Ringkasan hukum-hukum Puasa

Dalil kewajiban Puasa

Puasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dari rukun Islam, dan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan.

Dalil hal tersebut adalah dari Al-Kitab, Sunnah dan Ijma.

Dalil dari Al-Quran, seperti yang Allah firmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 183 – 185, yang artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Yaitu dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa diantara kalian”. Ada yang sakit atau dalam safar/perjalanan (dan dia berbuka) maka baginya berpuasa pada hari lain sebanyak yang ditinggalkan. Dan bagi orang yang berat menjalankan puasa maka baginya membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Dan barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika mengetahui.

(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di turunkan di dalamnya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan bagi petunjuk tersebut serta pembeda (antara yang haq dan batil). Karena itu barangsiapa diantara kalian hadir/menemui pada bulan itu, hendaknya dia berpuasa, dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang di tinggalkan, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak mengehendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Dan makna dari ‘kutiba’ : diwajibkan

Dan firman Allah : “Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan maka baginya berpuasa”, dan perintah pada ayat tersebut menunjukkan perintah wajib.

Dari Sunnah, hadits dari sahabat Abdullah bin Umar, Nabi bersabda : “Islam dibangun atas lima perkara…” dan disebutkan salah satunya adalah “puasa ramadhan”. Dan hadits-hadits yang menunjukkan atas kewajiban dan keutamaanya banyak dan sudah diketahui.

Dan ijma kaum muslimin atas kewajiban puasa Ramadhan, dan siapa yang mengingkarinya maka dia telah kufur.

Salah satu hikmah dari persyariatan puasa : bahwa puasa sebagai penyucian bagi jiwa, membersihkan dari akhlak yang rendah/kotor, karena dengan puasa mempersempit gerak syaitan dalam tubuh manusia karena syaitan bergerak dalam darah manusia. Maka ketika seorang manusia makan dan minum, membebaskan diri manusia dalam syahwat, melemahkan semangat/keinginan dan mengecilkan keinginan untuk ibadah; sedangkan puasa memberikan efek kebalikannya (dapat menjaga syahwat, memberikan semangat dalam ibadah).

(Mulakhos Fiqihi, Kitab Shoum, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan)

Dengan apa seorang wajib berpuasa pada bulan Ramadhan ?

Dengan salah satu diantara dua perkara, tidak ada yang ketiga, yaitu :

  1. Rukyah/melihat hilal Ramadhan
  2. Mengenapkan hari pada bulan Syaban menjadi 30 hari

Dan wajib berbuka / selesai dari puasa Ramadhan dengan salah satu dari dua perkara ini, tidak ada yang ketiga, yaitu :

  1. Rukyah/melihat hilal Syawal.
  2. Mengenapkan bulan Ramadhan menjadi 30 hari, ketika telah tetap hilal Ramadhan dengan dua orang saksi.

Dan dalil-dalil yang berkaitan dengan hal ini sangat banyak dari sunnah, diantaranya, dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda  : “Janganlah kalian berpuasa sampai melihat hilal, dan janganlah berbuka sampai melihat hilal, dan jika mendung/tertutup awan maka tetapkanlah baginya (tiga puluh hari)”. (HR. Bukhari:1902 dan HR. Muslim:1080)

Dalam lafadz Bukhari disebutkan : “Satu bulan ada 29 atau 30 hari, maka berpuasalah sampai kalian melihat hilal, dan jika terhalang/tertutup mendung maka sempurnakan hitungannya menjadi 30 hari”.

Dan dalam hadits lain yang di riwayatkan Muslim dari sahabat Abu Hurairah : “Dan jika mendung maka hendaknya kalian menyempurnakan bulan Syaban menjadi 30 hari”.

Jumhur ulama menjelaskan bahwa yang di maksud dengan “menetapkan baginya” yaitu melihat pada awal bulan dan menghitungnya sempurna 30 hari, dan yang rajih adalah dengan melihat rukyah hilal-nya.

