Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 8)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketujuh: Patuh

Maksudnya adalah tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat mulia tersebut. Allah ta’ala berfirman,

“وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ”

Artinya: “Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong”. QS. Az-Zumar (39): 54.

Ikrar syahadat harus diikuti dengan sikap tunduk dan patuh terhadap kandungan maknanya dan tidak mengabaikan maksud kalimat syahadat tersebut. Sikap membangkang dan tidak mau tunduk terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya menjadikan ikrar tersebut tidak bermakna. Sesungguhnya makna Islam itu sendiri ketundukan, di mana seseorang yang masuk Islam diharapkan memiliki sikap tunduk dan patuh terhadap segala aturan yang ada di dalamnya. Allah ta’ala berfirman,

“وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ”

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya dibanding orang yang menyerahkan wajahnya kepada Allah dan dia adalah orang yang mengerjakan kebajikan”. QS. An-Nisa’(4): 125.

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan konsekuensi keimanan, yang berupa ketundukan sikap tanpa keberatan.

“فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا”

Artinya: “Maka demi Rabbmu, pada hakikatnya mereka itu tidak beriman sebelum menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak mendapati sesuatu keberatanpun di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, lalu mereka menerima sepenuhnya.” QS. An-Nisa’ (4): 65.

Maka seorang muslim sejati saat mengucapkan kalimat la ilaha illallah, ia akan dengan sepenuh hati patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam, terutama yang hukumnya wajib. Sebab manusia merupakan hamba bagi
Rabbnya, sehingga apapun yang diperintahkan oleh-Nya harus dipatuhi, apalagi bila perintah itu bersifat wajib.
Jika itu tidak ditaati maka bersiaplah untuk ditimpa azab yang pedih.

“فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ”

Artinya: Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. QS. An-Nur (24): 63.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Dzulqa’dah 1434 / 9 September 2013

[Disusun oleh Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA dari berbagai referensi. ]

Syarat-syarat La Ilaha illallah (bagian 7)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keenam: Menerima segala konsekwensi La ilaha illallah
Penerimaan ini akan menggerakkan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh untuk menjalankan ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala.

Di dalam al-Qur’an telah diceritakan akibat yang akan dirasakan oleh orang-orang yang enggan menerima konsekwensi dari kalimat mulia ini dan menolak ajaran agama:

“وَكَذَلكَ مَا أَرْسَلنَا مِنْ قَبْلكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَال مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا على أُمَّةٍ وَإِنَّا على آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ . قَال أَوَلوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَي مِمَّا وَجَدْتُمْ عَليْهِ آبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلتُمْ بِهِ كَافِرُونَ . فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُكَذِّبِينَ”.

Artinya: “Demikian juga ketika kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelummu (wahai Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (keyakinan) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata, “Apakah (kalian akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa untukmu (keyakinan) yang lebih baik daripada apa yang kalian peroleh dari (keyakinan) yang dianut nenek moyangmu?”. Mereka menjawab, “Sungguh kami mengingkari (keyakinan) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya”. Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran)”. QS. Az-Zukhruf (43): 23-25.

Penerimaan secara total terhadap kalimat ini menuntut kita untuk senantiasa merasa ridha dengan Allah ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai nabi kita.

Segala bentuk keridhaan tersebut di atas tentu bukan hanya terucap di lisan belaka, namun harus diiringi dengan pembuktian yang nyata.

Keridhaan kita dengan Allah sebagai Rabb kita dibuktikan dengan kelapangan dada kita dalam menerima setiap apa yang ditakdirkan oleh-Nya berupa ujian dan cobaan, serta mensyukuri setiap nikmat yang dikaruniakan-Nya.

Adapun keridhaan kita dengan Islam sebagai agama, maka pembuktiannya adalah dengan tunduk terhadap setiap perintah agama, serta membenci apapun yang dibenci aturan agama. Juga menjadikan ajaran Islam ini sebagai pedoman hidup kita.

Sedangkan rasa ridha terhadap Muhammad shallallahu’alaihiwasallam sebagai Nabi kita, pembuktiaannya adalah dengan tidak membuat amalan-amalan yang menyelisihi tuntunan beliau. Juga menjalankan perintah beliau serta menjauhi larangannya.

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 19 Syawal 1434 / 26 Agustus 2013

[Diringkas dan terjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari makalah di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=269917. ]

Syarat-syarat La Ilaha Illallah (bagian 6)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Kelima: Mencintai La ilaha illallah dengan sepenuh hati

Maksudnya mencintai kalimat ini dan apa yang dikandungnya. Jika seorang hamba telah mencintai kalimat ini, maka ia akan rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi mempertahankan kalimat ini.

