sholat pada bulan Ramadhan, karena iman dan berharap pahala dari Allah maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • “Adalah Nabi sholat malam sebanyak 13 rakaat : termasuk didalamnya witir dan sholat subuh”. (HR. Bukhari)
  • “Adalah Nabi tidak menambah di dalam bulan Ramadhan dan selain bulan Ramadhan, lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat maka jangan ditanya bagus dan lamanya, kemudian beliau shalat 3 rakaat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[Boleh sholat tarawih pada awal malam, dan yang utama di akhir malam]

  • Adalah Nabi ketika masuk 10 hari terakhir bukan Ramadhan maka beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan memperketat sarungnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[memperketat sarung maksudnya : bersungguh-sungguh dalam beribadah]

  • Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : “Carilah malam Qodar pada malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)
  • Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : “Siapa yang sholat pada malam Qodar, karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Dari Aisyah rodhiyallahu anha berkata : Wahai Rasulullah, jika aku menemui malam Qodar, maka apa yang harus aku baca ?  Maka Nabi bersabda : katakana : Allahuma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’fuani.

(shahih riwayat Tirmidzi)

*********

I’tikaf

  1. Pengertian I’tikaf secara syar’i adalah senantiasa dimasjid dan tinggal didalamnya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Itikaf merupakan perkara yang di syariatkan secara ijma ulama, sesungguhnya hal ini disyariatkan :

“Sesungguhnya Nabi senantiasa i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau juga i’tikaf setelah meninggalnya beliau”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • I’tikaf terbagi menjadi dua yaitu yang wajib dan sunnah.
  • I’tikaf wajib : wajib bagi seseorang dikarenakan nadzar.
  • I’tikaf sunnah : disunnahkan bagi seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencontoh Nabi, dan sangat dianjurkan pada sepuluh akhir bulan Romadhon.
  • Waktu I’tikaf : Adalah Nabi ketika ingin itikaf maka beliau sholat subuh kemudian masuk mulai beri’tikaf. (HR. Bukhari dan Muslim)

[Atau pada pagi hari subuh pada hari kedua puluh bulan Ramadhan]

Dan terkadang Nabi juga I’tikaf pada sepuluh hari akhir dari bulan Syawal. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Syarat i’tikaf : bisa membedakan antara yang haq dan batil, suci dari janabah, haid dan nifas.
  • Rukun I’tikaf : berdiam/tinggal dimasjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
  • Yang diperbolehkan bagi orang yang i’tikaf, berikut ini :
    • Keluar dari tempat itikaf untuk berpamitan pada keluarganya.
    • Menyisir rambut, mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan badan, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang paling bagus.
    • Keluar dari masjid karena ada keperluan yang seharusnya dilakukan : seperti buang air kecil dan buang air besar, atau makan serta minum ketika tidak ada yang datang mengantarkannya.
  • Adab itikaf :

Dari Aisyah rodhiyallahu anha : Yang disunnahkan ketika itikaf yaitu tidak keluar kecuali ada hajat/keperluan yang seharusnya dia lakukan, dan tidak boleh menjenguk orang sakit, dan tidak boleh mengauli istrinya, bercumbu dengan istri, dan tidak ada itikaf kecuali di situ didirikan sholat berjamaah, dan disunnahkan bagi yang itikaf untuk berpuasa”. (HR. Baihaqi)

  • Perkara yang membatalkan itikaf :

Jima’, keluar masjid selain ada kebutuhan dengan sengaja, hilang akal karena gila atau mabuk, haid dan nifas.

  1. Yang disunnahkan dalam itikaf :

Memperbanyak perkara-perkara ibadah sunnah seperti sholat, membaca Al-Quran, dzikir, membaca buku-buku agama.

