Kaidah-kaidah dalam Bersabar

Ringkasan catatan Faidah “Kaidah dalam Bersabar”
karya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.
disampaikan oleh : Ustadz Abdullah Roy hafizahullah
Di : Masjid Mujahidin, Universitas Negeri Yogyakarta
Tanggal : 8 Rajab 1439 H / 25 Maret 2018

Sabar ada tiga macam yaitu :
1. Bersabar dalam menjalankan perintah Allah.
2. Bersabar dalam menjauhi kemaksiatan.
3. Bersabar dalam menghadapi musibah.

Musibah bisa datang dari manusia lainnya, yaitu bisa berupa kedhaliman, kebencian, kedengkian, caci maki.

Kaidah-kaidah dalam bersabar yaitu :
1. Menyakini bahwa Allah azza wa jalla yang menciptakan semua perbuatan hamba, geraknya, diamnya. Apa yang Allah kehendaki maka terjadi, dan apa yang tidak Allah kehendaki maka tidak akan terjadi.
Maka tidaklah semua yang bergerak di alam ini, baik yang diatas dan dibawah serta segala turunannya kecuali dengan izin dan kehendak Allah, dan manusia hanyalah alat maka hendaknya melihat kepada yang menguasai mereka dan bukan pada perbuatan mereka, sehingga engkau akan dapat beristirahat/berlepas dari segala kegelisahan dan kegundahan.

2. Menyakini bahwa musibah yang menguasai kalian dikarenakan atas dosa-dosa/maksiat yang telah dilakukan.
Allah berfirman dalam surat As-Syura ayat 30, yang artinya : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.

Maka ketika manusia sudah menyadari bahwa musibah disebabkan karena dosa-dosa mereka maka mereka akan sibuk untuk ber-istighfar dan bertaubat.
Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu berkata : “Janganlah seorang hamba kembali kecuali kepada Rabb-nya dan janganlah takut kecuali pada dosa-dosanya”. (Majmu Fatawa)
Dalam riwayat yang lainnya dikatakan : “Tidaklah turun musibah kecuali karena dosa dan tidaklah diangkat musibah kecuali dengan taubat”.

3. Menyakini bahwa besarnya pahala bagi seorang hamba yang Allah sediakan adalah bagi siapa yang memaafkan dan bersabar.
Allah berfirman dalam surat As-Syura ayat 40, yang artinya :
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”.

Maka orang yang membalas kedhaliman yang diterimanya, ada tiga jenis (seperti dijelaskan dalam ayat diatas) :
a. Dhalim, yaitu membalas melebihi dari apa yg diterimanya.
b. Melakukan kedhaliman yang sama.
c. Memaafkan kedhaliman tersebut.

Dalam Dar’ Al-Mantsur di riwayatkan, bahwa nanti di hari kiamat akan di seru : “Maka berdirilah seorang yang wajib pahalanya dari Allah, maka tidak ada yang berdiri kecuali orang yang memaafkan dan berbuat kebaikan”.
Maka ketika telah menyakini pahala yg besar tersebut, maka akan mudah bagimu untuk bersabar dan memaafkan.

4. Menyakini bahwa memaafkan dan berbuat baik maka akan memberikan bekas atas hal tersebut, yaitu pada keselamatan hati.
Orang yang memaafkan adalah termasuk orang yang baik, dan Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 148, yang artinya : “Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.
Dan dalam surat Al-Maidah ayat 93, yang artinya :
“..Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

5. Sesungguhnya ketika kita membalas dendam maka akan diberikan kehinaan, sedangkan jika memaafkan maka Allah akan memberikan kemuliaan.
Dalam hadits riwayat Muslim, yg artinya : “Tidaklah seorang hamba memaafkan maka Allah akan memberikan izzah/kemuliaan”.

