Syarat-syarat La ilaha illallah (5)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keempat: Jujur dalam mengucapkan dan mempraktekkan
La ilaha illallah

Jujur berarti selaras antara ucapan dengan isi hati. Kebalikannya adalah dusta.

Allah ta’ala menginginkan para hamba-Nya agar mereka berlaku jujur dalam segala sesuatu, terlebih dalam mengucapkan kalimat mulia ini. Antara kalimat yang terucap di lisan dengan keyakinan yang ada di dalam hati, haruslah selaras.

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tujuan dari berbagai ujian dalam kehidupan ini,

“الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ”

Artinya: “Alif Lâm Mîm. Apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”. QS. Al-‘Ankabut (29): 1-3.

Secara spesifik Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan keharusan jujur dalam mengucapkan kalimat mulia ini, dalam sabdanya,

“مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ؛ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ”

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dengan kejujuran dari hatinya; melainkan Allah pasti akan mengharamkannya dari api neraka”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz.

Inilah sifat orang yang beriman; jujur dalam perkataan dan perbuatan. Adapun kaum munafikin, maka kedustaanlah yang mendominasi kehidupan mereka.

Allah jalla wa ‘ala membongkar kedok mereka,

“إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ”

Artinya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (wahai Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah utusan Allah”. Allah mengetahui bahwasanya engkau adalah benar-benar utusan-Nya, dan Allah juga mengetahui bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta”. QS. Al-Munafiqun (63): 1.

Semoga kita semua termasuk golongan yang beriman, bukan orang yang munafik.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182-183). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Ramadhan 1434 / 22 Juli 2013

Agar Hidup Anda Terarah dan Tak Goyah

oleh : Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

1. Bahwa tujuan UTAMA hidup Anda adalah untuk BERIBADAH kepada Allah, yakni mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, dengan menerapkan sunnah dan menjauhi bid’ah.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, hidup kita akan sangat terarah dan terfokus pada satu tujuan utama, hingga kita tidak akan bingung memilih pilihan hidup mana yang kita kedepankan.

Dengannya pula kita akan berusaha menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, sehingga kita akan tulus menjalaninya tanpa pamrih, karena SEMUANYA akan dibalas oleh Allah yang maha mensyukuri amal para hamba-Nya.

2. Bahwa semuanya telah DITAKDIRKAN.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, kita akan TENANG dalam menjalani hidup, karena kita yakin rezeki yang menjadi bagian kita tidak akan bertambah maupun berkurang.

Dengannya juga, kita akan mantap untuk memilih jalan rezeki yang halal, karena hasilnya akan sama saja, baik kita memilih jalan yang haram maupun jalan yang halal.

3. Bahwa kita diperintah untuk BERUSAHA semampu kita, dan sesuai aturan syariat.

Dengan ini kita akan memahami, mengapa kita harus bekerja, padahal semua sudah ditakdirkan ?!

Jawabannya, karena kita DIPERINTAH untuk berusaha dan beramal, sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
“LAKUKANLAH amalan/pekerjaan, maka semua orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi tujuan dia diciptakan !”

4. Dalam melakukan usaha itu, pastinya ada cobaan dan rintangan… maka hadapilah dengan firman Allah ta’ala:

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal (sebenarnya) itu lebih baik bagimu” [QS. Albaqoroh: 216].

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya”. [QS. Annisa’: 19]

5. Banyaklah berdo’a, lalu yakinlah akan janji Allah bahwa Dia akan memuliakan dan memantaskan kehidupan orang yang beriman dan beramal saleh.

“Barangsiapa yang beramal saleh dalam keadaan beriman, baik dia pria maupun wanita, maka Allah sungguh benar-benar akan memberinya KEHIDUPAN yang baik/mulia”. [QS. An-Nahl: 97]

Semoga bermafaat…

Malam Terakhir Di Natuna

Subhanallah, banyak sekali tambahan ilmu dan pengalaman yang didapat selama 3 hari 3 malam di Natuna.

Kondisi kehidupan Tengah Laut yang jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk perkotaan. Deru ombak tersapu angin laut yang sepoi nan menyejukkan, Tempat yang sangat nyaman untuk muhasabatunnafs ( introspeksi jiwa ) dan menenangkan jiwa pikiran, sambil berusaha mentadaburi Ayat Ayat Kauniah sang Pencipta Alam Semesta Yang Maha Agung Lagi Maha Bijaksana.

Disini kita mengetahui betapa kerdilnya diri ini dibanding makhluk yang bernama lautan yang membentang begitu luas seakan tidak bertepi.
Semakin jauh mata memandang, semakin terbayang kekerdilan jiwa ini.

Disini saya teringat wasiat indah para ulama tentang masalah lautan :

Read moreMalam Terakhir Di Natuna

Air Susu Dibalas Air Tuba

oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA حفظه الله تعالى

Andaikan ada orang yang berjasa pada Anda, sering membantu Anda dalam kondisi Anda amat membutuhkan bantuan, kuasakah Anda untuk menolak permintaannya? Atau tegakah Anda untuk berbuat buruk padanya? Saya yakin kebanyakan kita enggan melakukan perbuatan itu. Alasannya sederhana saja, tidak mau membalas air susu dengan air tuba. Alias tidak tega membalas kebaikan dengan keburukan.

Sadarkah kita bahwa ternyata sebenarnya kita sering membalas air susu dengan air tuba? Bahkan mungkin setiap hari kita melakukan tindak tak terpuji tersebut!

Read moreAir Susu Dibalas Air Tuba

Mereka, orang-orang yang tidak ada rasa takut dan rasa sedih..

  1. قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 38)

2. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 62)

3. بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 112)

4. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 262)

Read moreMereka, orang-orang yang tidak ada rasa takut dan rasa sedih..

Nikmat itu..

Nikmat itu… ketika engkau beriman kepada Allah dan segala yang datang dari-Nya, lalu engkau mengamalkan konsekuensinya.

Nikmat itu… ketika engkau diberi mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lengkap lainnya, lalu engkau menggunakannya untuk beribadah kepada-Nya, untuk mengerjakan kebaikan.

Nikmat itu… ketika engkau masih diberikan waktu untuk menuntut ilmu di sela-sela hari padatmu, lalu engkau mengamalkan pesan-pesan yang engkau tulis atau tangkap dalam benakmu.

Nikmat itu… ketika engkau diberikan pemahaman yang benar, tidak neko-neko, apalagi sampai nyeleneh berpendapat yang aneh-aneh.

Nikmat itu… ketika engkau diberi taufik dan kemudahan oleh Allah untuk tunduk dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Read moreNikmat itu..