Syarat-syarat La ILaha Illallah (bagian 4)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketiga: Ikhlas dalam mengucapkan dan mempraktekkan La ilaha illallah

Ikhlas berarti murni. Seorang hamba tertuntut untuk memurnikan niatnya hanya untuk Allah semata saat ia mengucapkan kalimat tahlil. Begitu pula ketika mempraktekkan kalimat mulia ini, dia harus ikhlas. Dalam arti memurnikan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah ta’ala saja.
Allah ta’ala berfirman,

“فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ . أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ”.

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)”. QS. Az-Zumar (39): 2-3.
Lihat pula QS. Az-Zumar (39): 11 dan 14.

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟” فَقَالَ: “لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ؛ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ. أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ”.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia meraih syafa’atmu pada hari kiamat?”. Beliau menjawab, “Aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang mendahuluimu bertanya kepadaku tentang hal ini. Karena aku tahu persis semangatmu untuk mempelajari hadits. Orang yang paling berbahagia untuk meraih syafa’atku pada hari kiamat, adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah, dengan penuh keikhlasan dari dirinya”. HR. Bukhari.

Maka seorang insan wajib untuk membersihkan seluruh ibadahnya dari syirik, besar maupun kecil. Dia tidak menyembah selain Allah, siapapun dan apapun itu. Dia tidak menyembah malaikat, nabi, wali, kyai ataupun jin. Ia juga tidak menyembah batu, pohon, keris maupun kuburan. Namun yang ia sembah hanyalah Allah ta’ala semata.

Saat beribadah kepada Allah pun, seorang muslim tidak mengotori ibadahnya dengan noda riya’. Ia beribadah semata-mata karena mengharap ridha Allah saja. Inilah makna ikhlas dalam berkalimat tahlil.

Karenanya, jangan sampai praktek keseharian seseorang bertolak belakang dengan kalimat yang diucapkannya dengan lisan. Lisannya rajin melantunkan tahlil, tapi perilakunya masih dipenuhi dengan kesyirikan. Na’udzubillah min dzalik!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1434 / 27 Mei 2013

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182). ]

Agar Tidak Serumah Dengan Syaitan

Oleh : Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA حفظه الله تعالى

Semua orang ingin memiliki rumah yang tentram dan nyaman. Sayangnya, dalam usaha mewujudkan keinginan ini, kebanyakan orang baru sekedar melakukan hal-hal yang bersifat duniawi. Yakni dengan mendirikan bangunan yang megah dan melengkapinya dengan berbagai fasilitas penunjang. Selama tidak berlebihan, sebenarnya itu boleh saja. Namun yang memprihatinkan, mereka lupa bahwa inti kenyamanan dan ketentraman rumah sebenarnya justru bersumber dari ketenangan hati penghuninya. Yang itu akan dicapai manakala mereka rajin beribadah dan memanfaatkan tempat tinggalnya untuk hal-hal yang diridhai Allâh Azza wa Jalla.

Apa saja yang perlu kita lakukan di rumah kita, supaya tempat tinggal kita nyaman dan damai? Juga agar rumah kita tidak menjadi tempat favorit para syaitan? Diantara yang perlu kita perhatikan adalah:

 Pertama: Mengucapkan salam sebelum[1] masuk rumah

 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ “…وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلَامٍ…”.

Dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga orang yang dijaga oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan yang ketiga adalah) … orang yang memasuki rumahnya dengan mengucapkan salam…”. [HR. Abu Dawud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hâkim. Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan hadits ini hasan.[2]]

Salam ini tetap kita ucapkan, baik di dalam rumah ada orang maupun tidak.[3] Sebab Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

Apabila kalian memasuki rumah-rumah hendaklah kalian memberi salam kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allâh. [An-Nûr/24:61]

Menurut Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma ,  jika di rumah tidak ada orang, maka redaksi salamnya adalah:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

Salam sejahtera atas kami dan para hamba Allâh yang shalih[4]

Read moreAgar Tidak Serumah Dengan Syaitan