  1. Yang dibenci dalam itikaf :
    1. Menyibukkan diri dengan apa yang tidak bermanfaat baginya, baik dari perkataan atau perbuatan.
    1. Diam dari berkata/berbicara dan beranggapan bahwa itu bentuk mendekatkan diri kepada Allah

(lihat Fiqh Sunnah)

*********

Zakat Fitri

  1. Hukumnya : wajib atas setiap muslim baik yang kecil atau besar, laki atau perempuan, yg merdeka ataupun dia sebagai budak.
  • Kepada siapa yang wajib untuk zakat fitri : atas setiap muslim yang merdeka, yg mempunyai makanan pokok satu sho’, yang kelebihan dari makanannya dan keluarganya selama sehari dan semalam, sehingga wajib baginya mengeluarkan zakat fitri, untuk dirinya atau yg diwajibkan menafkahinya seperti istri, anak-anak atau orang yang berada pada tanggungannya.
  • Kadar zakat fitri : satu sho’ kurma, atau gandum atau anggur atau yang semisalnya.  Dikeluarkan dengan makanan yang umum pada negara tersebut seperti beras dan ukurannya kurang lebih 2,5 kilogram.

Dari Ibnu Umar rodhiyallahu anhu : Nabi mewajibkan zakat fitri dalam bulan Ramadhan sebesar satu sho’ kurma atau gandum, baik untuk seorang muslim yang merdeka dan budak, laki-laki atau perempuan, kecil atau besar, dari kaum muslimin”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Hikmah disyariatkan zakat fitri :
    • membantu orang fakir dan miskin, dan orang yang membutuhkan sehingga mencukupi mereka di hari raya Idul Fitri.
    • Membersihkan dari orang yang berpuasa atas perkataan yang kotor dan kasar.
  • Kepada siapa diberikan : zakat fitri diberikan kepada orang-orang miskin, sebagaimana dalama hadits : “Zakat fitri membersihkan bagi orang yang berpuasa dari hal yg sia-sia dan uacapan yang kotor dan zakat fitri makanan untuk orang miskin”.

Dan orang miskin, sebagaimana penjelasannya dalam hadits Nabi :

“Orang yang tidak punya kekayaan, maka diberikan sedekah kepadanya sehingga tidak meminta-minta kepada orang lain”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Kapan dikeluarkan zakat fitri : yang wajib adalah mengeluarkan sebelum sholat Ied, dan boleh mengeluarkan sehari sehari atau dua hari sebelum idul fitri.

Dari Abdullah bin Abbas rodhiyallahu anhuma berkata : “Allah mewajibkan zakat fitri  sebagai penyuci orang yang berpuasa dari ucapan yang sia-sia dan kotor, siapa yang mengeluarkan sebelum sholat Ied maka itu zakat fitri dan diterima, sedangkan siapa yang mengeluarkan setelah sholat Ied maka itu hanyalah sedekah biasa”. (Hasan, riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah dan yang selain keduanya)

*********

Sholat Ied di mushola

Adab ketika Sholat Ied yaitu :

  1. Mandi, memakai wewangian, memakai pakaian yang bagus, dan mengajak keluarga dan anak-anak ke tempat lapang, berangkat dari satu jalan dan pulang dengan jalan yang lain.
  • Nabi tidak berangkat pada hari raya Idul Fitri sampai beliau makan kurma, dan beliau makan dengan jumlah yang ganjil. (jumlah ganjil bisa 1,3,5,7,9)
  • Nabi memerintahkan untuk mengeluarkan kepada para wanita baik yang haid maupun nifas, baik yang masih gadis atau budak, Adapun yang haid maka mereka tidak sholat, menjauh dari tanah lapang, namun tetap menyaksikan kebaikan syiar kaum muslimin

“Wahai Rasulullah, salah satu dari kami tidak mempunyai jilbab”.

