Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 3)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Kedua: Meyakini La ilaha illallah

Setelah memahami makna La ilaha illallah, seorang hamba tertuntut untuk meyakininya dengan seyakin-yakinnya. Tanpa ada keraguan atau kebimbangan sedikitpun. Keyakinan sempurna inilah yang akan membuahkan keteguhan di dalam memegang prinsip La ilaha illallah. Konsekwensi berat apapun yang menghadang, akan terasa ringan, saat seorang hamba berpegang teguh dengan apa yang diyakininya.
Allah ta’ala menjelaskan,

“إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ”.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang jujur”. QS. Al-Hujurat (49): 15.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menerangkan,

“أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ، لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ”.

“Tidaklah seorang hamba menghadap kepada Allah dengan membawa ‘persaksian bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan persaksian bahwa aku adalah utusan Allah’ tanpa ada keraguan tentangnya, melainkan pasti ia akan masuk surga”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Dalam hadits lain beliau berpesan kepada Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,

“مَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ”.

“Siapapun yang engkau temui di belakang kebun ini, dia bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dalam keadaan hatinya yakin dengannya, maka berilah kabar gembira bahwa ia akan masuk surga”. HR. Muslim.
Maka seorang muslim dituntut untuk yakin dengan sebenar-benarnya bahwa yang berhak untuk disembah hanyalah Allah ta’ala. Dia juga harus percaya bahwa dengan menjalankan prinsip tersebut hidupnya di dunia ini pasti akan tenang dan tentram. Serta di akhiratnya kelak akan menuai balasan manis surga Allah ta’ala.

Semoga kita termasuk golongan tersebut, amien ya Rabbal ‘alamin.

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/181-182). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 3 Rajab 1434 / 13 Mei 2013

Syarat-syarat La Ilaha Illallah (bagian 1)

Pada sekian pembahasan yang lalu, kita telah mempelajari keistimewaan kalimat tahlil, juga buah manis yang akan dipetik di dunia dan di akhirat. Namun harus dipahami bahwa kalimat tersebut bukanlah sekedar diucapkan dengan lisan belaka. Tetapi wajib ditunaikan hak dan kewajibannya, serta dipenuhi syarat-syaratnya, yang telah disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits.

Setiap muslim mengetahui bahwa di dalam agama Islam, yang namanya ibadah, supaya diterima Allah ta’ala haruslah memenuhi syarat-syaratnya. Misalkan shalat. Seorang insan yang akan menunaikan shalat, harus suci tubuhnya, menutup aurat dan berbagai syarat sah shalat lainnya. Begitu pula kalimat La ilaha illallah, harus dipenuhi syarat-syaratnya.

Para ulama salaf, sejak dahulu sudah mengisyaratkan hal tersebut. Antara lain Imam al-Hasan al-Bashry (w. 110 H). Suatu hari ada yang berkata padanya, “Orang-orang bilang, bahwa siapapun yang mengucapkan La ilaha illallah maka ia akan masuk surga”. Beliau berkomentar, “Ya! Siapapun yang mengucapkan Lâ ilâha illallâh, lalu menunaikan hak dan kewajibannya, maka ia akan masuk surga”.

Juga Imam Wahb bin Munabbih (w. 114 H). Beliau pernah ditanya, “Bukankah La ilaha illallah merupakan kunci surga?”. Beliau menjawab, “Benar! Namun, bukankah setiap kunci pasti ada geriginya? Bila engkau menggunakan kunci yang bergerigi; niscaya pintu akan terbuka. Jika tidak; maka pintu pun tidak akan terbuka”. Beliau mengilustrasikan syarat-syarat La ilaha illallah dengan gerigi kunci.

Setelah meneliti dengan seksama nash-nash al-Qur’an dan hadits, para ulama kita menjelaskan bahwa syarat-syarat La ilaha illallah itu ada tujuh:

1.Memahami dengan benar makna kalimat tersebut.
2.Meyakininya dengan pasti.
3.Ikhlas dalam mengucapkan dan mempraktekkannya.
4.Mengucapkannya dengan penuh kejujuran.
5.Mencintainya sepenuh hati.
6.Menerima segala konsekwensinya.
7.Patuh.

Syarat-syarat di atas bukan sekedar untuk dihapalkan di otak saja. Betapa banyak orang biasa yang sudah merealisasikan syarat-syarat di atas. Namun bila diminta untuk menyebutkan syarat-syarat tersebut, bisa jadi ia tidak hapal. Sebaliknya tidak sedikit orang yang telah hapal luar kepala syarat-syarat tadi, namun ternyata praktek kesehariannya justru kerap bertolak belakang dengan syarat-syarat itu. Jadi target utamanya adalah mempraktekkannya dalam dunia nyata.

Bukan sekedar menghapalkannya di kepala.
InsyaAllah di sekian pembahasan ke depan, syarat-syarat tadi akan sedikit dijabarkan lebih luas, berikut dalil masing-masing. Maka simak terus kelanjutannya!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumadal Ula 1434 / 1 April 2013

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/179-180). ]