Yang menguatkan hal ini juga adalah hadits yang melarang untuk berpuasa pada hari syak/hari ragu-ragu, yaitu hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi  shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Janganlah salah satu diantara kalian mendahului Romadhon dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali seorang yang biasa berpuasa maka berpuasalah pada hari tersebut”. (HR. Bukhari:1914 dan Muslim:1082)

Dan hadits dari Amar, riwayat Bukhari secara muallaq : “Siapa yang berpuasa pada hari syak, maka dia telah berbuat maksiat kepada Abul Qosim”.

Telah datang hadits dari Ibnu Umar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya umatku adalah ummi (tidak bisa baca dan tulis), kita tidak menulis dan menghitung, satu bulan adalah sekian dan sekian”, yakni kadang 29 hari dan kadang 30 hari.

Hadits ini menjadi dalil, akan salahnya menggunakan hisab ketika masuk dan keluar dari bulan Ramadhan, dan sesungguhnya yang benar adalah dengan menggunakan rukyah hilal atau menyempurnakan bulan Syaban menjadi 30 hari.

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  menyandarkan bahwa masuknya bulan Ramadhan dengan melihat hilal, bukan dengan perhitungan/hisab, hal ini menunjukkan kemudahan dalam syariat baik untuk yang awam atau orang yang alim.

 

Hukum-hukum yang terkait puasa sebelum masuk ke dalam bulan Ramadhan

  1. Diharamkan puasa sehari atau dua hari sebelum masuk bulan Ramadhan, dan hal tersebut dimaksudan karena untuk waspada/berhati-hati dengan datangnya Ramadhan. Akan tetapi jika seorang berkebiasaan berpuasa dan tidak berniat untuk hati2/waspada dengan Ramadhan maka hal tersebut tidak mengapa.

Seperti seorang yang biasa berpuasa senin kamis, puasa wajib seperti puasa nadzar, atau kafarah, atau puasa qadha ramadhan yg tahun sebelumnya, maka hal ini diperbolehkan.

Hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Janganlah salah satu diantara kalian mendahului romadhon dengan puasa sehari atau dua hari         sebelumnya, kecuali seorang yang biasa berpuasa maka berpuasalah pada hari tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Tidak sah puasa wajib kecuali dengan niat pada malam harinya.

Hadits riwayat Abu Dawud, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang tidak menggabungkan niat puasanya sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya”.

Dan dalam lafadz Nasai : “Siapa yang tidak menginapkan niat (pada malam hari) puasanya sebelum fajar”.

Dan dalam lafadz yg lain : “Siapa yang tidak menginapkan niat puasanya pada malam hari”.

  1. Niat juga dapat merusakkan puasa.

Barangsiapa yang berniat berbuka dari puasanya maka berbuka dan batal puasanya, hal ini merupakan pendapat yang shahih dari para ulama. Karena puasa adalah ibadah dan syaratnya     adalah niat pada seluruh ibadahnya. Ketika dia berniat memutus puasanya maka merusak ibadah tersebut dan batal ibadah serta hukumnya.

Sebagaimana hadits Nabi : “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Seorang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.”

 

Perkara yang membatalkan puasa

  1. Makan dan minum.

Dan hal tersebut dilakukan setelah fajar shodiq/fajar yang kedua, maka siapa yang makan atau minum salah satunya tanpa ada udzur maka rusak puasanya, dan baginya ada ancaman yang keras.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 187, yg artinya :

“..dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam..”.

Maka baginya qadha/mengganti pada hari lain disertai dengan taubat nasuha yang sebenarnya, dan menyesal serta berhenti dari hal tersebut.

