Bagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan (2)

3. Sedekah

Sedekah pada bulan Ramadhan, sangat dianjurkan. Sebagaimana sabda Nabi dari sahabat Anas bin Malik : “Seutama sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan..” (HR. Tirmidzi)

Dari Zaid bin Aslam, dari bapaknya berkata, aku mendengar Umar bin Khotob berkata : Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah dari harta yang kita miliki, maka aku berkata : aku akan megungguli Abu Bakar pada hari ini, maka aku membawa setengah hartaku untuk disedekahkan, mak Nabi berkata kepadaku : Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Aku menjawab : Yang semisal dengannya (sebesar apa yang telah aku sedekahkan). Kemudian datanglah Abu Bakar membawa seluruh hartanya maka berkata Nabi : Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Maka Abu Bakar menjawab : Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasulnya, Maka aku berkata : Aku tidak dapat mendahului Abu Bakar selamanya.

Wahai saudaraku, sedekah pada bulan Ramadhan mempunyai keuntungan dan kekhususan maka hendaknya bersegera dalam melakukannya, dalam segala kondisi baik lapang maupun sempit.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 261, Allah berfirman :

ثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.

yang artinya :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Adapun bentuk dari sedekah ini, ada beberapa macam, antara lain :

  1. Memberikan makanan.

Dalam surat Al-Insan ayat 8-12, Allah berfirman yang artinya :

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.  Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.  Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.  Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.  Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,”

Sesungguhnya para salafush sholeh bersemangat dalam memberikan makanan kepada orang lain dan mendahulukan amalan tersebut dibandingkan dengan amalan lainnya. Baik itu kepada orang yang berkecukupan atau yang tidak, dan tidak mensyaratkan makanan tersebut hanya untuk orang miskin saja.

Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi dan di shahihkan oleh Al-Albani).

Dan kebanyakan para salaf, mereka lebih memberikan sarapannya kepada orang lain dan mereka berpuasa, diantaranya adalah Abdullah bin Umar, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal.

Dan Abdullah bin Umar tidaklah dia berbuka kecuali bersama orang yatim dan miskin, dan kadang keluarganya mengetahui dia belum berbuka pada malam itu. Dan adalah para salaf memberikan makanannya dan dia berpuasa dan duduk bersama pembantunya serta menjamu mereka, seperti Hasan al-Bashri dan Ibnul Mubarak.

Dengan memberikan makanan kepada orang lain tersebut akan menumbuhkan ibadah lain yang lebih banyak : antara lain adanya aksih saying, rasa cinta kepada saudaranya yang lain, dan memberikan makanan tersebut menjadi sebab dimasukkan ke dalam surga.

Nabi sholallahu alaihi wassalam bersabda : “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai”.

Read moreBagaimana Salafush Sholeh di bulan Ramadhan (2)