Konsekwensi kecintaan di atas, ia juga akan mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihiwasallam, mencintai amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, serta mencintai orang-orang yang beriman.

Allah ta’ala berfirman,

“وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ”

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. QS. Al-Baqarah (2): 165.

Dari Anas Bin Malik radiyallahu‘anhu berkata, Rasulullah shalallahu‘alaihiwassalam bersabda,

“ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ؛ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ”.

”Ada tiga karakter yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman. (1) Allah dan Rasul Nya lebih dicintai dari selain keduanya. (2) Ia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah. (3) Membenci kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana kebenciannya jika dimasukkan ke dalam neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.

Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga mengikuti Rasul shallallahu‘alaihiwasallam, mencocoki jalan hidupnya serta menerima petunjuknya.

Kecintaan di atas tidak akan sempurna melainkan dengan merealisasikan kebalikannya. Yakni dengan membenci segala sesuatu yang bertentangan dengan La ilaha illallah , membenci semua amalan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, serta membenci orang-orang yang membenci Allah dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

” إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ “

“Sesungguhnya simpul keimanan yang paling kuat adalah: engkau mencintai karena Allah dan membenci juga karena Allah”. HR. Ahmad dari al-Barâ’ bin ‘Azib dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/183) dengan berbagai tambahan. ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Syawal 1434 / 12 Agustus 2013

Syarat-syarat La ilaha illallah (5)

S

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Keempat: Jujur dalam mengucapkan dan mempraktekkan
La ilaha illallah

Jujur berarti selaras antara ucapan dengan isi hati. Kebalikannya adalah dusta.

Allah ta’ala menginginkan para hamba-Nya agar mereka berlaku jujur dalam segala sesuatu, terlebih dalam mengucapkan kalimat mulia ini. Antara kalimat yang terucap di lisan dengan keyakinan yang ada di dalam hati, haruslah selaras.

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan tujuan dari berbagai ujian dalam kehidupan ini,

“الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ”

Artinya: “Alif Lâm Mîm. Apakah para manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”. QS. Al-‘Ankabut (29): 1-3.

Secara spesifik Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan keharusan jujur dalam mengucapkan kalimat mulia ini, dalam sabdanya,

“مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ؛ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ”

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dengan kejujuran dari hatinya; melainkan Allah pasti akan mengharamkannya dari api neraka”. HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz.

Inilah sifat orang yang beriman; jujur dalam perkataan dan perbuatan. Adapun kaum munafikin, maka kedustaanlah yang mendominasi kehidupan mereka.

Allah jalla wa ‘ala membongkar kedok mereka,

“إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ”

Artinya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (wahai Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah utusan Allah”. Allah mengetahui bahwasanya engkau adalah benar-benar utusan-Nya, dan Allah juga mengetahui bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta”. QS. Al-Munafiqun (63): 1.

Semoga kita semua termasuk golongan yang beriman, bukan orang yang munafik.

[Diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkar” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182-183). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 13 Ramadhan 1434 / 22 Juli 2013

Syarat-syarat La ILaha Illallah (bagian 4)

Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tiba saatnya penjabaran masing-masing syarat tersebut.

Syarat Ketiga: Ikhlas dalam mengucapkan dan mempraktekkan La ilaha illallah

Ikhlas berarti murni. Seorang hamba tertuntut untuk memurnikan niatnya hanya untuk Allah semata saat ia mengucapkan kalimat tahlil. Begitu pula ketika mempraktekkan kalimat mulia ini, dia harus ikhlas. Dalam arti memurnikan seluruh ibadahnya hanya untuk Allah ta’ala saja.
Allah ta’ala berfirman,

“فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ . أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ”.

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)”. QS. Az-Zumar (39): 2-3.
Lihat pula QS. Az-Zumar (39): 11 dan 14.

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟” فَقَالَ: “لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ؛ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ. أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ”.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia meraih syafa’atmu pada hari kiamat?”. Beliau menjawab, “Aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang mendahuluimu bertanya kepadaku tentang hal ini. Karena aku tahu persis semangatmu untuk mempelajari hadits. Orang yang paling berbahagia untuk meraih syafa’atku pada hari kiamat, adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah, dengan penuh keikhlasan dari dirinya”. HR. Bukhari.