  1. Berhubungan suami istri/ jima’ pada siang hari pada bulan Ramadhan.

Hal ini ketika mengetahui dan sengaja melakukan, maka wajib baginya qadha pada hari lain dan taubat nasuha, disertai dengan menyesal dan berhenti melakukan lagi, dan wajib baginya     kafarah yaitu membebaskan budak, jika tidak ada (budak) maka berpuasa pada 2 bulan berturut, dan jika tidak bisa maka memberi makan orang miskin sebanyak 60 orang;

Dalilnya adalah hadits dari sahabat Abu Hurairah : Adalah kami sedang duduk bersama Rasulullah, Ada seorang laki-laki menghadap kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, aku telah celaka. Beliau bertanya: “Apa yang mencelakakanmu?” Ia menjawab: Aku telah mencampuri istriku pada saat bulan Ramadhan. Beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan budak?” ia menjawab: Tidak. Beliau bertanya: “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab: Tidak. Lalu ia duduk, kemudian Nabi memberinya sekeranjang kurma seraya bersabda: “Bersedekahlan dengan ini.” Ia berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir daripada kami? Padahal antara dua batu hitam di Madinah tidak ada sebuah keluarga pun yang lebih memerlukannya daripada kami. Maka tertawalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  sampai terlihat giginya, kemudian bersabda: “Pergilah dan berilah makan keluargamu dengan kurma itu”.

Dalam hadits tersebut di sebutkan : seorang yang ber-jima’ / hubungan saumi istri pada siang hari bulan Ramadhan dengan sengaja maka termasuk dosa besar, sebagaimana Nabi ketika membiarkan perkataan orang tersebut : “Celaka aku”, dalam riwayat Aisyah di sebutkan : “Terbakar aku”.

Adapun ketika melakukan hubungan suami istri dengan tidak disengaja, maka puasanya tetap sah, inilah pendapat yang shahih dari para ulama, sehingga tidak ada qadha dan kafarah baginya.

  1. Perkara yang diserupakan seperti makan dan minum, menyerupai keduanya maknanya.

Hal tersebut seperti injeksi/infus, karena dengan hal tersebut tidak memerlukan makanan, dan begitu juga injeksi darah ke dalam orang yang berpuasa, karena darah merupakan akhir dari    makan dan minum.

Akan tetapi pada umumnya yang memerlukan pada injeksi atau infus, atau injeksi darah adalah orang yang sakit, maka di perbolehkan untuk berbuka.

Adapun suntikan bagi orang yang sakit maka tidak membatalkan puasa apakah pada pembuluh darah atau di otot, karena hal tersebut bukanlah makanan dan minuman, dan tidak bermakna makanan dan minuman, akan tetapi untuk berhati-hati bagi yang berpuasa agar mengakhirkan atau melakukannya pada akhir malam/setelah berbuka.

  1. Mencium kemenyan/dupa denan sengaja, hal ini kebanyakan dari perkataan para fuqaha, karena hal tersebut memberikan pengaruh kepada otak.

Adapun ketika masuk ke dalam hidung atau tercium dengan tidak ada maksud/tidak sengaja maka tidak membatalkan puasa, karena tidak ada keinginan dan kehendak untuk mencium-nya.

  1. Mengeluarkan darah orang yang berpuasa dengan hijamah/bekam, hal ini yang shahih dari perkataan para ulama, dapat membatalkan puasa.

Diriwayatkan dari Abu Dawud dengan sanadnya dari Tsauban dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya”. (HR. Abu Dawud no.2367, Ibnu Majah no.1680)

Dan riwayat Syadad bin Aus radhiyallahu anhu : bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  datang pada seorang laki-laki di Baqi’, dan dia sedang di bekam, dan hal tersebut terjadi pada 18 Ramadhan maka beliau bersabda : “Orang yang melakukan bekam dan yang dibekam batal puasanya”. (HR. Abu Dawud  no.2369)

Dan banyak para salafush sholih yang berpendapat bahwa hijamah/bekam dapat membatalkan puasa seperti Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawih, Abi Tsaur, juga Atha’, Abdurahman bin Mahdi, Al-Auzai, Al-Hasan, Ibnu Sirrin, dan juga ulama Syafi’iyah dan pendapat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid beliau Ibnul Qoyyim rahimahumullah.

Beberapa ulama tidak memutlak-kan membatalkan puasa, seperti perkataan Imam Malik, Syafi’i, Abu Hanifah dan sebagian sahabat dan tabi’in.

