Syarat-syarat La ilaha Illallah (bagian 2)


Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan yang lalu, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tibalah saatnya penjabaran masing-masing dari syarat tersebut.

Syarat Pertama: Memahami makna La ilaha illallah

Syarat pertama ini amat penting sebab merupakan pondasi dari syarat-syarat berikutnya. Bagaimana mungkin seorang hamba akan benar mempraktekkan kalimat ini, jika ia belum paham makna kalimat tersebut?

Allah ta’ala memerintahkan,

“فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ”.

Artinya: “Ketahuilah (pahamilah) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah”. QS. Muhammad (47): 19.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga bersabda,

“مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ”.

“Barang siapa yang meninggal dalam keadaan ia mengetahui (memahami) La ilaha illallah; maka ia akan masuk surga”. HR. Muslim dari Utsman radhiyallahu’anhu.

Maka seorang muslim tertuntut untuk mempelajari dengan benar makna kalimat mulia ini. Supaya kalimat tersebut tidak sekedar menjadi ‘lipstik’ penghias bibir belaka, tanpa merasuk ke dalam hati.

Kalimat La ilaha illallah terdiri dari dua bagian.
Pertama: La ilaha (tidak ada sesembahan yang berhak disembah).

Kedua: illallah (kecuali Allah).

Bagian pertama menjelaskan kewajiban untuk berlepas diri dari segala sesembahan selain Allah, apapun itu.
Adapun bagian kedua mengandung makna perintah untuk mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata.

Jadi, inti dari kalimat Lâ ilâha illallâh adalah perintah untuk mengikhlaskan seluruh ibadah kita hanya untuk Allah saja. Apapun bentuk ibadah tersebut. Entah itu shalat, puasa, zakat, haji, kurban, doa dan lain-lain.

Siapapun yang menujukan ibadah itu untuk selain Allah, berarti ia telah menyalahi kalimat La ilaha illallah yang ia ucapkan dengan lisannya. Maka waspadalah!

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/180-181). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Jumada Tsaniyah 1434 / 15 April 2013

Leave a Comment