Syarat-syarat La Ilaha Illallah (bagian 6)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Kelima: Mencintai La ilaha illallah dengan sepenuh hati

Maksudnya mencintai kalimat ini dan apa yang dikandungnya. Jika seorang hamba telah mencintai kalimat ini, maka ia akan rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi mempertahankan kalimat ini.

Konsekwensi kecintaan di atas, ia juga akan mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihiwasallam, mencintai amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, serta mencintai orang-orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman,

“وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ”

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. QS. Al-Baqarah (2): 165.

Dari Anas Bin Malik radiyallahu‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu‘alaihiwassalam bersabda,

“ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ؛ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ”.

”Ada tiga karakter yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. (1) Allah dan Rasul Nya lebih dicintai dari selain keduanya. (2) Ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. (3) Membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana kebenciannya jika dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga mengikuti Rasul shallallahu‘alaihiwasallam, mencocoki jalan hidupnya serta menerima petunjuknya.

Kecintaan di atas tidak akan sempurna melainkan dengan merealisasikan kebalikannya. Yakni dengan membenci segala sesuatu yang bertentangan dengan La ilaha illallah , membenci semua amalan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, serta membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

” إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ “

“Sesungguhnya simpul keimanan yang paling kuat adalah: engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah”. HR. Ahmad dari al-Barâ’ bin ‘Azib dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/183) dengan berbagai tambahan. ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Syawal 1434 / 12 Agustus 2013