  1. Muntah

Sesungguhnya pendapat shahih dari para ulama bahwa muntah secara sengaja membatalkan puasa. Adapun jika muntahnya tidak sengaja tidak membatalkan puasa. Sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah dengan tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha”.
(HR. Abu Dawud no.2380, Tirmidzi no.720, Ibnu Majah no.1676, dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim)

Berkata Ibnul Mundzir : Ijma’ Ahli ilmu akan batalnya puasa seorang yang muntah dengan sengaja (Ijma Ibnul Mundzir).

 

Hukum puasa yang terkait dengan orang yang sakit dan musafir

  1. Bahwa seorang musafir dalam bulan Ramadhan maka boleh berbuka pada saat safarnya, kemudian menggantinya pada hari lain dari jumlah hari yang ditinggalkan. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 184, yg artinya :

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia     berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

  1. Seorang musafir di berikan pilihan untuk berpuasa atau berbuka, dan jika berbuka maka harus menqadha pada hari lainnya. Dalam shahihain, dari Aisyah bahwa Hamzah bin Amru al-Aslami berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Apakah aku berpuasa pada saat safar ? dan adalah kebanyakan dari kami berpuasa, maka Nabi bersabda : Jika engkau mau berpuasalah, dan jika tidak maka berbukalah”. (HR. Bukhari:1943 dan Muslim:1121)
  2. Orang yang sedang sakit maka boleh berbuka pada siang hari bulan Ramadhan, dan meng-qadha/mengganti hari yang ditinggalkan, begitu pula bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui, ketika khawatir/takut pada keduanya (dirinya dan anaknya) maka boleh berbuka karena di hukumi seperti orang yang sakit, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 184, yg artinya : “…dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”.

Dan orang yang sakit boleh berbuka yaitu : orang yang sakit keras, yang bertambah sakitnya ketika berpuasa atau takut lambat penyembuhannya/baiknya (lambat sembuhnya).

Dan ijma dari para ulama bolehnya berbuka puasa bagi orang yg sakit dalam jumlah yg cukup banyak , sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hajj ayat 78 yang artinya : “Dan tidaklah Kami menjadikan kalian agama yang menyempitkan/sulit”.

Berbeda untuk orang yang sakit ringan yg memberatkan baginya berpuasa, dan tidak berakibat bagi puasanya maka tidak boleh berbuka, dan wajib baginya untuk berpuasa karena masuk dalam keumuman ayat : “Siapa yang menemui dari kalian bulan puasa maka hendaknya berpuasa” (Al-Baqarah:185)

 

Hukum puasa yang berkaitan dengan sahur dan berbuka

  1. Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka ketika telah tetap tenggelamnya matahari dengan melihat (secara langsung) atau dari kabar orang yg tsiqah/dipercaya.

Sebagaimana hadits dari Sahal bin Saad, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Tidak akan dalam kebaikan manusia, yang tidak menyegerakan berbuka”.  (HR.Bukhari:1957 dan Muslim:1098).

Karena menyegerakan berbuka menunjukkan atas perintah sedangkan mengakhirkan-nya termasuk ghuluw/berlebihan, seperti yg dilakukan oleh orang Yahudi dan Nashrani, dan juga dilakukan sebagian kaum yang menyelisihi sunnah dengan mengakhirkan berbuka sampai terlihat bintang.

Dalam sunan Abu Dawud disebutkan : Bahwa orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkan. (Sunan Abu Dawud, Kitab Shoum, bab termasuk sunnah menyegerakan berbuka, no.2353)

Dan diriwayatkan Ibnu Hibban, Hakim dari hadits Sahal bin Saad dengan lafadz : “Tidaklah umatku berada diatas sunnahku, yang tidak menunggu berbuka sampai terlihat bintang”.

  1. Disunnahkan untuk bersahur

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 187, yg artinya :

“ Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Dan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, dari sahabat Ibnu Umar :

“Adalah Nabi mempunyai dua org muadzin yaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum yang buta, maka Nabi bersabda : sesungguhnya Bilal adzan maka masih malam, sehingga makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan”.

