Berikan Sambutan Hangat

Anak adalah permata indah yang menjadi hiasan keluarga yang bisa membuat hati orang tua senang dan gembira. Ketika anak merasa gembira maka kita sebagai orang tua juga akan merasakan hal yang sama yaitu ikut bergembira. Kegembiraan anak adalah nilai mahal yang tidak bisa diukur dengan materi. Karena menyenangkan anak dan membuat anak tetap riang gembira bukanlah pekerjaan yang mudah.

Anak yang memiliki sifat riang dan bergembira merupakan salah satu ciri anak yang bersemangat tinggi. Anak yang memiliki semangat tinggi maka akan lebih bersikap aktif dan akan lebih mampu untuk menyelesaikan masalah dengan baik.

Read moreBerikan Sambutan Hangat

Kecopetan Sholat

Kecopetan adalah salah satu kejadian tidak mengenakkan yang barangkali pernah kita alami. Akibatnya kita bisa sedih berhari-hari. Apalagi bila benda yang dicopet adalah sesuatu yang berharga, semisal perhiasan atau HP. Kesedihan itu wajar dan manusiawi.

Namun yang tidak wajar adalah manakala kita kecopetan sesuatu yang lebih berharga dibanding perhiasan, lalu perasaan kita biasa-biasa saja. Seakan tidak ada kejadian apa-apa. Sesuatu yang amat berharga itu adalah shalat.

Mari kita menyimak hadits berikut ini,

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ الاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ، فَقَالَ: “هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ”.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang tolah-toleh saat shalat”. Beliau menjawab, “Itu adalah sesuatu yang dicopet setan dari shalat seorang hamba”. HR. Bukhari.

Tengak-tengok saat shalat itu terbagi menjadi dua jenis:

Read moreKecopetan Sholat

Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 8)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketujuh: Patuh

Maksudnya adalah tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat mulia tersebut. Allah ta’ala berfirman,

“وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ”

Artinya: “Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong”. QS. Az-Zumar (39): 54.

Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk dan patuh terhadap kandungan maknanya dan tidak mengabaikan maksud kalimat syahadat tersebut. Sikap membangkang dan tidak mau tunduk terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya menjadikan ikrar tersebut tidak bermakna. Sesungguhnya makna Islam itu sendiri ketundukan, di mana seseorang yang masuk Islam diharapkan memiliki sikap tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang ada di dalamnya. Allah ta’ala berfirman,

“وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ”

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia adalah orang yang mengerjakan kebajikan”. QS. An-Nisa’(4): 125.

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan konsekuensi keimanan, yang berupa ketundukan sikap tanpa keberatan.

“فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”

Artinya: “Maka demi Rabbmu, pada hakikatnya mereka itu tidak beriman sebelum menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya.” QS. An-Nisa’ (4): 65.

Maka seorang muslim sejati saat mengucapkan kalimat la ilaha illallah, ia akan dengan sepenuh hati patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, terutama yang hukumnya wajib. Sebab manusia merupakan hamba bagi
Rabbnya, sehingga apapun yang diperintahkan oleh-Nya harus dipatuhi, apalagi bila perintah itu bersifat wajib.
Jika itu tidak ditaati maka bersiaplah untuk ditimpa azab yang pedih.

“فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ”

Artinya: Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. QS. An-Nur (24): 63.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulqa’dah 1434 / 9 September 2013

[Disusun oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. ]

Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 7)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keenam: Menerima segala konsekwensi La ilaha illallah
Penerimaan ini akan menggerakkan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh untuk menjalankan ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala.

Di dalam al-Qur’an telah diceritakan akibat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang enggan menerima konsekwensi dari kalimat mulia ini dan menolak ajaran agama:

“وَكَذَلكَ مَا أَرْسَلنَا مِنْ قَبْلكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَال مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا على أُمَّةٍ وَإِنَّا على آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ . قَال أَوَلوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَي مِمَّا وَجَدْتُمْ عَليْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلتُمْ بِهِ كَافِرُونَ . فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُكَذِّبِينَ”.

Artinya: “Demikian juga ketika kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelummu (wahai Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (keyakinan) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata, “Apakah (kalian akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa untukmu (keyakinan) yang lebih baik daripada apa yang kalian peroleh dari (keyakinan) yang dianut nenek moyangmu?”. Mereka menjawab, “Sungguh kami mengingkari (keyakinan) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya”. Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran)”. QS. Az-Zukhruf (43): 23-25.

Penerimaan secara total terhadap kalimat ini menuntut kita untuk senantiasa merasa ridha dengan Allah ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai nabi kita.

Segala bentuk keridhaan tersebut di atas tentu bukan hanya terucap di lisan belaka, namun harus diiringi dengan pembuktian yang nyata.

Keridhaan kita dengan Allah sebagai Rabb kita dibuktikan dengan kelapangan dada kita dalam menerima setiap apa yang ditakdirkan oleh-Nya berupa ujian dan cobaan, serta mensyukuri setiap nikmat yang dikaruniakan-Nya.

Adapun keridhaan kita dengan Islam sebagai agama, maka pembuktiannya adalah dengan tunduk terhadap setiap perintah agama, serta membenci apapun yang dibenci aturan agama. Juga menjadikan ajaran Islam ini sebagai pedoman hidup kita.

Sedangkan rasa ridha terhadap Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai Nabi kita, pembuktiaannya adalah dengan tidak membuat amalan-amalan yang menyelisihi tuntunan beliau. Juga menjalankan perintah beliau serta menjauhi larangannya.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Syawal 1434 / 26 Agustus 2013

[Diringkas dan terjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari makalah di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=269917. ]

Bahagia dengan mengembirakan orang lain

🍀💦🍀💦🍀💦

Prof. Dr. Abdul Hamid As Suhaibani seorang dosen di Riyadh bercerita saat saya berkunjung ke rumahnya bahwasanya Syaikh Ali Thanthawi pernah berkunjung ke Indonesia. Syaikh merasa galau dan kesepian, maka pergilah Syaikh ke suatu taman di kota Jakarta. Ia melihat ada anak kecil yang sedang makan coklat bersama orang tuanya. Tidak jauh darinya ada anak kecil lain yang menangis dengan menyebut kata cokelat kepada orang tuanya. Segera ia membeli cokelat dan memberikannya kepada anak kecil yang menangis. Anak tersebut bergembira mendapatkan cokelat dan orang tuanya berterima kasih. Beliau berkata, “Subhanallah, setelah itu saya merasakan kelapangan dan kebahagiaan.”

Syaikh Ali Thanthawi menyimpulkan atas kejadian tadi,
“Saya telah mengambil pelajaran bahwa kebahagiaan bukanlah karena harta, istana, para pelayan yang banyak tapi kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan hati. Jalan yang paling dekat dengan kebahagiaan hati dengan cara menggembirakan hati orang lain. Sebesar-besar kenikmatan dunia adalah berbuat Ihsan (kebaikan) kepada orang lain.” (Dari kitab, “Shuwarun Musyriqotun fii Induniisia”)

🍀💦🍀💦🍀💦
oleh : Ustadz Fariq Gasim Anuz hafizahullah