6. Terdapat faidah yang besar : Bahwasanya balasan tergantung pada jenis amal.
Bahwasanya diri kita dholim dan banyak dosa. Ketika kita memaafkan manusia maka Allah akan memaafkan kita, dan siapa yang mengampuni manusia maka Allah mengampuni kita.
Sebagaimana kita senang jika di maafkan dan diampuni oleh Allah atas kedholiman/dosa-dosa kita, maka kita juga memaafkan dan mengampuni manusia. Ini termasuk perkara yang menjadi sebab terbesar, agar kita senantiasa memaafkan dan bersabar.

7. Hendaknya kita menyadari bahwa ketika kita sibuk untuk melakukan balas dendam maka akan hilang/sia2 umur kita dan pecah hati kita dan terlewatkan maslahah yang tidak mungkin untuk diulang.
Sehingga hati akan terasa lapang, dan tidak tersibukkan dengan perkara untuk membalas dendam/bagaimana membalas perbuatan kedhaliman. Sehingga waktunya akan tersibukkan dengan perkara yang lebih bermanfaat.

8. Bahwa Nabi tidak pernah membalas dendam.
Diri yang mulia dan maksum seperti Nabi sholallahu alaihi wassalam saja, ketika di caci maki/cela tidak membalas dendam, maka terlebih lagi diri kita yang banyak kekurangan dan kehinaan. Maka wajar dan lumrah, diri kita yang banyak kekurangan, mendapat caci maki dan celaan.

9. Jika seorang di cela/disakiti karena di jalan Allah, di cela karena melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat maka wajib baginya bersabar. Maka pahalanya diserahkan pada Allah, dan tidak perlu membalas dendam.

10. Menyakini bahwa kebersamaan Allah bersama-nya ketika bersabar. Kecintaan Allah bersamanya ketika bersabar dan Allah ridho kepada-nya.
Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 46, yang artinya : “..Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Dalam surat Ali-Imran ayat 146, yang artinya : “..Allah menyukai orang-orang yang sabar”.

11. Menyakini bahwa sabar adalah setengah iman. Sehingga ketika tidak bersabar maka akan hilang setengah keimanan-nya. Dan orang yang bersabar akan menjaga keutuhan imannya dan Allah akan menolong orang yang bersabar.

12. Kesabaran seorang menunjukkan bahwa dia dapat menghukumi/menguasai dirinya sendiri.

13. Mengetahui bahwa Allah adalah penolong bagi orang-orang yang bersabar.

14. Kesabaran akan menjadikan orang-orang yang mendhalimi kita menjadi menyesal.
Allah berfirman dalam surat Fushilat ayat 34-35, yang artinya :
“…Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”

15. Terkadang membalas dendam menjadi sebab kejelekan bagi musuh dan kekuatan pada diri musuh tersebut.

16. Siapa yang terbiasa membalas dendam dan tidak bersabar, maka akan terjatuh pada kedhaliman.

17. Kesabaran akan menjadi sebab diampuni dosa dan mengangkat derajat seseorang.

18. Sesungguhnya minta maaf dan sabar merupakan pasukan yang besar dalam jiwa pribadi seorang, sehingga menjadikan musuh takut dan segan kepada dirinya.

19. Sesungguhnya ketika memaafkan musuhnya maka musuh merasa bahwa kita berada di atasnya, dan dia akan merasa bahwa dirinya berada dibawah kita, ini cukup menunjukkan kemuliaan orang yang memaafkan.

20. Ketika engkau memaafkan maka hal tersebut termasuk kebaikan yang menjadi sebab keselamatan dan kebahagiaan sedangkan jika engkau membalas maka akan hilang hal tersebut (menghilangkan kebahagiaan dan keselamatan) darimu. Sesungguhnya pahala kebaikan adalah kebaikan, begitu pula dari hukuman kejelekan adalah kejelekan berikutnya. Sehingga ketika kita banyak memaafkan maka akan menambah kebahagiaan yang banyak.

Alhamdulillah bini’mati tathimush sholihat. Barokallahu fikum.

[pdf-embedder url=”http://baitulmuthi.or.id/wp-content/uploads/2018/03/ar_Assabr.pdf” title=”kaidah_bersabar”]

Leave a Comment