Dalil atas disunahkan sahur antara lain :

Hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Makan sahurlah kalian karena di dalam sahur terdapat barokah”. (HR. Bukhari no.1923 dan Muslim no.1095)

  1. Disunnahkan mengakhirkan sahur

Dalam riwayat Muslim dari sahabat Amr bin Ash bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pembeda antara puasa kita dengan puasa ahlul kitab adalah makan sahur”. (HR. Muslim no.1096)

 

Keringanan dalam puasa

  1. Siapa yang makan dan minum namun dalam keadaan lupa, maka puasanya tetap sah dan tidak ada qadha baginya, ini menurut pendapat ulama yang shahih.

Dari hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bahwa beliau bersabda : “Ketika lupa makan dan minum, maka tetap sempurnakan puasanya karena sesungguhnya      makanan tersebut Allah yang berikan”. (HR. Bukhari no.1933 dan Muslim no.1155)

Dalam hadits tersebut menunjukkan tidak wajibnya qadha bagi yang lupa, dan itu pendapat yang benar dari para jumhur ulama.

  1. Siapa yang mandi, berkumur, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), masuknya air ke tenggorokan tanpa keinginan maka tidak merusak puasanya. Begitu juga ketika masuk ke kerongkongan dari lalat, atau debu dari jalan atau yang serupa dengan hal itu, maka tidak merusak puasanya. Disebabkan tidak mungkin terhindar darinya, tidak ada keinginan dan tidak ada pilihan baginya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286, yang artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.

  1. Boleh bagi orang yang berpuasa untuk mandi.

Hadits dari Aisyah, dia berkata bahwa Nabi mendapatkan fajar dan beliau dalam keadaan junub setelah bersama istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. (HR. Bukhari no.1926 dan   Muslim no.1109)

  1. Boleh bagi orang yang berpuasa untuk mengguyur/mengalirkan air ke kepalanya  biar dingin/sejuk dan berkumur-kumur.

Dari riwayat Abu Dawud, dari riwayat seorang laki-laki dari kalangan para sahabat : “Sungguh aku melihat Nabi di Al-A’roj mengalirkan air dikepalanya dan beliau dalam keadaan berpuasa, karena keadaan sangat haus dan keadaan yang terik”.

  1. Siapa yang makan dan minum, ragu-ragu akan terbitnya fajar, dan tidak ada penjelasan baginya terbitnya fajar maka tetap sah puasanya, dan tidak ada qadha baginya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah 187, yg artinya : “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Adapun seorang yang makan atau minum, dalam keragu-raguan akan tenggelamnya matahari dan tidak ada penjelasan baginya tidak ada/tenggelam matahari tersebut, maka baginya qadha pada hari itu, karena asalnya adalah tetapnya waktu siang.

  1. Boleh bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya atau bercumbu dengan istrinya, dan tidak takut timbul syahwatnya dan tidak mengeluarkan sesuatu.

Dalam shahihain, dari Aisyah dia berkata, adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  mencium dan bercumbu, dan beliau sedang berpuasa, dan adalah beliau paling kuat menahan syahwatnya.

Dalam hadits shohih dari Aisyah, berkata : “Adalah Rasulullah mencium sebagian istrinya dan beliau dalam keadaan berpuasa”. (HR.Bukhari no.1928)

Dalam shahih Muslim dari Hafsah berkata : “Adalah Nabi mencium dan beliau dalam keadaan berpuasa”. (HR. Muslim, kitab Shoum, bab penjelasan bahwa mencium bagi orang yang berpuasa tidak haram, no. 1108)

Dalam shahih Bukhari dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  adalah mencium-nya dan beliau dalam keadaan berpuasa. (HR. Bukhari no.1929)

Hadits-hadits ini menunjukkan akan bolehnya mencium, bercumbu dengan istri dan puasanya tetap sah, dengan tidak takut dengan mencium dan bercumbu : keluar darinya sesuatu seperti mani atau madzi.

