Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 8)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketujuh: Patuh

Maksudnya adalah tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat mulia tersebut. Allah ta’ala berfirman,

“وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ”

Artinya: “Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong”. QS. Az-Zumar (39): 54.

Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk dan patuh terhadap kandungan maknanya dan tidak mengabaikan maksud kalimat syahadat tersebut. Sikap membangkang dan tidak mau tunduk terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya menjadikan ikrar tersebut tidak bermakna. Sesungguhnya makna Islam itu sendiri ketundukan, di mana seseorang yang masuk Islam diharapkan memiliki sikap tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang ada di dalamnya. Allah ta’ala berfirman,

“وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ”

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia adalah orang yang mengerjakan kebajikan”. QS. An-Nisa’(4): 125.

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan konsekuensi keimanan, yang berupa ketundukan sikap tanpa keberatan.

“فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”

Artinya: “Maka demi Rabbmu, pada hakikatnya mereka itu tidak beriman sebelum menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya.” QS. An-Nisa’ (4): 65.

Maka seorang muslim sejati saat mengucapkan kalimat la ilaha illallah, ia akan dengan sepenuh hati patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, terutama yang hukumnya wajib. Sebab manusia merupakan hamba bagi
Rabbnya, sehingga apapun yang diperintahkan oleh-Nya harus dipatuhi, apalagi bila perintah itu bersifat wajib.
Jika itu tidak ditaati maka bersiaplah untuk ditimpa azab yang pedih.

“فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ”

Artinya: Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. QS. An-Nur (24): 63.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulqa’dah 1434 / 9 September 2013

[Disusun oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. ]

Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 7)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keenam: Menerima segala konsekwensi La ilaha illallah
Penerimaan ini akan menggerakkan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh untuk menjalankan ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala.

Di dalam al-Qur’an telah diceritakan akibat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang enggan menerima konsekwensi dari kalimat mulia ini dan menolak ajaran agama:

“وَكَذَلكَ مَا أَرْسَلنَا مِنْ قَبْلكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَال مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا على أُمَّةٍ وَإِنَّا على آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ . قَال أَوَلوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَي مِمَّا وَجَدْتُمْ عَليْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلتُمْ بِهِ كَافِرُونَ . فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُكَذِّبِينَ”.

Artinya: “Demikian juga ketika kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelummu (wahai Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (keyakinan) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata, “Apakah (kalian akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa untukmu (keyakinan) yang lebih baik daripada apa yang kalian peroleh dari (keyakinan) yang dianut nenek moyangmu?”. Mereka menjawab, “Sungguh kami mengingkari (keyakinan) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya”. Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran)”. QS. Az-Zukhruf (43): 23-25.

Penerimaan secara total terhadap kalimat ini menuntut kita untuk senantiasa merasa ridha dengan Allah ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai nabi kita.

Segala bentuk keridhaan tersebut di atas tentu bukan hanya terucap di lisan belaka, namun harus diiringi dengan pembuktian yang nyata.

Keridhaan kita dengan Allah sebagai Rabb kita dibuktikan dengan kelapangan dada kita dalam menerima setiap apa yang ditakdirkan oleh-Nya berupa ujian dan cobaan, serta mensyukuri setiap nikmat yang dikaruniakan-Nya.

Adapun keridhaan kita dengan Islam sebagai agama, maka pembuktiannya adalah dengan tunduk terhadap setiap perintah agama, serta membenci apapun yang dibenci aturan agama. Juga menjadikan ajaran Islam ini sebagai pedoman hidup kita.

Sedangkan rasa ridha terhadap Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai Nabi kita, pembuktiaannya adalah dengan tidak membuat amalan-amalan yang menyelisihi tuntunan beliau. Juga menjalankan perintah beliau serta menjauhi larangannya.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Syawal 1434 / 26 Agustus 2013

[Diringkas dan terjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari makalah di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=269917. ]

Syarat-syarat La Ilaha Illallah (bagian 6)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Kelima: Mencintai La ilaha illallah dengan sepenuh hati

Maksudnya mencintai kalimat ini dan apa yang dikandungnya. Jika seorang hamba telah mencintai kalimat ini, maka ia akan rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi mempertahankan kalimat ini.

Konsekwensi kecintaan di atas, ia juga akan mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihiwasallam, mencintai amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, serta mencintai orang-orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman,

“وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ”

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. QS. Al-Baqarah (2): 165.

Dari Anas Bin Malik radiyallahu‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu‘alaihiwassalam bersabda,

“ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ؛ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ”.