Maka seorang insan wajib untuk membersihkan seluruh ibadahnya dari syirik, besar maupun kecil. Dia tidak menyembah selain Allah, siapapun dan apapun itu. Dia tidak menyembah malaikat, nabi, wali, kyai ataupun jin. Ia juga tidak menyembah batu, pohon, keris maupun kuburan. Namun yang ia sembah hanyalah Allah ta’ala semata.

Saat beribadah kepada Allah pun, seorang muslim tidak mengotori ibadahnya dengan noda riya’. Ia beribadah semata-mata karena mengharap ridha Allah saja. Inilah makna ikhlas dalam berkalimat tahlil.

Karenanya, jangan sampai praktek keseharian seseorang bertolak belakang dengan kalimat yang diucapkannya dengan lisan. Lisannya rajin melantunkan tahlil, tapi perilakunya masih dipenuhi dengan kesyirikan. Na’udzubillah min dzalik!

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 17 Rajab 1434 / 27 Mei 2013

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/182). ]

Syarat-syarat La ilaha Illallah (bagian 2)


Sebagaimana telah dijelaskan pada pertemuan yang lalu, bahwa kalimat La ilaha illallah supaya menghasilkan buah yang diinginkan, haruslah dipenuhi syarat-syaratnya. Secara global syarat-syarat tersebut telah dipaparkan. Tibalah saatnya penjabaran masing-masing dari syarat tersebut.

Syarat Pertama: Memahami makna La ilaha illallah

Syarat pertama ini amat penting sebab merupakan pondasi dari syarat-syarat berikutnya. Bagaimana mungkin seorang hamba akan benar mempraktekkan kalimat ini, jika ia belum paham makna kalimat tersebut?

Allah ta’ala memerintahkan,

“فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ”.

Artinya: “Ketahuilah (pahamilah) bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah”. QS. Muhammad (47): 19.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga bersabda,

“مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ”.

“Barang siapa yang meninggal dalam keadaan ia mengetahui (memahami) La ilaha illallah; maka ia akan masuk surga”. HR. Muslim dari Utsman radhiyallahu’anhu.

Maka seorang muslim tertuntut untuk mempelajari dengan benar makna kalimat mulia ini. Supaya kalimat tersebut tidak sekedar menjadi ‘lipstik’ penghias bibir belaka, tanpa merasuk ke dalam hati.

Kalimat La ilaha illallah terdiri dari dua bagian.
Pertama: La ilaha (tidak ada sesembahan yang berhak disembah).

Kedua: illallah (kecuali Allah).

Bagian pertama menjelaskan kewajiban untuk berlepas diri dari segala sesembahan selain Allah, apapun itu.
Adapun bagian kedua mengandung makna perintah untuk mempersembahkan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata.

Jadi, inti dari kalimat Lâ ilâha illallâh adalah perintah untuk mengikhlaskan seluruh ibadah kita hanya untuk Allah saja. Apapun bentuk ibadah tersebut. Entah itu shalat, puasa, zakat, haji, kurban, doa dan lain-lain.

Siapapun yang menujukan ibadah itu untuk selain Allah, berarti ia telah menyalahi kalimat La ilaha illallah yang ia ucapkan dengan lisannya. Maka waspadalah!

[Disarikan dan diterjemahkan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/180-181). ]

Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 5 Jumada Tsaniyah 1434 / 15 April 2013

10 penyelamat muslim dari pengaruh kedengkian manusia

Ustadz Djazuli, Lc حفظه الله تعالى

1. Banyak berlindung kepada Allah dgn banyak berta’awudz seperti ucapan “audzu billah minasyaitanirajim”.

2. Berupaya untuk selalu menjalankan perintah Allah & meninggalkan larangan-Nya (taqwa).

3. Banyak bersabar, yaitu dengan tidak membalas keburukan dgn keburukan.

4. Banyak bertawakkal kepada Allah.

5. Berupaya untuk selalu khusyu’ pada setiap ibadah.

6. Berusaha untuk senantiasa berorientasi kepada akhirat pada setiap amal.

7. Bertaubat kepada Allah & banyak beristighfar.

8. Bersedekah dan memperbanyak kebaikan.

9. Berbuat baik kepada orang yg berindikasi menyimpan kedengkian.

10.Berserah diri kepada Allah dengan tauhid, dengan keyakinan bahwa semua kejadian di Dunia tidak akan terjadi tanpa izin dari Allah.

Dinukil dari “Fawaid tata’allaqu biasma wasifat” karya ibnul Qoyyim. Semoga bermanfaat!