Jika takut akan keluar hal tersebut maka wajib untuk ditinggalkan dari mencium dan bercumbu tersebut; seperti perkataan Aisyah dalam hadits : “Akan tetapi beliau orang yg paling kuat menahan syahwatnya”

Karena menjaga puasa dari perkara-perkara yang merusak adalah wajib, dan tidaklah sempurna perkara wajib kecuali dengannya maka perkara tersebut menjadi wajib.

Tidaklah sempurna puasa kecuali dengan meninggalkan perkara merusak tesebut maka meninggalkan perkara yang merusak tersebut (seperti mencium dan bercumbu, yg khawatir keluar sesuatu seperti mani/madzi), menjadi wajib.

Begitu juga melihat perkara haram secara berkali-kali dapat merusak puasanya, begitu juga onani, maka wajib qadha baginya, dan tidak ada kafarah, karena kafarah khusus bagi orang yang berhubungan suami istri.

Adapun seorang yang melihat perkara haram sekali dan tidak disengaja/berkali-kali maka tidak merusak puasanya, karena tidak ada pilihan serta keinginan baginya.

 

  1. Orang tua dan wanita yg sudah tua, begitu juga orang yang sakit yang tidak di harapkan kebaikannya/kesembuhannya, bisa berbuka, dan memberikan makan setiap hari untuk orang miskin.

Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 184, yg artinya : “Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa)    sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.

  1. Boleh bagi wali/ahli waris untuk puasa bagi orang yg meninggal, dan shahih puasanya dan termasuk perbuatan baik pada si mayit.

Dalam hadits Nabi dari Aisyah bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang meninggal dan puasa baginya, puasa walinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan jika ingin maka dapat memberi makan setiap hari untuk orang miskin, sehingga walinya dapat memilih apakah berpuasa atau memberi makan orang miskin.

 

Hukum Tidur Orang Yang Berpuasa

 Bahwa seorang yang seharian tidur maka sah puasanya.

  1. Orang yang berpuasa ketika mimpi basah pada siang hari kemudian mandi maka puasanya tetap sah, karena tidak ada pilihan baginya/tidak menghendaki hal tersebut. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286 : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
  2. Orang yang berpuasa ketika waktu subuh dalam keadaan junub maka puasanya tetap sah. Ketika terbit fajar dan dia dalam keadaan junub akibat berhubungan suami istri atau mimpi basah dan belum mandi kecuali setelah terbit fajar dan saat itu itu dia menahan diri dari makan dan minum dan dari perkara yang membatalkan puasa, dan dia telah berniat puasa sebelum terbit fajar.

Hadits dari Aisyah dan Ummu Salamah dalam Shohihain berkata : “Bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  mendapatkan fajar dan beliau dalam keadaaan junub kemudian beliau mandi dan berpuasa”.

Hadits dari Aisyah, dia berkata : “Bahwa Nabi mendapatkan fajar dalam bulan Ramadhan dan beliau mimpi basah kemudian beliau mandi dan berpuasa”

Hadits ini menunjukkan bahwa yang benar seperti pendapat yang di pilih jumhur ulama, tetap sah puasanya walaupun paginya dalam keadaan junub. (Fathul Bari:4/147, Syarah Nawawi ‘ala Shahih Muslim)

  1. Begitu juga wanita yang haid dan nifas, ketika berhenti darahnya dan belum mandi setelah terbitnya fajar maka puasanya tetap sah.

 

Perkara yang wajib dan dihindari bagi orang yang berpuasa

  1. Berkata kasar dan berkata sia-sia.

Diharamkan bagi orang yang berpuasa untuk berkata kasar, yaitu perkataan yang jelek, dan seluruh mukadimahnya, perkataan yang ribut/gaduh dan bodoh serta perkataan yang sia-sia, dan tidak melakukan pertikaian/perkelahian atau yang semisalnya dan hendaknya mengatakan aku sedang berpuasa;

Dalam Shohihain, dari Abu Hurairah bahwa Nabi  shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

“Puasa adalah perisai, dan ketika salah seorang diantara kalian berpuasa maka janganlah berkata kasar dan berbuat gaduh/teriak-teriak, jika ada orang yang mencerca atau memeranginya maka hendaknya dia mengucapkan Aku sedang berpuasa “.

