Syarat-syarat La Ilaha Illallah (bagian 1)

Pada sekian pembahasan yang lalu, kita telah mempelajari keistimewaan kalimat tahlil, juga buah manis yang akan dipetik di dunia dan di akhirat. Namun harus dipahami bahwa kalimat tersebut bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan belaka. Tetapi wajib ditunaikan hak dan kewajibannya, serta dipenuhi syarat-syaratnya, yang telah disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits.

Setiap muslim mengetahui bahwa di dalam agama Islam, yang namanya ibadah, supaya diterima Allah ta’ala haruslah memenuhi syarat-syaratnya. Misalkan shalat. Seorang insan yang akan menunaikan shalat, harus suci tubuhnya, menutup aurat dan berbagai syarat sah shalat lainnya. Begitu pula kalimat La ilaha illallah, harus dipenuhi syarat-syaratnya.

Para ulama salaf, sejak dahulu sudah mengisyaratkan hal tersebut. Antara lain Imam al-Hasan al-Bashry (w. 110 H). Suatu hari ada yang berkata padanya, “Orang-orang bilang, bahwa siapapun yang mengucapkan La ilaha illallah maka ia akan masuk surga”. Beliau berkomentar, “Ya! Siapapun yang mengucapkan Lâ ilâha illallâh, lalu menunaikan hak dan kewajibannya, maka ia akan masuk surga”.

Juga Imam Wahb bin Munabbih (w. 114 H). Beliau pernah ditanya, “Bukankah La ilaha illallah merupakan kunci surga?”. Beliau menjawab, “Benar! Namun, bukankah setiap kunci pasti ada geriginya? Bila engkau menggunakan kunci yang bergerigi; niscaya pintu akan terbuka. Jika tidak; maka pintu pun tidak akan terbuka”. Beliau mengilustrasikan syarat-syarat La ilaha illallah dengan gerigi kunci.

Setelah meneliti dengan seksama nash-nash al-Qur’an dan hadits, para ulama kita menjelaskan bahwa syarat-syarat La ilaha illallah itu ada tujuh:

1.Memahami dengan benar makna kalimat tersebut.
2.Meyakininya dengan pasti.
3.Ikhlas dalam mengucapkan dan mempraktekkannya.
4.Mengucapkannya dengan penuh kejujuran.
5.Mencintainya sepenuh hati.
6.Menerima segala konsekwensinya.
7.Patuh.

Syarat-syarat di atas bukan sekedar untuk dihapalkan di otak saja. Betapa banyak orang biasa yang sudah merealisasikan syarat-syarat di atas. Namun bila diminta untuk menyebutkan syarat-syarat tersebut, bisa jadi ia tidak hapal. Sebaliknya tidak sedikit orang yang telah hapal luar kepala syarat-syarat tadi, namun ternyata praktek kesehariannya justru kerap bertolak belakang dengan syarat-syarat itu. Jadi target utamanya adalah mempraktekkannya dalam dunia nyata.

Bukan sekedar menghapalkannya di kepala.
InsyaAllah di sekian pembahasan ke depan, syarat-syarat tadi akan sedikit dijabarkan lebih luas, berikut dalil masing-masing. Maka simak terus kelanjutannya!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1434 / 1 April 2013

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/179-180). ]

Leave a Comment