Maka Nabi menjawab : “Hendaknya salah satu dari kalian meminjamkan jilbab kepadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Adalah Nabi keluar pada hari fitri atau idul adha ke mushola/tempat lapang, dan tidak diawali dengan sholat apapun. (HR. Bukhari)
  • Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Takbir pada sholat idul fitri : pada rakaat awal sebanyak 7 kali, dan pada rakaat kedua sebanyak 5 kali, dan membaca al-fatihah dan surat, setelah takbir keduanya (yaitu yang 7 kali dan 5 kali)“. (Hasan riwayat Abu Dawud)

Apa yang bisa diambil faedah dari hadits-hadits

  1. Sholat idul fitri dan idul adha di syariatkan yaitu sebanyak dua rakaat : rakaat pertama sebanyak 7 kali ditambah satu takbiratul ihram, dan pada rakaat kedua sebanyak 5 kali, kemudian membaca al-fatihah dan surat-surat yang mudah membacanya.
  • Sholat idul fitri dan idul adha di mushola : yaitu didekat kota Madinah, Rasul sholat di tempat tersebut, dan bersama Nabi ketika itu ada anak-anak kecil, perempuan muda dan perempuan lanjut usia sampai para wanita yang haid.

Berkata Ibnu Hajar dalam Fathul Bari : pelaksanaan sholat idul fitri adalah di mushola dan tidak dimasjid kecuali dalam keadaan darurat.

  • Di tekankan bertakbir pada malam idul fitri, sampai selesai sholat idul fitri, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah:185, yg artinya : “Dan hendaklah kalian sempurnakan bilangan (bulan Ramadhan) dan bertakbirlah kepada Allah atas apa yang Allah berikan petunjuk kepada kalian”.

*********

Perbuatan baru dalam Ied

Beberapa perbuatan baru dalam agama ketika perayaan idul fitri :

  1. Mengkhususkan ziarah kubur ketika idul fitri, yaitu telah menjadi kebiasaan sebagian orang yang ziarah kubur pada hari raya idul fitri, yang hal tersebut tidak ada dalil pengkhususan ziarah kubur pada hari raya idul fitri.
  2. Ikhtilat : bercampur laki dan perempuan dalam kubur dan pada perayaan-perayaan. Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan yang memberikan madharat kepada laki-laki kecuali para wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Membaca Al-Quran : telah datang larangan dari Nabi membaca Al-Quran di kuburan :

Nabi sholallahu alaihi wassalam  bersabda : “Janganlah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah”. (HR. Muslim)

Ketika Nabi berdiri disamping kuburan salah satu sahabatnya setelah menguburkannya, maka beliau berkata pada para sahabatnya yang lain : ”Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mintalah keteguhan baginya, kaena saat ini dia sedang ditanya”.

 Dan Nabi sholallahu alaihi wassalam mengajarkan kepada para sahabatnya ketika mereka masuk ke dalam kuburan maka hendaknya mereka berkata :

Assalamu’alaikum ya ahlad diyari minal mu’minina wal muslimina wa inna insya’allahu bikum lahiquna, As’alullaha lana wa lakum al-afiyah”. (HR. Muslim)

(Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kubur dari orang-orang mukmin dan muslim. Kami pun insyaallah akan bertemu dengan kalian. Aku mohon kepada Allah kesejahteraan bagi kami dan bagi kalian).

*********

Syarat-syarat La Ilaha Illallah (bagian 6)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Kelima: Mencintai La ilaha illallah dengan sepenuh hati

Maksudnya mencintai kalimat ini dan apa yang dikandungnya. Jika seorang hamba telah mencintai kalimat ini, maka ia akan rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi mempertahankan kalimat ini.

Konsekwensi kecintaan di atas, ia juga akan mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihiwasallam, mencintai amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, serta mencintai orang-orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman,

“وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ”

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. QS. Al-Baqarah (2): 165.

Dari Anas Bin Malik radiyallahu‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu‘alaihiwassalam bersabda,

“ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ؛ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ”.

”Ada tiga karakter yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. (1) Allah dan Rasul Nya lebih dicintai dari selain keduanya. (2) Ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. (3) Membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana kebenciannya jika dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga mengikuti Rasul shallallahu‘alaihiwasallam, mencocoki jalan hidupnya serta menerima petunjuknya.