”Ada tiga karakter yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. (1) Allah dan Rasul Nya lebih dicintai dari selain keduanya. (2) Ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. (3) Membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana kebenciannya jika dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga mengikuti Rasul shallallahu‘alaihiwasallam, mencocoki jalan hidupnya serta menerima petunjuknya.

Kecintaan di atas tidak akan sempurna melainkan dengan merealisasikan kebalikannya. Yakni dengan membenci segala sesuatu yang bertentangan dengan La ilaha illallah , membenci semua amalan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, serta membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

” إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ “

“Sesungguhnya simpul keimanan yang paling kuat adalah: engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah”. HR. Ahmad dari al-Barâ’ bin ‘Azib dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/183) dengan berbagai tambahan. ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Syawal 1434 / 12 Agustus 2013

Syarat-syarat La ilaha illallah (5)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keempat: Jujur dalam mengucapkan dan mempraktekkan
La ilaha illallah

Jujur berarti selaras antara ucapan dengan isi hati. Kebalikannya adalah dusta.

Allah ta’ala menginginkan para hamba-Nya agar mereka berlaku jujur dalam segala sesuatu, terlebih dalam mengucapkan kalimat mulia ini. Antara kalimat yang terucap di lisan dengan keyakinan yang ada di dalam hati, haruslah selaras.

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tujuan dari berbagai ujian dalam kehidupan ini,

“الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ”

Artinya: “Alif Lâm Mîm. Apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”. QS. Al-‘Ankabut (29): 1-3.

Secara spesifik Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan keharusan jujur dalam mengucapkan kalimat mulia ini, dalam sabdanya,

“مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ؛ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ”

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dengan kejujuran dari hatinya; melainkan Allah pasti akan mengharamkannya dari api neraka”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz.

Inilah sifat orang yang beriman; jujur dalam perkataan dan perbuatan. Adapun kaum munafikin, maka kedustaanlah yang mendominasi kehidupan mereka.

Allah jalla wa ‘ala membongkar kedok mereka,

“إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ”

Artinya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (wahai Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah utusan Allah”. Allah mengetahui bahwasanya engkau adalah benar-benar utusan-Nya, dan Allah juga mengetahui bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta”. QS. Al-Munafiqun (63): 1.

Semoga kita semua termasuk golongan yang beriman, bukan orang yang munafik.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182-183). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Ramadhan 1434 / 22 Juli 2013

Syarat-syarat La ILaha Illallah (bagian 4)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketiga: Ikhlas dalam mengucapkan dan mempraktekkan La ilaha illallah

Ikhlas berarti murni. Seorang hamba tertuntut untuk memurnikan niatnya hanya untuk Allah semata saat ia mengucapkan kalimat tahlil. Begitu pula ketika mempraktekkan kalimat mulia ini, dia harus ikhlas. Dalam arti memurnikan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah ta’ala saja.
Allah ta’ala berfirman,

“فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ . أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ”.

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)”. QS. Az-Zumar (39): 2-3.
Lihat pula QS. Az-Zumar (39): 11 dan 14.

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟” فَقَالَ: “لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ؛ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ. أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ”.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia meraih syafa’atmu pada hari kiamat?”. Beliau menjawab, “Aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang mendahuluimu bertanya kepadaku tentang hal ini. Karena aku tahu persis semangatmu untuk mempelajari hadits. Orang yang paling berbahagia untuk meraih syafa’atku pada hari kiamat, adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah, dengan penuh keikhlasan dari dirinya”. HR. Bukhari.

Maka seorang insan wajib untuk membersihkan seluruh ibadahnya dari syirik, besar maupun kecil. Dia tidak menyembah selain Allah, siapapun dan apapun itu. Dia tidak menyembah malaikat, nabi, wali, kyai ataupun jin. Ia juga tidak menyembah batu, pohon, keris maupun kuburan. Namun yang ia sembah hanyalah Allah ta’ala semata.

Saat beribadah kepada Allah pun, seorang muslim tidak mengotori ibadahnya dengan noda riya’. Ia beribadah semata-mata karena mengharap ridha Allah saja. Inilah makna ikhlas dalam berkalimat tahlil.

Karenanya, jangan sampai praktek keseharian seseorang bertolak belakang dengan kalimat yang diucapkannya dengan lisan. Lisannya rajin melantunkan tahlil, tapi perilakunya masih dipenuhi dengan kesyirikan. Na’udzubillah min dzalik!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1434 / 27 Mei 2013

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182). ]