10 penyelamat muslim dari pengaruh kedengkian manusia

Ustadz Djazuli, Lc حفظه الله تعالى

1. Banyak berlindung kepada Allah dgn banyak berta’awudz seperti ucapan “audzu billah minasyaitanirajim”.

2. Berupaya untuk selalu menjalankan perintah Allah & meninggalkan larangan-Nya (taqwa).

3. Banyak bersabar, yaitu dengan tidak membalas keburukan dgn keburukan.

4. Banyak bertawakkal kepada Allah.

5. Berupaya untuk selalu khusyu’ pada setiap ibadah.

6. Berusaha untuk senantiasa berorientasi kepada akhirat pada setiap amal.

7. Bertaubat kepada Allah & banyak beristighfar.

8. Bersedekah dan memperbanyak kebaikan.

9. Berbuat baik kepada orang yg berindikasi menyimpan kedengkian.

10.Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, dengan keyakinan bahwa semua kejadian di Dunia tidak akan terjadi tanpa izin dari Allah.

Dinukil dari “Fawaid tata’allaqu biasma wasifat” karya ibnul Qoyyim. Semoga bermanfaat!

Bagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan (2)

3. Sedekah

Sedekah pada bulan Ramadhan, sangat dianjurkan. Sebagaimana sabda Nabi dari sahabat Anas bin Malik : “Seutama sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan..” (HR. Tirmidzi)

Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya berkata, aku mendengar Umar bin Khotob berkata : Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah dari harta yang kita miliki, maka aku berkata : aku akan megungguli Abu Bakar pada hari ini, maka aku membawa setengah hartaku untuk disedekahkan, mak Nabi berkata kepadaku : Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Aku menjawab : Yang semisal dengannya (sebesar apa yang telah aku sedekahkan). Kemudian datanglah Abu Bakar membawa seluruh hartanya maka berkata Nabi : Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Maka Abu Bakar menjawab : Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasulnya, Maka aku berkata : Aku tidak dapat mendahului Abu Bakar selamanya.

Wahai saudaraku, sedekah pada bulan Ramadhan mempunyai keuntungan dan kekhususan maka hendaknya bersegera dalam melakukannya, dalam segala kondisi baik lapang maupun sempit.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 261, Allah berfirman :

ثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

yang artinya :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Adapun bentuk dari sedekah ini, ada beberapa macam, antara lain :

  1. Memberikan makanan.

Dalam surat Al-Insan ayat 8-12, Allah berfirman yang artinya :

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.  Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.  Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.  Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.  Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,”

Sesungguhnya para salafush sholeh bersemangat dalam memberikan makanan kepada orang lain dan mendahulukan amalan tersebut dibandingkan dengan amalan lainnya. Baik itu kepada orang yang berkecukupan atau yang tidak, dan tidak mensyaratkan makanan tersebut hanya untuk orang miskin saja.

Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi dan di shahihkan oleh Al-Albani).

Dan kebanyakan para salaf, mereka lebih memberikan sarapannya kepada orang lain dan mereka berpuasa, diantaranya adalah Abdullah bin Umar, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal.

Dan Abdullah bin Umar tidaklah dia berbuka kecuali bersama orang yatim dan miskin, dan kadang keluarganya mengetahui dia belum berbuka pada malam itu. Dan adalah para salaf memberikan makanannya dan dia berpuasa dan duduk bersama pembantunya serta menjamu mereka, seperti Hasan al-Bashri dan Ibnul Mubarak.

Dengan memberikan makanan kepada orang lain tersebut akan menumbuhkan ibadah lain yang lebih banyak : antara lain adanya aksih saying, rasa cinta kepada saudaranya yang lain, dan memberikan makanan tersebut menjadi sebab dimasukkan ke dalam surga.

Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai”.

Read moreBagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan (2)

Bagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan ? (1)

Bulan Ramadhan merupakan nikmat yang besar, yang Allah berikan kepada kaum muslimin. Karena waktu itu adalah waktu yang penuh berkah, yang kebanyakan umumnya kaum muslimin kembali kepada ketaatan kepada-Nya setelah sebelumnya melakukan maksiat, kembali berdzikir mengingat Allah setelah sebelumnya dalam kelalaian. (Majelis Syahri Ramadhan hal 13, Syaikh Utsaimin rahimahullah)

Allah mengkhususkan bulan Ramadhan di bandingkan dengan bulan lainnya dengan banyak keutamaan, antara lain :

  1. Allah mewajibkan berpuasa, yang tidak diperintahkan pada bulan-bulan yang lainnya.
  2. Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi dari minyak kasturi.
  3. Para malaikat mendoakan bagi orang yang berpuasa sampai dia berbuka.
  4. Para syaitan di belenggu.
  5. Di buka pintu-pintu surga dan di tutup pintu-pintu neraka.
  6. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Qodar.
  7. Di ampuninya orang-orang yang berpuasa sampai akhir malam pada setiap hari dibulan Ramadhan.
  8. Allah membebaskan dari api neraka, dan itu terjadi pada setiap malam di hari Ramadhan.

Sebegitu banyaknya kekhususan yang ada di bulan Ramadhan, apakah akan kita lewatkan begitu saja? Para salafuna sholeh, orang yang senantiasa bersemangat dalam meraih dan mendapatkan kebaikan, merupakan golongan yang patut kita bercermin pada mereka, bagaimana mereka melewatkan waktu-waktu mulia di bulan Ramadhan, untuk meraup banyak pahala di dalamnya.

Dengan kekhususan yang begitu banyak, sampai para salafus sholeh berdoa agar mereka disampaikan pada bulan Ramadhan.

Berkata Mualla bin Fadhal rahimahullah : ”Adalah para salafush sholeh mereka berdoa kepada Allah 6 bulan sebelumnya untuk dapat bertemu dengan bulan Ramadhan, dan 6 bulan setelahnya meminta kepada Allah agar diterima amalnya”. (Lathoiful Maarif hal.129)

Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata : Dan doa dari mereka (para salaf) adalah : Ya Allah, sampaikan aku ke Ramadhan, dan sampaikan padaku Ramadhan dan terimalah dariku amal ibadahku”. (Lathoiful Maarif hal 129)

Berikut ini beberapa amalan serta kegiatan yang hendaknya kita lakukan dalam bulan Ramadhan, antara lain :

Read moreBagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan ? (1)

Mereka, orang-orang yang tidak ada rasa takut dan rasa sedih..

  1. قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 38)

2. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 62)

3. بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 112)

4. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al-Baqarah ayat 262)

Read moreMereka, orang-orang yang tidak ada rasa takut dan rasa sedih..

Nikmat itu..

Nikmat itu… ketika engkau beriman kepada Allah dan segala yang datang dari-Nya, lalu engkau mengamalkan konsekuensinya.

Nikmat itu… ketika engkau diberi mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lengkap lainnya, lalu engkau menggunakannya untuk beribadah kepada-Nya, untuk mengerjakan kebaikan.

Nikmat itu… ketika engkau masih diberikan waktu untuk menuntut ilmu di sela-sela hari padatmu, lalu engkau mengamalkan pesan-pesan yang engkau tulis atau tangkap dalam benakmu.

Nikmat itu… ketika engkau diberikan pemahaman yang benar, tidak neko-neko, apalagi sampai nyeleneh berpendapat yang aneh-aneh.

Nikmat itu… ketika engkau diberi taufik dan kemudahan oleh Allah untuk tunduk dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Read moreNikmat itu..