Agar Hidup Anda Terarah dan Tak Goyah

oleh : Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

1. Bahwa tujuan UTAMA hidup Anda adalah untuk BERIBADAH kepada Allah, yakni mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, dengan menerapkan sunnah dan menjauhi bid’ah.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, hidup kita akan sangat terarah dan terfokus pada satu tujuan utama, hingga kita tidak akan bingung memilih pilihan hidup mana yang kita kedepankan.

Dengannya pula kita akan berusaha menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, sehingga kita akan tulus menjalaninya tanpa pamrih, karena SEMUANYA akan dibalas oleh Allah yang maha mensyukuri amal para hamba-Nya.

2. Bahwa semuanya telah DITAKDIRKAN.

Dengan menyadarkan diri pada hal ini, kita akan TENANG dalam menjalani hidup, karena kita yakin rezeki yang menjadi bagian kita tidak akan bertambah maupun berkurang.

Dengannya juga, kita akan mantap untuk memilih jalan rezeki yang halal, karena hasilnya akan sama saja, baik kita memilih jalan yang haram maupun jalan yang halal.

3. Bahwa kita diperintah untuk BERUSAHA semampu kita, dan sesuai aturan syariat.

Dengan ini kita akan memahami, mengapa kita harus bekerja, padahal semua sudah ditakdirkan ?!

Jawabannya, karena kita DIPERINTAH untuk berusaha dan beramal, sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
“LAKUKANLAH amalan/pekerjaan, maka semua orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang menjadi tujuan dia diciptakan !”

4. Dalam melakukan usaha itu, pastinya ada cobaan dan rintangan… maka hadapilah dengan firman Allah ta’ala:

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal (sebenarnya) itu lebih baik bagimu” [QS. Albaqoroh: 216].

“Bisa saja kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya”. [QS. Annisa’: 19]

5. Banyaklah berdo’a, lalu yakinlah akan janji Allah bahwa Dia akan memuliakan dan memantaskan kehidupan orang yang beriman dan beramal saleh.

“Barangsiapa yang beramal saleh dalam keadaan beriman, baik dia pria maupun wanita, maka Allah sungguh benar-benar akan memberinya KEHIDUPAN yang baik/mulia”. [QS. An-Nahl: 97]

Semoga bermafaat…

Menganggap Diri Suci

oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz حفظه الله تعالى

Sering kita mendengar orang menceritakan kebaikan dirinya atau bahkan mungkin pelakunya adalah diri kita sendiri. Apakah ini tindakan terpuji atau tercela?

Orang yang menceritakan tentang kebaikan dirinya bisa jadi karena ingin menceritakan nikmat Allah yang ia peroleh dan untuk memotivasi orang lain agar mengikutinya maka ini merupakan tujuan terpuji.

Allah berfirman yang artinya,

“Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Surat Adh Dhuha:11)

Ada juga orang yang menceritakan kebaikan dirinya untuk amar makruf nahi mungkar, memberi nasehat, menghindarkan dari suatu kerugian atau bahaya, untuk meyakinkan bahwa ia mampu menunaikan amanat yang akan ia tunaikan maka hal ini merupakan perbuatan terpuji.

Seperti Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Saya yang paling mengenal Allah diantara kalian dan saya orang yang paling bertakwa diantara kalian…”

Jika ia menceritakan kebaikan dan memuji dirinya karena menganggap diri suci dan pamer kepada orang lain untuk kebanggaan maka perbuatan ini berbahaya karena dapat mengakibatkan terhapusnya amal kebaikan tersebut.

Read moreMenganggap Diri Suci

Antara Rayuan dan Ancaman

oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz حفظه الله تعالى

Seorang budak hitam bernama Bilal masuk Islam dan akhirnya diketahui oleh tuannya yang bernama Umayyah bin Khalaf. Tuannya berusaha merayu agar Bilal kembali ke agama nenek moyang mereka. Setelah gagal, tuannya mengancamnya dengan berbagai ancaman bahkan menyiksanya. Bilal radhiallahu anhu tetap istiqamah di atas tauhid dan Islam.

Itulah liku-liku kehidupan, manusia dihadapkan rayuan dan tekanan dalam mengarungi kehidupan ini. Barangsiapa yang lemah atas ajakan hawa nafsu dan setan dari jenis jin dan manusia, maka dia akan terjatuh dan gagal untuk istiqamah.

يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك

“Wahai Allah Yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hati-hati kami di atas dien (agama) Mu.”