Dan dalam lafadz Bukhari dari hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Puasa adalah perisai maka janganlah berkata kasar dan tidak berbuat kebodohan, dan jika seorang memeranginya atau mencaci/memakinya maka katakan : sesungguhnya aku sedang berpuasa sebanyak dua kali”. (HR. Bukhari no.1894)

Dalam hadits riwayat Bukhari dari sahabat Abu Hurairah : Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta/sia-sia namun malah mengamalkannya maka Alah tidak butuh pada rasa lapar dan hausnya”. (HR. Bukhari no.1903)

Dalam lafadz Bukhari dalam Kitabul Adab dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta/sia-sia namun malah mengamalkannya dan berkata bodoh, maka Alah tidak butuh pada rasa lapar dan hausnya”. (HR. Bukhari no.6057)

 

  1. Hendaknya orang yang berpuasa tidak melakukan istinsyaq khawatir airnya terminum/masuk lewat tenggorokan. Diriwayatkan dari Ashabus Sunan dan di shahihkan Ibnu Khuzaimah bahwa Nabi bersabda : “Dan bersungguh-sungguh dalam istinsyaq kecuali ketika kalian sedang berpuasa”. (HR. Abu Dawud:142, Tirmidzi:788, Nasai:87, Ibnu Majah:407)

 

  1. Menghindari menyedot dalam hidung lebih utama karena dapat tersambung pada tenggorokan, karena hidung termasuk saluran, yang memungkinkan dapat kemasukan sesuatu/air.

Adapun tetes air pada mata dan telinga, begitu juga celak mata pada mata, maka hendaknya mengakhirkan penggunaannya pada malam hari lebih utama. Hal ini untuk keluar dari perselisihan para ulama yang melarangnya, dan adalah yang shahih tidak membatalkan karena tidak ada dalil atas hal ini, akan tetapi untuk kewaspadaan lebih utama (mengakhirkan penggunaannya di malam hari).

 

Apa yang di syariatkan bagi orang yang berpuasa

  1. Disyariatkan bersiwak bagi orang yang berpuasa dan disunnahkan ketika setiap sholat dan setiap wudhu.

Hadits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bahwa beliau bersabda :

“Jika tidak memberatkan atas umatku atau atas manusia maka aku akan memerintahkan untuk bersiwak pada setiap akan sholat”. (HR. Bukhari:887 dan Muslim:252)

Dan juga hadits dari Zuhair bin Harb riwayat Muslim, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Jika tidak memberatkan atas umatku maka aku akan perintahkan kalian bersiwak setiap akan sholat”.

Berkata Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya : Dan tidak dikecualikan bagi yang berpuasa.

Riwayat Tirmidzi  dan Abu Dawud, Ahmad dari Amr bin Rabiah berkata : “Aku sering melihat Nabi (tidak terhitung) beliau bersiwak dan beliau sedang berpuasa”.

Dan dari jalan Ashim bin Abdillah bin Ashim bin Umar bin Khotob, Imam Bukhari mendhoifkan dan Ibnu Main dan selainnya, berkata Imam Tirmidzi , dan amal ini dari para ahli ilmu : Tidak melihat dengan siwak bagi orang yang berpuasa, tidak mengapa pada awal siang/pagi dan bukan pada akhirnya.

Maka yang benar, di syariatkan siwak pada awal siang dan akhirnya (sepanjang hari), akan tetapi disyaratkan tidak sampai melewati kerongkongan, dan tidak terlalu keras sehingga melukai gusi.