Kecintaan di atas tidak akan sempurna melainkan dengan merealisasikan kebalikannya. Yakni dengan membenci segala sesuatu yang bertentangan dengan La ilaha illallah , membenci semua amalan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, serta membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

” إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ “

“Sesungguhnya simpul keimanan yang paling kuat adalah: engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah”. HR. Ahmad dari al-Barâ’ bin ‘Azib dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/183) dengan berbagai tambahan. ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Syawal 1434 / 12 Agustus 2013

Syarat-syarat La ilaha illallah (5)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keempat: Jujur dalam mengucapkan dan mempraktekkan
La ilaha illallah

Jujur berarti selaras antara ucapan dengan isi hati. Kebalikannya adalah dusta.

Allah ta’ala menginginkan para hamba-Nya agar mereka berlaku jujur dalam segala sesuatu, terlebih dalam mengucapkan kalimat mulia ini. Antara kalimat yang terucap di lisan dengan keyakinan yang ada di dalam hati, haruslah selaras.

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tujuan dari berbagai ujian dalam kehidupan ini,

“الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ”

Artinya: “Alif Lâm Mîm. Apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”. QS. Al-‘Ankabut (29): 1-3.

Secara spesifik Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan keharusan jujur dalam mengucapkan kalimat mulia ini, dalam sabdanya,

“مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ؛ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ”

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dengan kejujuran dari hatinya; melainkan Allah pasti akan mengharamkannya dari api neraka”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz.

Inilah sifat orang yang beriman; jujur dalam perkataan dan perbuatan. Adapun kaum munafikin, maka kedustaanlah yang mendominasi kehidupan mereka.

Allah jalla wa ‘ala membongkar kedok mereka,

“إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ”

Artinya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (wahai Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah utusan Allah”. Allah mengetahui bahwasanya engkau adalah benar-benar utusan-Nya, dan Allah juga mengetahui bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta”. QS. Al-Munafiqun (63): 1.

Semoga kita semua termasuk golongan yang beriman, bukan orang yang munafik.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182-183). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Ramadhan 1434 / 22 Juli 2013

Syarat-syarat La ILaha Illallah (bagian 4)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketiga: Ikhlas dalam mengucapkan dan mempraktekkan La ilaha illallah

Ikhlas berarti murni. Seorang hamba tertuntut untuk memurnikan niatnya hanya untuk Allah semata saat ia mengucapkan kalimat tahlil. Begitu pula ketika mempraktekkan kalimat mulia ini, dia harus ikhlas. Dalam arti memurnikan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah ta’ala saja.
Allah ta’ala berfirman,

“فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ . أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ”.

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)”. QS. Az-Zumar (39): 2-3.
Lihat pula QS. Az-Zumar (39): 11 dan 14.

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟” فَقَالَ: “لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ؛ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ. أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ”.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia meraih syafa’atmu pada hari kiamat?”. Beliau menjawab, “Aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang mendahuluimu bertanya kepadaku tentang hal ini. Karena aku tahu persis semangatmu untuk mempelajari hadits. Orang yang paling berbahagia untuk meraih syafa’atku pada hari kiamat, adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah, dengan penuh keikhlasan dari dirinya”. HR. Bukhari.

Maka seorang insan wajib untuk membersihkan seluruh ibadahnya dari syirik, besar maupun kecil. Dia tidak menyembah selain Allah, siapapun dan apapun itu. Dia tidak menyembah malaikat, nabi, wali, kyai ataupun jin. Ia juga tidak menyembah batu, pohon, keris maupun kuburan. Namun yang ia sembah hanyalah Allah ta’ala semata.

Saat beribadah kepada Allah pun, seorang muslim tidak mengotori ibadahnya dengan noda riya’. Ia beribadah semata-mata karena mengharap ridha Allah saja. Inilah makna ikhlas dalam berkalimat tahlil.

Karenanya, jangan sampai praktek keseharian seseorang bertolak belakang dengan kalimat yang diucapkannya dengan lisan. Lisannya rajin melantunkan tahlil, tapi perilakunya masih dipenuhi dengan kesyirikan. Na’udzubillah min dzalik!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1434 / 27 Mei 2013

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182). ]