  1. Siapa yang makan atau minum pada siang hari Ramadhan karena lupa dia sedang berpuasa maka hendaknya dia memberitahukan. Dan tidak boleh baginya diam sebagaimana sebagian orang; karena hal ini termasuk perkara amar maruf nahi munkar. Karena makan dan minum pada sang hari bulan Romadhon termasuk perbuatan munkar namun jika seorang karena udzur tidak berpuasa maka hendaknya mengumumkan/memberitahukan kepada yang lain dan hal ini termasuk tolong menolong atas kebaikan dan ketakwaan.

 

Hukum puasa untuk darah yang keluar

Darah yang keluar dari manusia, terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :

  1. Darah dari hidung/mimisan, luka, dan darah bisul dan yang semisal dengan hal itu, tidak memberikan bekas pada puasa, serta puasanya tetap sah.
  2. Darah istihadhah wanita tidak memberi bekas pada puasa; tetap sah puasanya ketika keluar darah tersebut sebagaimana tidak tercegah untuk melakukan sholat, thowaf di baitul haram dan tidak tercegak suami mendatanginya karena tidak ada aturan tentang hal itu, dan dia hendaknya tetap puasa sebagaimana ketika keluar darah mimisan atau luka. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan tercegah/batalnya puasa karena hal tersebut.
  3. Ketika orang yang berpuasa, tercabut giginya dan darahnya tidak tertelan maka puasanya tetap sah. Tidak ada dalil yang menunjukkan akan terganggu puasanya dan pada asalnya puasa seorang muslim tetap sah kecuali ada dalil atau keterangan yang merusak/membatalkannya.
  4. Wanita yang haid dan nifas tidak dibebankan baginya berpuasa. Keduanya membatalkan puasa dan perlu untuk meng-qadhanya dan bila tetap berpuasa maka tidak ada pahala baginya, sepakat ahli ilmu dalam hal ini (Al-Mughni:3/152).

Hadits dalam Shohihain dari sahabat Muadzah berkata : Aku bertanya kepada Aisyah : Apakah wanita yang haid meng-qadha puasa dan tidak men-qadha sholat.

Maka Aisyah berkata : Apakah engkau seorang Haruriyah ?

Maka aku berkata : Aku bukan Haruriyah tapi aku bertanya.

Aisyah berkata : Adalah kami mendapatkan seperti itu, kami di perintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak di perintahkan untuk men-qadha sholat.

(HR. Bukhari no.321 dan Muslim no.335)

Hadits dari sahabat Abu Said Al-Khudri dalam Shohih Bukhari berkata : Nabi bersabda : Bukankah ketika seorang wanita haid, tidak sholat dan tidak puasa.

Maka kami berkata : Benar.

Nabi bersabda : Hal itu dapat mengurangi agamanya. (HR. Bukhari no.304)

Ini merupakan rahmat Allah kepada para wanita, sesungguhnya sholat di lakukan berulang sebanyak 5 kali dalam sehari maka akan kesulitan ketika meng-qadhanya. Sedangkan puasa ibadah sebulan, sekali dalam setahun dan di haruskan qadha, hal ini tidak akan memberatkan. Hal ini maslahah bagi para wanita.

Dan kapanpun terdapat darah haid atau nifas pada wanita pada sebagian hari, maka puasanya batal, baik itu pada awal hari, pertengahan hari atau akhir hari, walaupun sebentar sebelum tenggelamnya matahari, maka wajib qadha dari hari tersebut.

 

Kami memohon agar Allah memberikan keikhlasan dalam amal, dan keyakinan yang benar, kebaikan niat dan amal, dalam perkataan dan amal, sesungguhnya Allah Maha Dermawan dan Maha Mulia. Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan sahabatnya sekalian. Aamiin.

Referensi :

Mulakhos Fiqihi, Kitab Shoum, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizahullah

Mukhtashor fi Ahkami Shiyam, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajhi hafizahullah. [pdf-embedder url=”http://baitulmuthi.or.id/wp-content/uploads/2018/04/ar_Mkhtsr_fee_a7kam_alsyam.pdf” title=”Mukhtashor fi Ahkami Shiyam”]

Leave a Comment